Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina, termasuk Yerusalem Timur dan Israel, merilis laporan setebal 88 halaman yang menyimpulkan bahwa pasukan Israel secara sengaja menjadikan anak-anak Palestina sebagai sasaran dalam operasi militernya di Gaza sejak 7 Oktober 2023.
Laporan tersebut meneliti berbagai bentuk kekerasan terhadap anak-anak, mulai dari penembakan menggunakan penembak jitu (sniper) dan drone, penyiksaan di pusat penahanan, kekerasan terhadap kesehatan reproduksi, hingga penghancuran sekolah dan rumah sakit.
Ketua komisi, Srinivasan Muralidhar, menyatakan bukti yang dikumpulkan menunjukkan bahwa anak-anak Palestina sengaja menjadi target pasukan keamanan Israel. Menurutnya, bahkan setelah gencatan senjata Oktober 2025, anak-anak Palestina masih terus terbunuh dan mengalami luka berat.
Korban Anak-anak
Laporan mencatat bahwa antara 7 Oktober 2023 hingga 7 Oktober 2025 sedikitnya 20.179 anak Palestina terbunuh di Gaza dan 44.143 lainnya terluka.
Di antara korban tewas tersebut terdapat lebih dari 5.000 anak berusia di bawah lima tahun, termasuk lebih dari 1.000 bayi berusia kurang dari satu tahun dan sekitar 420 bayi baru lahir.
Selain itu diperkirakan sekitar 5.160 anak masih tertimbun reruntuhan bangunan.
Penembakan yang Disengaja
Komisi menemukan pola penembakan terhadap anak-anak menggunakan senjata presisi seperti sniper dan drone quadcopter.
Sejumlah dokter dari berbagai rumah sakit di Gaza melaporkan banyak anak mengalami satu luka tembak di kepala atau tubuh bagian atas.
Laporan juga mendokumentasikan beberapa kasus, di antaranya:
* Hind Rajab (5 tahun) yang ditembak hingga tewas bersama enam anggota keluarganya.
* Seorang remaja 15 tahun ditembak saat membawa bendera putih setelah mengikuti perintah evakuasi.
* Bayi berusia 10 hari ditembak di kepala saat sedang disusui ibunya di dalam tenda.
* Anak perempuan berusia empat tahun ditembak saat makan bersama keluarganya hingga mengalami kelumpuhan.
* Anak laki-laki delapan tahun ditembak saat bermain di kamp pengungsi.
Komisi menyatakan terdapat dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa penembakan tersebut dilakukan secara sengaja.
Anak-anak Ditembak Saat Mengambil Bantuan
Sejak Mei 2025, komisi menerima laporan mengenai anak-anak yang ditembak di sekitar lokasi distribusi bantuan kemanusiaan di Gaza.
Beberapa tenaga medis menyatakan mereka merawat anak-anak yang mengalami luka tembak setelah berada di lokasi pembagian bantuan.
Korban Setelah Gencatan Senjata
Komisi menyebut lebih dari 100 anak tetap terbunuh setelah gencatan senjata Oktober 2025.
Salah satu kasus yang disorot adalah dua bersaudara berusia sembilan dan sepuluh tahun yang tewas akibat serangan drone ketika sedang mengumpulkan kayu bakar untuk ayah mereka yang menggunakan kursi roda.
Situasi di Tepi Barat
Di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, sedikitnya 213 anak Palestina dilaporkan tewas. Komisi menyimpulkan bahwa anak laki-laki Palestina secara sistematis diperlakukan sebagai “teroris” atau “calon teroris”.
Beberapa kasus yang didokumentasikan melibatkan anak berusia dua tahun, sepuluh tahun, dan empat belas tahun yang ditembak dalam operasi militer.
Kekerasan oleh Pemukim
Laporan juga mencatat meningkatnya serangan pemukim Israel terhadap anak-anak Palestina.
Kasus yang didokumentasikan meliputi penculikan anak-anak balita dengan ancaman pisau serta penyiksaan dan kekerasan seksual terhadap remaja penggembala.
Penyiksaan di Penjara
Sejak Oktober 2023, lebih dari 1.655 anak Palestina ditahan oleh Israel di Tepi Barat.
Komisi menerima kesaksian mengenai pemukulan, penyetruman listrik, pemborgolan, ancaman anjing, kelaparan, penolakan layanan kesehatan hingga dugaan kekerasan seksual terhadap anak-anak selama penahanan.
Seorang remaja berusia 17 tahun dilaporkan meninggal di Penjara Megiddo akibat malnutrisi berat setelah tidak mendapatkan perawatan medis yang memadai.
Rumah Sakit dan Bayi Baru Lahir
Seluruh rumah sakit anak utama di Gaza dilaporkan berhenti beroperasi akibat serangan. Jumlah inkubator bayi menurun drastis sehingga beberapa bayi harus berbagi satu inkubator.
Komisi juga mendokumentasikan ditemukannya empat jenazah bayi yang telah membusuk di unit neonatal setelah listrik rumah sakit terputus dan evakuasi tidak dapat dilakukan. Sedikitnya 15 bayi baru lahir dilaporkan meninggal akibat hipotermia antara Desember 2024 hingga Februari 2025.
Sekolah Hancur
Laporan menyebut lebih dari 97 persen sekolah di Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran. Sebanyak 459 dari 564 gedung sekolah terkena serangan. Akibatnya sekitar 668.000 anak kehilangan akses terhadap pendidikan formal selama tiga tahun ajaran.
Komisi juga menyebut adanya dokumentasi video yang memperlihatkan tentara Israel menghancurkan sekolah serta menggunakan sejumlah sekolah sebagai pangkalan militer.
Blokade dan Krisis Kesehatan
Blokade Israel disebut menyebabkan meningkatnya angka malnutrisi pada anak-anak. UNICEF melaporkan sedikitnya 151 anak meninggal akibat malnutrisi hingga Oktober 2025.
Program vaksinasi polio juga terganggu sehingga penyakit polio kembali muncul di Gaza setelah sebelumnya berhasil diberantas selama 25 tahun.
Kesimpulan Hukum
Komisi menyimpulkan terdapat dasar yang kuat untuk menyatakan bahwa otoritas dan pasukan Israel terus melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang di Gaza, serta kejahatan perang di Tepi Barat.
Menurut komisi, penargetan terhadap anak-anak merupakan salah satu unsur utama yang menunjukkan adanya dugaan niat genosida, karena anak-anak dipandang sebagai keberlanjutan biologis dan sosial masyarakat Palestina.

