Sikap Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa yang mengabaikan pertanyaan wartawan Israel dalam konferensi pers di Berlin memicu polemik luas, dengan media Israel mengecam keras, sementara publik Arab menilainya sebagai pesan politik yang tegas.
Dikutip dari Aljazeera Arabic, peristiwa itu terjadi dalam konferensi pers bersama Kanselir Jerman Friedrich Merz, ketika seorang jurnalis dari televisi resmi Israel mencoba mengajukan pertanyaan terkait Israel kepada Presiden Suriah.
Namun, al-Sharaa memilih untuk tidak merespons sama sekali dan meninggalkan ruangan tanpa menoleh atau menjawab pertanyaan tersebut.
Media Israel Bereaksi Keras
Insiden singkat itu segera memicu reaksi dari media Israel, yang menilai tindakan al-Sharaa sebagai “tidak pantas”, bahkan “rasis”.
Kecaman tersebut mencerminkan sensitivitas tinggi terhadap sikap resmi Suriah, terutama di tengah meningkatnya perhatian Israel terhadap dinamika politik Damaskus.
Respons Berbeda di Dunia Arab
Sebaliknya, di media sosial Arab, respons yang muncul justru berbanding terbalik. Banyak pengguna menilai sikap tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap normalisasi, pesan politik yang disengaja, bukan sekadar reaksi spontan.
Sejumlah komentar menyebut tindakan itu sebagai “sikap terhormat” yang menunjukkan ketegasan dalam menentukan prioritas politik tanpa memberi legitimasi kepada pihak yang tidak diakui.
Sorotan terhadap Media Israel
Pengamat juga menyoroti meningkatnya perhatian media Israel terhadap Suriah, yang dinilai tidak biasa bahkan belum pernah terjadi sebelumnya.
Hal ini terlihat dari kehadiran langsung jurnalis Israel di Berlin untuk meliput kunjungan al-Sharaa secara rinci. Sebagian analis menilai intensitas liputan ini sebagai upaya Israel untuk mengangkat kembali isu Suriah ke panggung regional danmengaitkannya dengan agenda perdamaian atau eskalasi baru di kawasan.
Makna Politik di Balik “Diam”
Sejumlah komentator menilai keputusan al-Sharaa untuk diam bukanlah kebetulan. Menurut mereka diam dalam momen tersebut adalah bentuk kontrol pesan politik.
Salah satu analisis menyebut bahwa menerima pertanyaan dari media Israel dapat ditafsirkan sebagai bentuk pengakuan tidak langsung atau normalisasi gratis di tengah situasi sensitif.
Karena itu, sikap diam dinilai sebagai cara untuk menjaga posisi politik tanpa harus masuk dalam konfrontasi verbal terbuka.
Lebih dari Sekadar Insiden Singkat
Meski hanya berlangsung beberapa detik, insiden ini mencerminkan kompleksitas hubungan Suriah–Israel, strategi komunikasi politik di hadapan media internasional, serta dinamika regional yang terus berubah.
Peristiwa di Berlin itu menunjukkan bahwa dalam politik Timur Tengah, bahkan sikap diam dapat menjadi pesan yang lebih kuat daripada pernyataan terbuka.


