Wawancara Eksklusif dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi: “Belum Ada Negosiasi Formal dengan AS, Hanya Pertukaran Pesan”
Al Jazeera: Sekarang banyak yang berbicara tentang negosiasi. Ada pandangan AS bahwa negosiasi sedang berlangsung dan Iran menerima syarat-syarat mereka. Bagaimana posisi Iran?
Abbas Araghchi: Dalam hubungan internasional, negosiasi berarti dua negara duduk berhadapan untuk mencapai kesepakatan. Saat ini, hal itu tidak terjadi antara kami dan AS. Yang ada hanyalah pertukaran pesan, baik langsung maupun melalui teman-teman kami di kawasan. Pesan-pesan ini mungkin berisi peringatan dari salah satu pihak, tapi tidak ada negosiasi formal. Semua klaim sebaliknya tidak benar.
Al Jazeera: Anda menyebut pertukaran pesan secara langsung. Apakah ini berarti ada kontak dengan pejabat AS?
Araghchi: Pertukaran pesan berlangsung melalui perantara. Witkoff, utusan AS, mengirim pesan seperti sebelumnya, tapi ini bukan negosiasi. Pesan disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri atau kadang lembaga keamanan, semuanya dalam kerangka pemerintah dan diawasi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Al Jazeera: Ada klaim bahwa Iran menanggapi 15 usulan AS. Benarkah?
Araghchi: Hingga saat ini, kami belum memberikan tanggapan apapun terhadap rencana 15 poin AS. Kami juga tidak mengajukan proposal atau syarat apapun. Semua klaim tentang hal ini hanyalah spekulasi media.
Al Jazeera: Apakah ada kondisi atau syarat yang diajukan Iran?
Araghchi: Kami belum menawarkan syarat atau proposal apapun kepada AS. Apa yang beredar adalah spekulasi media, bukan keputusan resmi dari Iran.
Al Jazeera: Apa landasan yang diperlukan untuk memulai negosiasi dengan AS?
Araghchi: Negosiasi akan dipertimbangkan bila kepemimpinan tertinggi yakin bahwa kepentingan rakyat Iran terpenuhi. Saat ini, fokus kami adalah mempertahankan diri dari agresi AS dan Israel. Setiap langkah selanjutnya akan diarahkan untuk melindungi kepentingan rakyat.
Al Jazeera: Mengapa ada ketidakpercayaan terhadap AS?
Araghchi: Iran pernah mengalami pengalaman buruk: kesepakatan nuklir ditinggalkan sepihak, dan negosiasi sebelumnya berakhir dengan serangan dan agresi. Jadi, tingkat kepercayaan terhadap AS saat ini nol. Setiap tawaran mereka harus dievaluasi secara cermat.
Al Jazeera: Bagaimana dengan jaminan dari mediator regional seperti Pakistan, Mesir, atau Turki?
Araghchi: Satu atau dua negara saja tidak cukup. Saat ini, kami sedang mempelajari berbagai usulan untuk menemukan mekanisme jaminan yang efektif jika suatu saat negosiasi benar-benar terjadi.
Al Jazeera: Bagaimana tanggapan Iran terhadap ancaman AS dan tenggat waktu 6 April?
Araghchi: Kami tidak menerima ultimatum atau batas waktu. Yang penting adalah melindungi kepentingan rakyat Iran. Ultimatum buatan hanya memperumit situasi. Bahasa yang digunakan harus hormat; jika tidak, Iran akan merespons di medan perang.
Al Jazeera: Bagaimana posisi Iran terkait Selat Hormuz?
Araghchi: Selat Hormuz berada dalam perairan internal Iran dan Oman. Saat ini selat terbuka penuh, kecuali untuk kapal pihak yang sedang berperang dengan Iran. Untuk negara lain, terutama sekutu, kami membuat pengaturan agar bisa melewati selat dengan aman.
Al Jazeera: Bagaimana Iran menanggapi kemungkinan serangan darat atau ekspansi wilayah, seperti Bab el-Mandeb dan Laut Merah?
Araghchi: Kami siap menghadapi ancaman darat dan ekspansi wilayah. Untuk Bab el-Mandeb, keputusan ada di tangan negara setempat dan Yaman. Iran tidak meminta bantuan pihak lain, tapi siap mendukung jika kelompok regional bertindak mendukung rakyat Iran.
Al Jazeera: Apakah poros perlawanan harus hadir dalam negosiasi dengan AS?
Araghchi: Saat ini tidak ada rencana negosiasi. Tapi bila negosiasi terjadi, keberadaan kelompok regional akan dipertimbangkan. Iran ingin penyelesaian perang yang menyeluruh di seluruh kawasan, termasuk Iran, Lebanon, Irak, Yaman, dan wilayah lain.
Al Jazeera: Bagaimana dengan durasi perang dan target AS?
Araghchi: Kami tidak menetapkan batas waktu. Kami akan terus membela diri sejauh yang diperlukan. Kami siap bertahan selama enam bulan atau lebih, jika diperlukan. Target kami adalah infrastruktur dan pasukan AS, bukan negara sahabat di Teluk.
Al Jazeera: Bagaimana hubungan Iran dengan negara-negara kawasan ke depan?
Araghchi: Kami berharap membangun kembali kepercayaan melalui niat baik, nilai Islam, dan kepentingan bersama. Keamanan kawasan harus menjadi tanggung jawab regional, bukan kekuatan asing. Keamanan dan kemakmuran dapat dicapai melalui kerjasama regional dan perjanjian ekonomi serta keamanan antarnegara.


