usia

Meningkatkan Amal Saleh di Usia Senja

Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin mau berapa lama ia hidup di muka bumi ini. Bisa jadi usianya hingga lebih dari 60 tahun ia tetap istikomah dalam menjalankan syariat Allah Ta’ala. Sebaliknya, ada juga orang yang diberi usia panjang namun sayang hari-harinya diisi dengan kemaksiatan. Tentu saja nilai pahala keduanya amat jauh berbeda di sisi Allah kelak.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3)

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3)

Tentang ayat di atas, coba perhatikan penjelasan yang bagus dari Ibnu ‘Abbas berikut ini. Ada sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Suatu hari Umar mengundang mereka dan mengajakku bersama mereka. Seingatku, Umar tidak mengajakku saat itu selain untuk mempertontonkan kepada mereka kualitas keilmuanku.

Lantas Umar bertanya, “Bagaimana komentar kalian tentang ayat (yang artinya), “Seandainya pertolongan Allah dan kemenangan datang (1) dan kau lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong (2) –hingga ahkir surat. (QS. An Nashr: 1-3).

Sebagian sahabat berkomentar (menafsirkan ayat tersebut), “Tentang ayat ini, setahu kami, kita diperintahkan agar memuji Allah dan meminta ampunan kepada-Nya, ketika kita diberi pertolongan dan diberi kemenangan.”  

Sebagian lagi berkomentar, “Kalau kami tidak tahu.” Atau bahkan tidak ada yang berkomentar sama sekali.

Lantas Umar bertanya kepadaku, “Wahai Ibnu Abbas, beginikah kamu menafsirkan ayat tadi? “Tidak”, jawabku.

“Lalu bagaimana tafsiranmu?”  tanya Umar.

Ibnu Abbas menjawab, “Surat tersebut adalah pertanda wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah dekat. Allah memberitahunya dengan ayat-Nya: “Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan’, itu berarti penaklukan Makkah dan itulah tanda ajalmu (Muhammad), karenanya “Bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat.”

Kata Umar, “Aku tidak tahu penafsiran ayat tersebut selain seperti yang kamu (Ibnu Abbas) ketahui.”” (HR. Bukhari, no. 4294)

Dari sinilah Imam Nawawi rahimahullah menyimpulkan dalam Riyadhus Sholihin dengan judul bab yang beliau tulis: “Bab 12. Anjuran untuk Meningkatkan Amal Kebaikan pada Akhir Usia.

Dalam usia senja, tentu saja seorang muslim harus semakin meningkatkan amal ibadahnya, bukan malah semakin menjadi-jadi, seperti pepatah yang mengatakan “Tua tua keladi, makin tua makin menjadi.” Keburukan demi keburukan yang ia lakukan semakin menjadi-jadi. Bukannya tobat malah seolah merasa akan hidup selamanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan tentang satu keburukan yang dilakukan oleh orang yang sudah tua dalam sabdanya,

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ : شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

Ada tiga golongan yang Allah tidak berbicara kepada mereka pada hari Kiamat, tidak membersihkan mereka, dan tidak melihat kepada mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih: orang yang sudah tua tapi berzina, penguasa yang suka bohong, dan orang miskin yang sombong.” (HR. Muslim, no. 172)

Semestinya, semakin bertambah usia seseorang, harus semakin baik pula amal ibadahnya. Dalam sebuah hadits disebutkan,

لَا يَتَمَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتُ وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ. إِنَّهُ إِذَا مَاتَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ,  وَإِنَّهُ لَا يَزِيْدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلَّا خَيْرًا

Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian. Dan jangan pula berdoa agar segera mendapat kematian sebelum kematian itu datang kepadanya. Sesungguhnya bila ia mati, maka terputuslah amalannya dan bahwa tidaklah usia seorang mukmin itu bertambah pada dirinya kecuali akan menambah kebaikan.” (HR. Muslim, No. 2682).

Begitulah seharusnya usia seorang mukmin, semakin tua menjalani kehidupannya, maka semakin meningkat pula amal kebaikannya. Bukan sebaliknya malah semakin meningkat keburukannya, nauzubillah.

Inilah Di Antara Amalan di Usia Senja

Pertama, perhatikanlah amalan-amalan wajib. Sebab, ibadah-ibadab yang bersifat wajib (fardhu) merupakan kewajiban yang bersifat individual yang harus ditegakkan sendiri-sendiri oleh setiap Muslim dan Muslimah hingga ajal datang. Selain itu, amal-amal wajib adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala.

Kedua, jauhkan semua hal yang diharamkan oleh syariat. Tentu saja, untuk bisa menjauhkan hal yang diharamkan oleh Allah dan Nabinya, maka ia harus memiliki pemahaman ilmu syariat yang baik. Dengan begitu ia faham mana halal mana haram.

