Menteri luar negeri dari Pakistan, Arab Saudi, Turki, dan Mesir dijadwalkan bertemu di Islamabad untuk membahas konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, demikian disampaikan pemerintah Pakistan pada Sabtu.
Pertemuan tersebut diperkirakan berlangsung pada Senin, 30 Maret.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyatakan dirinya “menantikan untuk menyambut para menteri luar negeri sahabat” di negaranya, melalui unggahan di platform X.
Kementerian Luar Negeri Pakistan menyebutkan bahwa para menteri akan berada di Islamabad pada Minggu dan Senin, serta dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif.
“Selama kunjungan, para menteri luar negeri akan mengadakan pembahasan mendalam mengenai berbagai isu, termasuk upaya meredakan ketegangan di kawasan,” demikian pernyataan resmi kementerian tersebut.
Sebagai bagian dari persiapan pertemuan, Perdana Menteri Shehbaz Sharif dilaporkan berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian selama sekitar satu jam pada Sabtu, menurut sumber pemerintah Pakistan kepada AFP.
Kedua pemimpin tersebut telah beberapa kali berkomunikasi dalam beberapa pekan terakhir terkait konflik yang berlangsung serta upaya Pakistan untuk membantu mengakhirinya.
Sumber lain dari Kementerian Luar Negeri Pakistan menyebutkan bahwa pertemuan empat negara itu akan digelar pada Senin, dengan delegasi diperkirakan tiba pada Minggu malam.
Dalam perkembangan ini, Pakistan muncul sebagai fasilitator penting antara Iran dan Amerika Serikat. Islamabad berperan sebagai perantara dalam penyampaian pesan antara kedua pihak.
Pakistan memiliki hubungan lama dengan Iran serta kedekatan dengan negara-negara Teluk. Di sisi lain, Perdana Menteri Sharif dan Panglima Angkatan Darat Jenderal Asim Munir juga memiliki hubungan personal yang baik dengan Presiden AS Donald Trump.
Turki soroti peran sentral Pakistan
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, dalam wawancara yang disiarkan langsung di sebuah kanal berita Turki, menekankan peran sentral Pakistan dalam upaya diplomatik tersebut.
Ia menyebut dirinya terus menjalin komunikasi intensif dengan mitra dari Mesir, Eropa, dan kawasan lainnya.
Fidan juga mengindikasikan bahwa pertemuan antara Turki, Pakistan, Mesir, dan Arab Saudi memang direncanakan berlangsung di Pakistan pada akhir pekan untuk mengevaluasi proses negosiasi serta kemungkinan langkah lanjutan.
Ia menjelaskan bahwa pertemuan tersebut awalnya direncanakan digelar di Turki.
“Namun karena mitra kami dari Pakistan perlu tetap berada di negaranya, maka lokasi pertemuan dipindahkan ke Pakistan,” ujarnya pada Jumat malam.
Fidan juga menegaskan bahwa Turki mendorong terbentuknya kerangka kerja regional yang lebih luas, melibatkan Iran, negara-negara Teluk, Turki, Pakistan, dan Mesir. Kerangka ini dinilai berpotensi menghasilkan manfaat besar di bidang ekonomi, politik, dan keamanan.
Peluang perundingan AS-Iran
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul sebelumnya menyatakan bahwa pertemuan langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan kemungkinan akan segera terjadi, meski tidak mengungkap sumber informasinya.
Meski Teheran belum mengonfirmasi adanya perundingan resmi dengan Washington, Iran dilaporkan telah menyampaikan tanggapan terhadap rencana 15 poin yang diajukan Presiden Trump untuk mengakhiri perang, melalui Islamabad.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel terus melancarkan serangan udara ke Iran sejak 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta wilayah Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan internasional.


