Saturday, April 5, 2025
HomeAnalisis dan OpiniOPINI - Mengapa Netanyahu menyerang Suriah?

OPINI – Mengapa Netanyahu menyerang Suriah?

Oleh: Waiel Olwan

Pada malam Rabu, 2 April 2025, jet-jet tempur Israel melancarkan serangan udara besar-besaran yang sangat menghancurkan dan menargetkan bandara-bandara di wilayah tengah Suriah dan pusat-pusat riset di Hama dan sekitar Damaskus.

Serangan ini juga bertepatan dengan invasi darat dan pertempuran di provinsi Dara’a dan Quneitra di selatan negara itu.

Sasaran utama dari serangan besar ini adalah Bandara Militer Hama, yang sebagian besar hancur, serta Bandara Tiyas (T4) di timur Homs. Terlihat jelas bahwa fokus dari serangan ini adalah penghancuran bandara-bandara militer.

Serangan udara oleh Israel ini sudah terjadi secara berulang sejak jatuhnya rezim Assad pada 8 Desember 2024.

Alasan dan motif serangan Israel

Serangan terakhir ini tidak lepas dari unsur “unjuk kekuatan” yang dibutuhkan oleh pemerintahan Netanyahu, terutama setelah perang di Gaza mendekati akhirnya.

Dalam situasi seperti ini, Suriah adalah lokasi yang ideal untuk menunjukkan kekuatan militer dan mengirim pesan baik ke kawasan maupun ke dunia internasional.

Namun, alasan utama dari serangan ini adalah melanjutkan penghancuran total terhadap infrastruktur militer Suriah. Tujuannya, demi menjadikan negara itu sebagai wilayah tanpa senjata, yang tidak mampu mengancam keamanan nasional Israel di masa depan.

Apalagi setelah hilangnya rezim Assad, yang selama puluhan tahun menjaga stabilitas dan keamanan bagi Israel di perbatasan.

Israel terus menggempur dan melakukan penghancuran darat untuk menghabisi semua persenjataan yang tersisa, meskipun usang dan tua.

Di saat yang sama, Israel juga mengirim pesan tegas bahwa negara baru Suriah tidak boleh membentuk militer yang kuat, memiliki rudal, pesawat tempur, atau sistem pertahanan udara.

Israel ingin memastikan bahwa tidak ada pihak asing yang membantu memperkuat militer Suriah.

Apa yang diinginkan Israel di Suriah?

Sudah sangat jelas bahwa Israel berupaya menciptakan zona rusak dan hancur di sepanjang garis demarkasi.

Garis itu yang mudah diawasi dan disusupi kapan saja untuk mencegah adanya kelompok bersenjata, terowongan bawah tanah, atau penyelundupan senjata.

Lebih jauh lagi, Israel menginginkan wilayah selatan Damaskus benar-benar bebas dari senjata atau kekuatan militer.

Israel kemungkinan besar akan bekerja sama dengan mitra regional atau internasional untuk menciptakan titik-titik pemantauan asing di wilayah tersebut.

Israel tentu tidak ingin Turki menjadi mediator, dan dalam konteks ini, Rusia adalah kandidat terkuat. Karena peran serupa yang pernah dimainkannya dan kepercayaan Israel terhadapnya, dibandingkan peran yang diharapkan oleh Turki.

Secara lebih luas, Israel akan terus menghancurkan kekuatan udara Suriah. Termasuk sistem pertahanan udara atau fasilitas yang sedang dibangun dalam radius hingga 200 kilometer dari perbatasan Israel–Suriah.

Inilah yang menjadi latar belakang pengeboman Israel terhadap wilayah Homs bagian timur dan Hama.

Pesan-pesan dari serangan Israel

Serangan udara besar ini terjadi hanya beberapa hari setelah perjanjian di Aleppo mulai dijalankan, yang mengatur penarikan kelompok bersenjata pro-SDF (Pasukan Demokratik Suriah) dari distrik Sheikh Maqsoud dan Ashrafiyah.

Perjanjian Aleppo ini mungkin memperkuat kesepakatan antara pemimpin SDF, Mazloum Abdi, dan Presiden Suriah, Ahmad Al-Sharaa, yang jelas tidak disukai oleh Israel.

Kesepakatan tersebut dianggap sebagai akhir dari skenario Israel selama lebih dari satu dekade untuk memecah, melemahkan, dan membagi peta Suriah.

Selain itu, tim ahli dari Turki juga sempat mengunjungi bandara dan pangkalan militer di tengah Suriah, beberapa di antaranya telah dibom dan dihancurkan oleh Israel.

Ini mungkin menjadi pesan utama dari pemerintahan Netanyahu kepada Ankara, bahwa Turki dan Arab Saudi tidak bisa mengatur lanskap keamanan dan militer Suriah hanya dengan restu AS tanpa melibatkan Israel.

Meski tampak tidak realistis bahwa Israel benar-benar bisa menghentikan pengaruh Turki di Suriah—karena pengaruh itu kini menjadi kenyataan—Israel tetap berusaha menetapkan aturan mainnya sendiri dalam tatanan baru Timur Tengah.

Saat ini, negara-negara Barat telah sepakat untuk menyingkirkan Iran dari Suriah, dan Israel ingin mengukuhkan peran dominannya dalam fase baru ini.

Meskipun Iran masih punya pengaruh di Irak, dan AS sedang mempersiapkan penarikan pasukannya dari Suriah seiring dengan hasil pemilu Irak di akhir tahun.

Sikap pemerintah Suriah dan peluang perdamaian

Pemerintah Suriah yang baru tetap memegang sikap resminya sejak mengambil alih kekuasaan setelah kejatuhan Assad, yakni tidak akan terlibat dalam konflik militer langsung.

Karena itu, pemerintah Suriah kini menggandeng PBB dan negara-negara besar untuk menghentikan serangan Israel. Terutama karena serangan-serangan itu terus berlangsung meskipun telah ada jaminan dari Suriah bahwa mereka tidak berniat menyerang tetangga atau pihak internasional mana pun.

Namun, Israel tetap tidak mempercayai jaminan dari pemerintah baru Suriah. Meskipun begitu, Israel bisa saja mencapai kesepahaman dengan pemerintah ini selama mereka tidak menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional Israel.

Dalam waktu dekat, sangat mungkin bahwa Israel akan terus mempersiapkan medan secara militer dan intelijen, demi memastikan posisi tawarnya kuat di meja perundingan di masa depan.

Israel akan terus menyerang lewat darat dan udara, lalu menggunakan hasil-hasil serangan ini sebagai modal tawar-menawar, dan pemerintah Suriah tidak punya banyak pilihan selain menerima kondisi tersebut.

*Waiel Olwan adalah peneliti yang mengkhususkan diri dalam urusan Suriah. Peneliti di Pusat Studi Jusoor di Turki sejak 2018, setelah beristirahat dari dinas militer. Tulisan ini diambil dari situs Aljazeera.net dengan judul “Limādzā Qasaf Nitanyyāhū Suriyyā?”.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Most Popular