spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Friday, March 27, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeBeritaOPINI - Mengapa Pakistan jadi mediator AS-Iran untuk akhiri konflik?

OPINI – Mengapa Pakistan jadi mediator AS-Iran untuk akhiri konflik?

Oleh: Mohammad Abdul Basit

Kolumnis Al Jazeera

Upaya untuk segera mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Israel di satu pihak, serta Iran di pihak lain, menjadi semakin mendesak. Konflik yang berlarut-larut berpotensi memperumit berbagai kemungkinan solusi.

Kawasan Asia Barat—bahkan dunia—tidak siap menghadapi dampak geopolitik dan ekonomi berskala luas jika perang terus berlanjut tanpa batas waktu. Karena itu, peran negara penengah menjadi krusial, dan Pakistan dinilai memiliki posisi strategis untuk menjalankan fungsi tersebut.

Dalam konteks ini, Pakistan dinilai sebagai salah satu pihak yang paling layak menjadi mediator antara Amerika Serikat dan Iran. Negara ini berbatasan langsung dengan Iran sepanjang sekitar 900 kilometer, sekaligus memiliki tingkat kepercayaan yang cukup tinggi dari Teheran untuk mendorong tercapainya kesepakatan yang adil.

Di sisi lain, Pakistan juga memiliki hubungan yang baik dengan pemerintahan Presiden Donald Trump, serta mendapat kepercayaan dari negara-negara Teluk.

Memang, negara seperti China dan Rusia juga berpotensi memainkan peran penting dalam meredakan konflik. Namun, Pakistan dinilai memiliki keunggulan tersendiri dalam menjembatani kepentingan kedua pihak pada fase krusial ini. Bahkan, menurut sejumlah laporan, baik Amerika Serikat maupun Iran telah menyetujui peran Pakistan sebagai mediator.

Meski demikian, upaya mediasi bukan tanpa risiko. Terlebih ketika kedua pihak yang bertikai tidak berkomunikasi secara langsung.

Sejumlah pertanyaan pun mencuat. Apakah Amerika Serikat benar-benar ingin mengakhiri perang, atau justru memanfaatkan proses mediasi untuk mengulur waktu dan memperkuat posisi militernya? Selain itu, apakah Presiden Trump memiliki cukup pengaruh untuk menekan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, agar menghentikan operasi militer?

Ada pula kekhawatiran bahwa Israel akan terus melanjutkan operasi hingga memperkuat kontrol atas wilayah yang dipersengketakan di Lebanon selatan.

Di sisi lain, apakah Iran bersedia menerima gencatan senjata dengan syarat yang mungkin dianggap tidak adil? Terlebih, Teheran menilai tidak ada dasar kuat bagi Amerika Serikat dan Israel untuk memulai perang selain asumsi bahwa Iran berada dalam kondisi lemah.

Faktanya, respons Iran justru mengejutkan banyak pihak. Setelah kematian pemimpin tertinggi Ali Khamenei, Iran tetap mampu bertahan dan bahkan menunjukkan perlawanan militer terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Selain itu, posisi Iran semakin kuat setelah menguasai akses di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global. Penutupan jalur ini memberikan leverage tambahan bagi Teheran dalam negosiasi.

Pakistan sendiri dinilai berhasil menjaga keseimbangan diplomatik. Islamabad tetap menjalin komunikasi dengan semua pihak, sekaligus memperhatikan kepentingan strategisnya dengan Amerika Serikat dan negara-negara Teluk.

Di satu sisi, Pakistan menyampaikan belasungkawa atas wafatnya pemimpin Iran. Namun di sisi lain, negara ini juga mengungkapkan kekhawatiran atas serangan rudal dan drone Iran ke wilayah Teluk.

Pendekatan seimbang inilah yang membuat Pakistan tetap dipercaya oleh berbagai pihak. Bahkan, Iran dinilai masih terbuka terhadap peran Islamabad sebagai jembatan diplomasi.

Saat ini, Iran menolak bernegosiasi langsung dengan Amerika Serikat dan mengajukan sejumlah prasyarat, termasuk jaminan keamanan terhadap potensi agresi di masa depan. Iran juga menegaskan tidak akan melepaskan haknya untuk memperkaya uranium untuk tujuan damai.

Teheran bahkan mengusulkan agar Amerika Serikat terlebih dahulu mengumumkan gencatan senjata sepihak serta menarik pasukannya dari kawasan. Selain itu, Iran juga menuntut kompensasi atas dampak perang—tuntutan yang sejauh ini belum mendapat respons positif dari Washington.

Dengan berbagai posisi yang saling bertolak belakang, mempertemukan kedua pihak di meja perundingan saja sudah menjadi tantangan besar, apalagi mencapai kesepakatan damai yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, penyelesaian konflik secara permanen sulit dicapai tanpa menyentuh akar persoalan yang lebih luas, termasuk isu Palestina. Oleh karena itu, langkah paling realistis saat ini adalah mendorong gencatan senjata segera, meskipun bersifat sementara.

Menurut laporan, proposal gencatan senjata telah disampaikan Amerika Serikat kepada Iran melalui Pakistan. Ini menjadi awal yang positif. Setidaknya, gencatan senjata sementara selama satu bulan dapat membuka jalan menuju penyelesaian yang lebih permanen.

Dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya, Pakistan dinilai memiliki peluang besar untuk memainkan peran kunci dalam upaya tersebut. Kini, harapannya terletak pada kesediaan semua pihak untuk menahan diri sebelum situasi semakin memburuk.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler