JENEWA — Komisi Penyelidikan Independen PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki menyatakan Israel terus melakukan “tindakan genosida” terhadap warga Palestina di Gaza, meskipun gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat telah berlaku sejak Oktober 2025. Laporan itu dipublikasikan pada Senin (26/10/2026), sehari sebelum pemilu umum Israel. Pemerintah Israel menolak seluruh temuan tersebut.
Komisi beranggotakan tiga orang itu dibentuk Dewan HAM PBB pada 2021 dan tidak berbicara atas nama PBB secara keseluruhan. Pada September 2025, komisi ini pertama kali menyimpulkan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza, kesimpulan yang juga ditolak Israel. Laporan terbaru mencakup periode 7 Oktober 2023 hingga September 2026.
Temuan soal Gaza
Menurut komisi, selama masa gencatan senjata pasukan Israel tetap menggunakan munisi berat dan tidak terarah di kawasan padat penduduk, selain drone, quadcopter, dan tembakan penembak jitu.
Komisi juga menyoroti “Garis Kuning”, garis demarkasi yang semula bersifat sementara ketika gencatan senjata dimulai. Menurut laporan, garis itu kini menjadi perbatasan de facto yang terus bergeser. Wilayah di bawah kendali Israel disebut telah meluas hingga sedikitnya 60 persen wilayah Gaza.
Ketua komisi, Srinivasan Muralidhar, mengatakan perluasan kendali wilayah tersebut terus menyebabkan warga sipil Palestina yang mendekati atau melintasi Garis Kuning terbunuh atau terluka.
Laporan yang sama menyimpulkan bahwa di Tepi Barat Israel melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk pemusnahan, penyiksaan, dan kekerasan seksual. Komisi juga mencatat bahwa aparat keamanan Otoritas Palestina menarget warga yang menyuarakan perbedaan pendapat.
Reaksi Israel dan Hamas
Kementerian Luar Negeri Israel, lewat akunnya di platform X pada Senin, menyebut laporan itu “dokumen propaganda yang terlepas dari kenyataan”. Misi Israel di Jenewa menilai laporan tersebut bagian dari kampanye disinformasi komisi dan menuntut komisi dibubarkan.
Hamas, dalam pernyataan pada hari yang sama, menyambut laporan itu. Kelompok tersebut mendesak PBB dan komunitas internasional menjalankan rekomendasi komisi serta memastikan pertanggungjawaban hukum.
Kondisi di lapangan
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan pada Selasa pagi (27/10) bahwa korban tewas sejak 7 Oktober 2023 mencapai 74.561 orang dan korban luka 175.759 orang. Sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025, tercatat 1.565 orang tewas dan 5.640 terluka.
Kementerian itu berada di bawah pemerintahan yang dikuasai Hamas, dan PBB menilai angkanya dapat diandalkan. Data tersebut tidak membedakan warga sipil dan kombatan.
Pada Senin, serangan udara Israel terhadap kamp pengungsi di kawasan Al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis, menewaskan sedikitnya tiga orang, termasuk seorang anak perempuan. Rumah Sakit Nasser mengonfirmasi ketiga kematian itu, kata juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Bassal, kepada kantor berita AFP. Kementerian Pendidikan Gaza menyebut usia anak itu tujuh tahun. Militer Israel mengatakan sedang memeriksa laporan tersebut.


