HomeBeritaAktivis GSF Ungkap Dugaan Kekerasan Israel: Pemerkosaan, Tulang Patah hingga Penembakan Peluru...

Aktivis GSF Ungkap Dugaan Kekerasan Israel: Pemerkosaan, Tulang Patah hingga Penembakan Peluru Karet

TURKEY – Sejumlah aktivis kemanusiaan internasional yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) mengungkap dugaan tindakan brutal yang dilakukan aparat Israel selama proses penahanan usai pencegatan kapal bantuan menuju Gaza di Laut Mediterania.

Dalam kesaksian terbaru yang disampaikan para peserta flotilla, sedikitnya terjadi 15 kasus kekerasan seksual, termasuk dugaan pemerkosaan terhadap para tahanan. Selain itu, sejumlah aktivis dilaporkan ditembak menggunakan peluru karet dari jarak dekat serta mengalami patah tulang akibat kekerasan fisik selama masa penahanan.

“Sedikitnya terdapat 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan. Sejumlah peserta ditembak peluru karet dari jarak dekat, dan puluhan lainnya mengalami patah tulang,” demikian pernyataan yang disampaikan jaringan aktivis Global Sumud Flotilla.

Para aktivis menegaskan bahwa penderitaan yang mereka alami hanyalah sebagian kecil dari realitas yang selama ini dialami warga Palestina di bawah blokade dan operasi militer Israel.

“Dunia kini melihat penderitaan yang dialami peserta flotilla kami. Namun kami ingin menegaskan, ini hanyalah secuil gambaran dari brutalitas yang setiap hari dialami tahanan Palestina,” lanjut pernyataan tersebut.

Insiden ini kembali memicu kecaman internasional terhadap tindakan Israel yang mencegat armada kemanusiaan di perairan internasional. Sebelumnya, kapal-kapal Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan dan relawan dari berbagai negara dicegat militer Israel saat berupaya menembus blokade Gaza.

Ratusan aktivis, termasuk sembilan Warga Negara Indonesia (WNI), sempat ditahan sebelum akhirnya dibebaskan dan dideportasi melalui sejumlah negara transit, termasuk Turki.

Organisasi hak asasi manusia internasional dan sejumlah anggota Parlemen Uni Eropa sebelumnya juga telah mendesak dilakukan investigasi independen terhadap dugaan penyiksaan, kekerasan fisik, hingga kekerasan seksual terhadap peserta flotilla. Sebanyak 37 anggota Parlemen Eropa bahkan menyerukan penangguhan kerja sama Uni Eropa–Israel hingga ada pertanggungjawaban atas insiden tersebut.

Kesaksian para aktivis juga menyebut adanya intimidasi, pemborgolan, pemukulan, serta perlakuan tidak manusiawi selama proses penahanan. Beberapa korban mengaku dipaksa berlutut dan mengalami penghinaan verbal saat berada di fasilitas detensi Israel.

Di tengah gelombang kecaman internasional, jaringan solidaritas Palestina di berbagai negara menyerukan peningkatan tekanan global terhadap Israel. Mereka menilai pernyataan kecaman semata tidak cukup untuk menghentikan kekerasan yang terus berlangsung di Gaza dan wilayah pendudukan Palestina.

“Jangan berhenti. Pernyataan kecaman saja tidak cukup. Momentum ini harus dimanfaatkan masyarakat dunia untuk memberikan tekanan nyata demi mengakhiri kolonialisme dan kekerasan ini,” demikian seruan para aktivis.

Mereka juga mengajak masyarakat internasional untuk meningkatkan gerakan boikot, divestasi, aksi langsung, serta mendesak pemerintah masing-masing mengambil langkah politik dan diplomatik yang lebih tegas terhadap Israel.

“Bila momen ini bisa menjadi titik kebangkitan global, maka bergabunglah bersama kami di mana pun berada. Bangkitlah agar kita bisa mengakhiri pendudukan, kolonialisme, dan kekerasan ini. Bebaskan Palestina sekarang juga,” ujar salah satu pernyataan peserta flotilla.

Hingga kini, berbagai organisasi kemanusiaan internasional terus mendesak dibukanya akses bantuan ke Gaza dan dihentikannya blokade yang telah memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. (cky)

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler