Juru bicara IDF Brigadir Jenderal Effie Defrin mengatakan pihaknya kekurangan 15.000, termasuk 7.000 hingga 8.000 pasukan tempur garis depan.
Hal itu dilaporkan media Israel, JFeed pada Kamis, 27/3.
Kata Defrin, misi IDF telah meluas. Dia menekankan pihak IDF sangat membutuhkan undang-undang rekrutmen baru serta perpanjangan masa wajib militer untuk menutup kekurangan tersebut.
Krisis ini semakin diperparah oleh kebutuhan menjaga keamanan di wilayah Tepi Barat sambil menjalankan operasi darat besar-besaran di Lebanon selatan.
Krisis personel
Lembaga keamanan Israel tengah menghadapi krisis internal serius. Dalam rapat penting Kabinet Politik-Keamanan, Kepala Staf Letnan Jenderal Eyal Zamir mengungkapkan IDF kesulitan memenuhi tuntutan perang multi-front.
Zamir dilaporkan mengatakan kepada para menteri, beban yang ditanggung prajurit saat ini tidak lagi berkelanjutan. Ia bahkan mengangkat “sepuluh tanda bahaya” untuk menunjukkan bahwa struktur militer bisa runtuh di bawah tekanan misi yang terus meluas di Lebanon, Gaza, dan kawasan lainnya.
Pertarungan Politik Memanas
Pernyataan Kepala Staf memicu perdebatan politik sengit. Ketua Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan, Boaz Bismut, dilaporkan mengkritik Zamir dan menyebut peringatannya sebagai “tidak bertanggung jawab.”
Sebaliknya, pemimpin oposisi Yair Lapid mengecam cara pemerintah menangani krisis ini. Ia menyatakan bahwa jika terjadi bencana di masa depan, para menteri tidak bisa mengklaim bahwa mereka tidak mengetahui risiko yang ada.
Dengan 15.000 posisi yang belum terisi dan perang yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, pimpinan militer menegaskan bahwa tanpa perubahan signifikan dalam kebijakan rekrutmen, kekuatan tempur elit yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung Israel berpotensi menghadapi keruntuhan internal yang belum pernah terjadi sebelumnya.


