HomeSejarah Indonesia-PalestinaSejarah PalestinaMahalla, Wakaf, Hamula, dan Kamp: Empat Lapis Kehidupan Sosial Gaza

Mahalla, Wakaf, Hamula, dan Kamp: Empat Lapis Kehidupan Sosial Gaza

GAZA CITY — Kehidupan sosial Gaza dibentuk oleh empat lapis institusi yang menumpuk dari waktu ke waktu: lingkungan permukiman (mahalla), wakaf, keluarga besar (hamula), dan, sejak 1948, kamp pengungsi. Setiap lapis lahir pada periode berbeda, dan keempatnya masih terlihat dalam cara warga Gaza bertahan hidup bersama.

Artikel ini menelusuri lapisan itu secara kronologis, dari kota Mamluk abad ke-14 sampai situs pengungsian pada 2026. Sumbernya studi akademik tentang catatan wakaf dan sensus Ottoman, arsip sejarah Palestina, dan laporan PBB. Batas data dicatat di bagian audit.

Wakaf dan lingkungan: dari Mamluk ke Ottoman

حمّام السمرة | توثيق استهداف الثقافة في قطاع غزة

 

Pada masa Mamluk, Gaza tumbuh menjadi pusat intelektual provinsi. Ulama dan keluarga terpandangnya menopang diri dan lembaga lewat wakaf. Menurut studi di Journal of the Royal Asiatic Society, catatan wakaf awal Ottoman menunjukkan bahwa masjid al-Jawli menyediakan lebih dari 30 posisi bergaji dan tunjangan bagi 20 anak yatim.

Wakaf juga dipakai untuk menjaga harta keluarga. Keluarga Luddi mewakafkan lapak di pasar ternak dan sebuah rumah bagi keturunannya pada 1379–1380, lalu masih mendirikan wakaf pada 1482–1483 dan 1510–1511.

Ruang sosial sehari-hari bercampur lintas komunitas. Hammam al-Samara di kawasan Zaytun dikelola komunitas Samaria sebelum dijual. Sebuah plakat di dalamnya menandai renovasi pada 1320, pada masa gubernur Mamluk Sanjar ibn Abdullah.

Pada akhir era Ottoman, studi Büssow dan Ben-Bassat memperlakukan mahalla Gaza sebagai satuan sosial, administratif, dan politik sekaligus. Kepala lingkungan dan wakaf tunai tingkat lingkungan menjadi bagian strukturnya, dan setiap mahalla memuat campuran ciri ekonomi dan sosial.

Muslim, Kristen, Yahudi, dan Samaria

Al-Qaisaryya Bazar | GIRIH for Design and Sustainable Solutions

Komposisi agama Gaza berubah beberapa kali. Ketika Porphyrius ditahbiskan sebagai uskup pada 395, umat Kristen diperkirakan kurang dari 300 orang dari 20.000–25.000 penduduk, menurut sejarawan Nicole Belayche. Sumber utama tentang Porphyrius adalah biografi karya Markus sang Diakon, yang keandalannya diperdebatkan.

Gereja Santo Porphyrius di Zaytun menelusuri akarnya ke awal abad ke-5. Bangunannya yang sekarang berasal dari abad ke-12, masa Tentara Salib, dan bangunan sebelumnya dilaporkan sempat menjadi masjid pada abad ke-7.

Sensus Ottoman abad ke-16 menunjukkan mayoritas Muslim, dengan umat Kristen sebagai kelompok terbesar kedua dan terpecah dalam sub-komunitas berbasis mazhab. Komunitas Yahudi di pusat kota terbagi dua, Rabbanit dan Samaria. Menurut studi itu, jumlah umat Kristen dijaga oleh migrasi dari dalam sanjak, dari Yerusalem, dan dari Mesir.

Pelancong abad ke-15, Meshulam dari Volterra, disebut menghitung sekitar 60 rumah tangga Yahudi dan empat keluarga Samaria di Gaza. Catatan kedua dalam ringkasan yang sama menyebut kisaran 70 keluarga Yahudi dan dua keluarga Samaria. Angka-angka ini hanya saya temukan dalam ringkasan sekunder dan belum dicocokkan dengan teks asli kedua pelancong.

Perkiraan yang beredar pada akhir 2023 menyebut komunitas Kristen Gaza sekitar 800–1.000 jiwa. Tiga gereja masih aktif saat itu: Ortodoks Yunani Santo Porphyrius, Katolik Keluarga Kudus, dan Gereja Baptis.

