Sejumlah menteri dalam pemerintahan Israel mengungkap bahwa mereka telah menyetujui beberapa bagian dari tahap kedua perjanjian gencatan senjata di Gaza. Hal itu bertentangan dengan klaim yang dibuat oleh orang-orang dekat Perdana Menteri, Benjamin Netanyahu, lansir Al Jazeera.
Sementara itu, Kabinet Keamanan Israel akan mengadakan pertemuan besok untuk membahas kesepakatan tersebut. Di sisi lain, sumber Israel mengungkapkan bahwa Qatar merasa kecewa dengan sikap Netanyahu.
Harian Israel Hayom melaporkan bahwa beberapa menteri Israel mengonfirmasi persetujuan mereka atas bagian dari tahap kedua saat mereka menyetujui kesepakatan awal dengan Hamas.
Para menteri tersebut menyatakan bahwa dalam kesepakatan awal yang telah disetujui, Israel akan menarik pasukannya dari Gaza dalam waktu 42 hari, kecuali dari area dengan lebar 2.297 kaki (sekitar 700 meter).
Selain itu, dokumen yang mereka lihat menunjukkan bahwa tentara Israel akan mundur dari Koridor Philadelphia (di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir) pada hari ke-50, yang bertolak belakang dengan klaim orang-orang dekat Netanyahu.
Para menteri juga menegaskan bahwa mereka telah meninjau daftar syarat baru untuk pembebasan tahanan Israel sebelum menyetujui tahap pertama kesepakatan.
Menurut mereka, berdasarkan daftar tersebut, Israel tidak akan memiliki tahanan dari sekitar 360 warga Palestina yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, serta akan ada peningkatan signifikan dalam jumlah tahanan Palestina yang dibebaskan sebagai bagian dari pertukaran.
Konsultasi keamanan
Sementara itu, saluran TV Israel Channel 12 melaporkan bahwa Netanyahu akan mengadakan konsultasi keamanan sebelum pertemuan kabinet pada Selasa malam.
Pertemuan ini akan dihadiri oleh Menteri Pertahanan, Menteri Luar Negeri, Menteri Keuangan, serta anggota Knesset Aryeh Deri.
Menurut laporan yang sama, Menteri Keuangan, Bezalel Smotrich meminta Netanyahu untuk mengadakan pemungutan suara atas rencana Presiden AS Donald Trump yang menyerukan pemindahan warga Palestina dari Gaza sebelum tahap pertama kesepakatan berakhir.
“Tanggung jawab kami mengharuskan kami untuk peduli terhadap masa depan Israel dan menentang upaya mengkompromikan keamanannya dengan membuat kesepakatan,” kata Smotrich.
Sementara itu, Menteri Diaspora Israel, Amichai Chikli, menyatakan bahwa ia akan menentang tahap kedua kesepakatan, karena dianggap berbahaya dan tidak realistis. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah AS memahami risiko ini.
Chikli berpendapat bahwa Israel harus melanjutkan perang dan mempertahankan kendali atas beberapa wilayah di Gaza, serta tidak merasa puas dengan operasi-operasi yang terbatas.
“Israel belum menyelesaikan misinya di Jalur Gaza dan belum mencapai tujuannya,” katanya.
Otoritas Penyiaran Israel melaporkan bahwa delegasi Israel telah kembali dari Doha, dan Kabinet Keamanan Israel akan mengadakan pertemuan besok untuk membahas tahap kedua dari kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
Sementara itu, saluran TV Israel Channel 12 mengungkap bahwa Netanyahu akan mengadakan evaluasi terbatas pada hari Senin ini terkait tahap kedua kesepakatan, sehari sebelum pertemuan kabinet.
Evaluasi tersebut akan mencakup sikap terbaru Israel sebelum melanjutkan negosiasi di Doha.
Menurut laporan Harian Maariv, Israel sedang mempertimbangkan tahap transisi antara tahap pertama dan kedua dari kesepakatan pertukaran tahanan.
Namun, dalam tahap transisi ini, perang tidak akan dihentikan secara resmi, tetapi pembebasan tahanan akan tetap berlanjut secara bertahap.
Sumber keamanan Israel juga menyatakan kekhawatiran bahwa negosiasi dapat runtuh selama bulan Ramadan jika tidak ada kemajuan dalam pembicaraan.
Ketidakpuasan Qatar
Di sisi lain, Harian Haaretz melaporkan bahwa Qatar sangat kecewa dengan sikap Netanyahu, terutama terkait pernyataannya mengenai pemindahan warga Palestina dari Gaza.
Sumber Israel yang dikutip oleh Haaretz menyatakan bahwa Qatar kecewa karena Netanyahu tidak mengirim delegasi ke Doha pada hari Senin lalu untuk memulai negosiasi.
Qatar juga dikabarkan telah menyampaikan pesan kemarahan kepada Israel, mengingatkan bahwa kesepakatan ini juga melibatkan Qatar sebagai pihak penjamin.
Selain itu, Qatar memperingatkan bahwa sikap Israel dapat membahayakan pembebasan tahanan dalam tahap pertama kesepakatan.
Dalam kontek ini, otoritas Penyiaran Israel melaporkan bahwa negosiasi tahap kedua dari gencatan senjata belum dimulai.
Menurut laporan tersebut, perundingan mengalami hambatan karena tidak adanya pembicaraan terkait tahap kedua pada hari ke-16 dari tahap pertama.
Disebutkan juga bahwa delegasi Israel yang kembali dari Doha hanya diberi wewenang untuk membahas tahap pertama, karena Netanyahu menentang pembicaraan tahap kedua.
Akibatnya, terhambatnya negosiasi tahap kedua dapat berdampak pada proses pertukaran tahanan di tahap pertama.
Tuntutan Israel
Sementara itu, Harian Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Netanyahu berencana untuk mengajukan tuntutan Israel terkait tahap kedua kesepakatan dalam pertemuan kabinet pada hari Selasa.
Menurut perkiraan Israel, Hamas kemungkinan besar tidak akan menerima tuntutan ini, yang mencakup pengusiran kepemimpinan Hamas dari Gaza, pembubaran sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, pelucutan senjata Hamas sepenuhnya, dan pembebasan semua tahanan Israel yang tersisa.
Menurutnya, jika Hamas menerima tuntutan ini, maka Israel akan mengakhiri perang.
Namun, seorang pejabat Israel mengatakan bahwa jika Hamas menolak memperpanjang tahap pertama, dan hanya 33 tahanan yang dibebaskan, maka Israel akan menghadapi dilema besar dengan melanjutkan operasi militer, meskipun masih ada 65 tahanan Israel yang tersisa di Gaza, atau akan beralih ke fase kedua sesuai dengan ketentuan Hamas.