DOHA — Kepala Hamas yang baru terpilih, Khalil al-Hayya, pada Rabu (22/7) memaparkan enam prioritas utama kelompok Palestina tersebut, dengan menempatkan penghentian menyeluruh ofensif militer Israel di Gaza serta penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah kantong itu sebagai agenda utama, lapor Anadolu.
Dalam pidato pertamanya yang disiarkan melalui televisi sejak menjabat, Hayya menyerukan kepada negara-negara mediator perundingan gencatan senjata agar menekan pemerintah Israel untuk melaksanakan kesepakatan yang telah ada dan melanjutkan ke tahap berikutnya dalam proses tersebut.
Ia mengatakan prioritas kedua Hamas adalah memulihkan “kondisi kehidupan yang bermartabat bagi warga Palestina di Gaza, menggagalkan rencana pengusiran paksa, mempercepat upaya rekonstruksi, dan memastikan pembebasan para tahanan.”
Prioritas ketiga, katanya, adalah mewujudkan persatuan Palestina melalui peluncuran dialog nasional segera guna membangun kembali lembaga-lembaga Palestina, khususnya Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), berdasarkan apa yang ia sebut sebagai landasan yang demokratis dan berdasarkan kesepakatan bersama.
Hayya mengatakan prioritas keempat adalah memperkuat hubungan Hamas dengan negara-negara Arab dan Muslim.
Prioritas kelima, lanjutnya, adalah menggalang negara-negara Arab dan Muslim agar mengambil langkah yang efektif serta meningkatkan tekanan untuk menghentikan “mesin pembunuhan dan genosida” Israel terhadap warga Palestina di Gaza, sekaligus mendukung hak-hak rakyat Palestina.
Ia mengatakan prioritas keenam adalah mendesak masyarakat internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melindungi rakyat Palestina dan meminta pertanggungjawaban “para penjahat perang” Israel.
Pada Senin, Hamas mengumumkan terpilihnya Hayya sebagai kepala biro politik organisasi tersebut, menggantikan Yahya Sinwar, yang tewas dalam bentrokan dengan pasukan Israel di Kota Rafah, Gaza selatan, pada Oktober 2024.
Militer Israel melancarkan ofensif besar-besaran di Gaza pada Oktober 2023 yang menewaskan lebih dari 73.000 orang, melukai hampir 174.000 lainnya, serta menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza sebelum gencatan senjata tercapai pada Oktober 2025.


