Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, melontarkan tuduhan keras terhadap Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, setelah pernyataan Erdogan yang dianggap menyerukan kehancuran negara Israel.
Sa’ar menyebut Erdogan sebagai seorang “diktator anti-Semit” yang berbahaya bagi kawasan dan masyarakat Turki.
Pernyataan kontroversial tersebut muncul setelah Erdogan melakukan kunjungan ke masjid di Istanbul untuk salat Idul Fitri, menandai berakhirnya bulan suci Ramadan. D
alam kesempatan itu, Erdogan berdoa, “Semoga Allah, demi nama-Nya ‘Al-Qahhar’ [‘Yang Maha Menaklukkan’], menghancurkan dan membinasakan Israel Zionis.”
🇹🇷🇮🇱Erdogan threatens Israel with divine punishment.
Leaving a mosque he visited at the end of the Muslim month of Ramadan, Erdogan said:
“We see what is happening in Palestine. May Allah destroy Zionist Israel in His holy name. We must see what is happening there.
Therefore,… pic.twitter.com/7I88VC1yhR— Tony (@Cyberspec1) March 30, 2025
Ia juga memohon agar, “Kita semua yang menyaksikan apa yang terjadi di Gaza, tetap bersatu, kuat, dan tangguh sebagai saudara; semoga Allah menjaga persatuan kita selamanya.”
Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras di Israel, baik dari kalangan media maupun politisi.
Dalam unggahannya di X (sebelumnya Twitter), Sa’ar menilai bahwa Erdogan telah menunjukkan wajah anti-Semitnya yang sebenarnya.
“Seperti yang terlihat jelas saat ini, Erdogan berbahaya bagi kawasan ini dan bagi rakyatnya sendiri,” kata Sa’ar.
Ia juga berharap negara-negara NATO segera menyadari bahaya tersebut.
Insiden ini merupakan bagian dari ketegangan yang terus berkembang antara Turki dan Israel dalam beberapa pekan terakhir, terutama sejak invasi Israel ke Gaza pada Oktober 2023.
Pada Jum’at lalu, Kementerian Luar Negeri Turki mengutuk serangan udara Israel di Lebanon, yang dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional dan ancaman terhadap stabilitas kawasan.
Israel kemudian menanggapi dengan kecaman terhadap Erdogan.
Kementerian Luar Negeri Israel menilai pernyataan Erdogan sebagai tindakan hipokrit, yang mengajarkan nilai-nilai mulia kepada dunia internasional, namun di sisi lain dengan keras menekan rakyatnya sendiri melalui penindasan dan penangkapan politik.