Ketiga, menambah amalan-amalan sunnah. Berusahalah terus untuk menambah amalan-amalan sunnah semisal; shalat nawafil, puasa sunnah Senin Kamis, Daud, dll. Berusaha untuk mendawamkan shalat Dhuha, sedekah, dan amal ibadah sunnah lainnya.

Keempat, banyak bertasbih, bertahmid, membaca istighfar, dan bertaubat. Zikir-zikir tersebut sangat penting untuk mengundang datangnya pertolongan Allah Ta’ala kelak saat sakaratul maut datang menjemput. Misalnya membiasakan membaca kalimat tauhid, istighfar dan lainnya, dengan harapan kelak saat akan meninggal bisa mengucapkan kalimat-kalimat mulia tersebut.

Kelima: memperbanyak amal-amal ringan, tapi berpahala besar, seperti berdzikir dan membaca shalawat, shalat suruq, shalat sunnah dua rakaat sebelum shubuh dll. Amalan ringan ini tentu saja masih banyak, sehingga seorang yang sudah berusia senja bisa memilah dan memilih mana yang sekiranya lebih mudah untuk dilakukannya.

Keenam: rutin membaca dzikir pagi dan petang. Hal ini penting sekali terutama untuk memagar diri dari gangguan setan laknatullah ‘alaih. Orang yang senantiasa membiasakan membaca dzikir pagi dan petang insya Allah akan selamat dari gangguan setan sehingga ia akan lebih semangat dalam mengamalkan syariat Allah Ta’ala.

Ketujuh: Tetap aktif dalam thalabul ilmi (menghadiri majelis ilmu). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْذَرَ اللهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً

Allah tidak akan menerima argumen kepada seseorang yang Allah tunda ajalnya hingga mencapai 60 tahun.” (HR. Bukhari, no.641).

Dengan kata lain, tidak ada alasan yang akan Allah terima kelak bagi orang yang sudah berusia 60 tahun tapi ibadahnya masih jauh dari tuntunan al Qur’an dan as Sunnah. Karena itu, semakin bertambah usia seseorang, sejatinya semakin istikomah ia dalam menghadiri majelis ilmu agar ilmunya terus bertambah.

Kedelapan: rutin mempelajari al Qur’an dan mentadabburinya (merenungkannya) lewat bahasan ulama dalam kitab tafsir (yang tentu lebih mendalam dari sekadar al Qur’an terjemah).

Tentu saja, sebagaimana kita fahami bahwa al Qur’an adalah sumber dari segala ilmu dunia akhirat. Karena itu, seorang yang sudah senja seharusnyalah senantiasa berusaha untuk membaca dan merenungkannya dengan mengacu pada bacaan-bacaan tafsir dari para ahli tafsir. Dengan merenungkan ayat-ayat Allah, maka hati semakin khusyu’ dalam mempersiapkan diri untuk menghadap Allah Ta’ala.

Kesembilan: berpesan kepada anak-anak dan keturunan agar menjadi saleh dan salehah, gemar mendoakan orang tua baik saat masih hidup atau setelah meninggal, dan membantu mentalqin orang tua ketika akan meninggal.

Boleh minta diberi umur yang panjang dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mengajarkan sebuah doa kepada umatnya,

اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي

“ALLAHUMMA AK-TSIR MAALII WA WALADII, WA BAARIK LII FIIMAA A’THOITANII WA ATHIL HAYAATII ‘ALA THO’ATIK WA AHSIN ‘AMALII WAGH-FIR LII.” (artinya: Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku).”[]

 

Mati Hina di Ujung Usia

Ada orang yang Allah Ta’ala wafatkan ia kelak lewat jalan kebaikan, karena ia sedari muda mendawamkan segala kebaikan. Tidak sedetikpun ia lewatkan dalam desah nafasnya kecuali untuk memikirkan yang baik, berkata yang baik dan beribadah yang baik kepada Allah Ta’ala. Orang semacam ini insya Allah kelak ia akan kembali dalam keadaan akhir umur yang mulia.

Namun, tak sedikit pula orang yang kelak di akhir hayatnya mati dalam keadaan terhina. Ada yang mati sedang menyekik botol minuman keras, nauzubillah. Ada juga yang tewas saat ia sedang berdua sekamar dengan wanita tuna susila (WTS), ada yang mati di tempat duduk saat ia bermain judi. Inilah akhir dari usia yang penuh dengan kehinaan. Hina dunia, hina akhirat.

Dalam al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang tergoda oleh bujuk rayu setan ini, sehingga memperdayainya dan pada akhirnya manusia itu mati dalam keadaan yang hina dan dihinakan. Allah Ta’ala berfirman,

كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ, فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا ۚوَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ

“(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam”.  Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hasyr: 16-17)

Ibnu Mas’ud menceritakan, ada seorang wanita yang menjadi pengembala kambing. Ia memiliki empat orang saudara. Suatu saat wanita itu dititipkan keempat saudaranya kepada seorang rahib yang sholeh, sebab saudara-saudaranya akan mengembara. Wanita itu tinggal di shawma’ah (pertapaan rahib atau rumah ibadah seorang biara).