Hamula: keluarga sebagai institusi

“We are living in a nightmare”: An Eyewitness Account of Life in War-ravaged Gaza  — Embrace the Middle East

Di bawah lapisan kota, kerabat menentukan banyak hal. Hamula terdiri atas beberapa keluarga keturunan satu leluhur, dengan garis keturunan dari pihak ayah, dan gabungan beberapa hamula membentuk suku. Pada masyarakat agraris Palestina, anggota hamula sering tinggal bersama dan menggarap tanah secara bersama. Pada akhir Perang Dunia I, sekitar 70 persen orang Palestina masih tinggal di pedesaan.

Ikatan ini tidak setara. Makalah Abdo dalam seri riset pengungsi Palestina di McGill menggambarkan hamula sebagai sistem berjenjang menurut gender, usia, dan kelas. Kıllıoğlu (2024) mencatat bahwa Ottoman memakai struktur suku, hamula, dan keluarga terpandang untuk mengelola wilayah ini. Setelah 1948, ketika struktur negara tidak terbentuk, lembaga-lembaga itu menjalankan fungsi keamanan dan kesejahteraan.

1948: tuan rumah dan kamp

Perubahan terbesar datang pada 1948. Wilayah yang kemudian menjadi Jalur Gaza berpenduduk sekitar 80.000 jiwa. Pengungsi dari sisa Distrik Gaza dan Distrik Lydda berjumlah lebih dari 200.000. Mereka pertama kali ditampung di masjid, sekolah, rumah warga, barak militer, dan lahan terbuka.

Keluarga lokal menampung banyak pengungsi sampai mereka pindah ke kamp atau menyewa dan membeli rumah. Palquest mencatat ketegangan yang tidak melampaui ungkapan lisan dan praktik sosial, termasuk penolakan warga asli untuk menikah dengan pengungsi. Seiring waktu ikatan menguat, terutama karena banyak pengungsi berinvestasi pada pendidikan.

Delapan kamp pertama didirikan antara 1948 dan 1952 oleh American Friends Service Committee, organisasi Quaker yang ditugasi menangani bantuan. UNRWA dibentuk pada 8 Desember 1949 dan mulai beroperasi pada 1 Mei 1950. Setelah musim dingin 1950, tenda diganti sekitar 48.000 rumah batu dan bata seluas 150 meter persegi. Di tiap kamp, seorang petugas, sering dari kalangan elite politik atau intelektual kamp, mengurus akses ke layanan UNRWA.

Intifada Pertama: komite rakyat

Pada Intifada Pertama (1987–1993), jaringan sosial itu berubah menjadi organisasi. Sejak musim semi 1988, komite rakyat berdiri di desa, kamp, dan lingkungan kota. Menurut Palquest, banyak di antaranya memperluas komite kerja sukarela yang sudah bertahun-tahun mengisi apa yang disebut sumber itu sebagai kelalaian administrasi pendudukan.

Ketika sekolah dan universitas ditutup, jaringan pendidikan bawah tanah mengadakan kelas di lingkungan-lingkungan di Tepi Barat dan Gaza. Komite perempuan juga bermunculan, mula-mula di kota lalu di kamp pengungsi. Kelompok Islamis, termasuk Hamas, ikut membangun program kesejahteraan sosial berbasis konsep amal, menurut Jerusalem Media and Communication Centre.

Sebelum dan sesudah Oktober 2023

Menjelang Oktober 2023, struktur sosial itu banyak bertumpu pada UNRWA. Badan tersebut menjalankan 288 sekolah di Jalur Gaza dengan 9.367 guru dan hampir 300.000 murid, menurut rilis UNRWA 27 Agustus 2023. Reuters melaporkan bahwa sekolah UNRWA mendidik sedikit di bawah separuh anak muda Gaza, dan sekitar dua pertiga dari 2,3 juta penduduk adalah pengungsi atau keturunannya.

Pada akhir November 2023, UNRWA menghitung lebih dari 1,7 juta orang, hampir 80 persen penduduk, mengungsi. Gereja Santo Porphyrius, yang menampung sekitar 2.000 orang saat perang 2014, terkena serangan pada Oktober 2023 dengan sedikitnya 18 korban tewas, menurut Al Jazeera.

Laporan OCHA terbaru yang saya temukan, 31 Juli 2026, menyebut kondisi tetap sangat berat. Per 25 Mei 2026, sekitar 1.600 situs pengungsian menampung sekitar 1,7 juta orang, atau 354.480 rumah tangga. Per 26 Juni 2026, area dengan akses terbatas mencakup 65 persen wilayah Gaza. OCHA juga masih mencatat operasi militer dan pengungsian baru di sepanjang Garis Kuning. Sebagian besar dari 2,1 juta penduduk Gaza, menurut OCHA, masih mengungsi.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini