Tentara Suriah mengambil alih sebuah pangkalan militer di wilayah timur laut negara itu setelah penarikan pasukan Amerika Serikat, sebagai bagian dari pengaturan gencatan senjata dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin kelompok Kurdi.
Kementerian Pertahanan Suriah pada Minggu (waktu setempat) menyatakan bahwa “pasukan Tentara Arab Suriah telah mengambil alih pangkalan militer al-Shaddadi di pedesaan Hasakah setelah berkoordinasi dengan pihak Amerika”.
Amerika Serikat telah beroperasi di al-Shaddadi sejak 2016, setelah pasukan yang dipimpin Kurdi merebut wilayah tersebut dari kelompok ISIS.
Pada Kamis lalu, tentara Suriah juga mengambil alih pangkalan AS di al-Tanf, yang terletak dekat perbatasan Irak dan Yordania.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada wartawan bahwa pelaksanaan perjanjian gencatan senjata berjalan “ke arah yang positif”.
“Ada beberapa hari yang cukup mengkhawatirkan, tetapi kami menyukai arah perkembangannya,” ujar Rubio. “Kami harus menjaga agar tetap pada jalur tersebut. Kami memiliki kesepakatan yang baik. Kuncinya sekarang adalah implementasi, dan kami akan sangat terlibat dalam hal itu.”
Ia menambahkan bahwa kesepakatan serupa juga perlu dicapai dengan komunitas Druze, Badui, dan Alawi di Suriah.
“Kami menilai hasil ini, meski sulit, jauh lebih baik dibandingkan Suriah yang terpecah menjadi delapan bagian dengan berbagai pertempuran dan gelombang migrasi besar-besaran. Jadi kami merasa cukup positif,” kata Rubio.
Kehadiran AS Berkurang
Koresponden Al Jazeera, Heidi Pett, melaporkan dari Aleppo bahwa warga di sekitar al-Shaddadi dalam beberapa hari terakhir mendengar ledakan dan melihat kobaran api di pangkalan tersebut.
Menurut dia, hal itu terjadi karena pasukan AS menghancurkan material yang tersisa sebagai bagian dari persiapan penarikan yang telah dilakukan selama beberapa pekan.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari perubahan strategi AS di kawasan, yakni beralih ke kemitraan langsung dengan pemerintah Suriah.
Selama beberapa bulan terakhir, AS memang mengurangi kehadiran militernya di Suriah, dari sekitar 1.500 personel pada Juli menjadi sekitar 900 personel saat ini.
AS juga mengonsolidasikan kehadiran daratnya ke Tower 22 di Yordania. Meski demikian, militer AS tetap melancarkan serangan udara terhadap target ISIS di Suriah. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan telah melakukan 10 serangan udara terhadap 30 target pada periode 3-12 Februari, serta menewaskan atau menangkap lebih dari 50 orang dalam dua bulan terakhir.
Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menyatakan bahwa pasukan AS akan “tetap siap merespons setiap ancaman ISIS yang muncul.”