Hinga waktu terus berlalu. Singkat cerita rahib yang diberi amanah untuk menjaga wanita tadi diperdaya oleh setan sampai ia menzinahi wanita itu hingga hamil. Setan pun menghampirinya. Setan berkata kepada rahib tersebut, “Sudahlah bunuhlah dia, lalu kuburkanlah. Engkau adalah orang yang dikenal jujur dan ucapanmu pasti didengar.” Lalau rahib tersebut membunuh wanita tadi, dan menguburkannya.

Dikisahkan, setan lalu mendatangi keempat saudara wanita tadi satu per satu dalam mimpi mereka. Setan berkata kepada mereka dalam mimpi, “Rahib tersebut yang biasanya berada di rumah ibadahnya tega berzina dengan saudari kalian, hingga ia hamil, lalu rahib membunuhnya, kemudian menguburkannya di tempat ini dan ini.”

Saat pagi hari, salah seorang dari empat saudara itu bercerita, “Demi Allah, semalam aku bermimpi suatu mimpi yang baiknya aku ceritakan kepada kalian ataukah tidak.” Maka diceritakanlah mimpinya semalam.

Salah seorang dari mereka berkata, “Demi Allah, aku juga bermimpi hal yang sama.” Salah seorang dari mereka berkata lagi, “Demi Allah, pun bermimpi hal seperti itu.” Mereka berkata lagi, “Demi Allah, ini pasti telah terjadi sesuatu.”

Akhirnya mereka bergerak dan meminta tolong kepada raja untuk mengatasi rahib tersebut. Lalu keempat pemuda itu mendatangi rahib tadi, kemudian menanyakan kebenaran mimpi mereka, lalau membawa rahib itu.

Setan tak mau ketinggalan, ia mendatangi rahib lalu berkata, “Aku yang telah menjerumuskanmu ke dalam kejahatan ini, tentu yang bisa menyelamatkanmu darinya hanyalah aku. Maka, sekarang sujudlah padaku dengan sekali sujud saja, maka aku akan menyelamatkanmu dari masalah besarmu.”

Karena si rahib tadi imannya sudah tergerus, ia sujud kepada setan. Ketika raja mereka datang, setan pun berlepas diri dari rahib tersebut. Rahib tersebut tetap dikenakan hukuman atas tindakan kejahatannya, ia pun dibunuh. (Demikian pula riwayat yang sama dari Ibnu ‘Abbas, Thawus, dan Muqatil bin Hayyan).

Pelajan kisah

Setidaknya ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah di atsa, antara lain sebagai berikut.

Pertama, jangan pernah ikuti langkah setan. Terkait dengan langkah setan ini, Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. Al-Baqarah: 168-169).

Kedua, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia sehingga tidak boleh dijadikan teman, tidak boleh diikuti. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.” (Qs. Al-Maidah: 51)

Dalam ayat lain disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang.” (Qs. Al-Mumtahanah: 1)

Ketiga, setan mengajak pada dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar. Yang dimaksud dengan as-suu’ dalam surah Al-Baqarah 168-169 adalah amalan kejelekan di bawah al-fahsya’. Adapun al-fahsya’ adalah dosa-dosa besar yang dianggap jelek oleh akal dan syari’at. Berarti as-suu’ adalah dosa kecil, sedangkan al-fahsya’ adalah dosa besar.

Kalau dalam diri ini terbersit niat untuk melakukan dosa kecil maupun dosa besar, maka harus diketahui, itu adalah jalan setan. Segeralah minta kepada Allah perlindungan dari maksiat atau dosa tersebut yang terbesit di hati. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah.” (Qs. Al-A’raf: 200).

Keempat, setan sudah bersumpah akan menyesatkan manusia dari berbagai macam arah. Allah Ta’ala berfirman, “Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Qs. Al-A’raf: 16-17)

Sejatinya setiap muslim harus senantiasa membentengi dirinya dari jebakan-jebakan setan laknatullah ‘alaihi. Sebab kita tidak pernah tahu bagaimana nasib dipenghujung usia kita; baikkah (husnul khatimah), atau burukkah (suul khatimah). Karena itu, ketika kita sudah mulai merasa bisa istikomah mengamalkan suatu ibadah, segeralah memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan kekuatan untuk mengamalkan amal ibadah itu dengan ajeg dan penuh penghayatan. Selain itu, mohonlah kepada Allah Ta’ala agar setiap amal ibadah yang dilakukan itu terjaga dari sifat riya’ (pamer).[]