Sejak kembali ke Gedung Putih awal tahun lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus mengisyaratkan kemungkinan menarik negaranya dari NATO. Kini, menurut laporan The Guardian, langkah itu dinilai lebih dekat dari sebelumnya—terutama di tengah perang AS melawan Iran yang hanya mendapat dukungan terbatas dari negara anggota aliansi tersebut.
Surat kabar itu menilai, jika benar terjadi, penarikan AS dari NATO akan menjadi guncangan besar bagi tatanan keamanan Barat yang dibangun sejak setelah World War II, bertahan sepanjang Perang Dingin melawan Uni Soviet, dan meluas setelah runtuhnya komunisme di Eropa Timur pada 1989.
Dalam analisisnya, jurnalis Robert Tait mengulas potensi langkah Trump tersebut melalui sejumlah poin kunci:
1. Prinsip utama NATO yang jarang digunakan
Pasal 5 NATO menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap semua. Prinsip ini hanya pernah diterapkan sekali, yakni setelah September 11 attacks, ketika negara-negara anggota mengirim pasukan ke Afghanistan untuk mendukung operasi militer AS.
2. Alasan Trump mempertimbangkan keluar
Trump disebut geram karena NATO tidak mendukung AS dalam perang melawan Iran. Namun, menurut The Guardian, piagam NATO memang tidak mewajibkan hal itu karena AS tidak diserang, dan sekutu juga tidak diajak berkonsultasi sebelumnya. Trump bahkan menyebut NATO sebagai “macan kertas” dan mengisyaratkan keputusan keluar sudah bulat.
3. Akar ketegangan Trump dengan NATO
Sejak 2017, Trump kerap menyebut NATO “usang” dan menuduh negara-negara Eropa tidak berkontribusi cukup dalam anggaran pertahanan. Pada 2024, ia bahkan mengancam akan mendorong Rusia “melakukan apa pun yang diinginkan” terhadap negara anggota yang tidak memenuhi target belanja militer.
4. Respons negara anggota
Menghadapi tekanan Trump, para pemimpin Eropa berupaya meredakan ketegangan. Pada Juni lalu, negara anggota sepakat meningkatkan belanja pertahanan hingga 5 persen dari PDB pada 2035.
5. Peran strategis NATO
NATO memainkan peran penting dalam menahan agresi Rusia di Ukraina, sekaligus menjadi faktor penangkal agar Rusia tidak menyerang negara anggota lain seperti Polandia dan negara-negara Baltik.
6. Bobot Amerika dalam aliansi
AS menjadi tulang punggung NATO dengan menyediakan “payung nuklir”, mengingat arsenal nuklirnya jauh lebih besar dibanding Inggris dan Prancis. Selain itu, kehadiran pangkalan militer AS di Eropa menjadi elemen penting dalam strategi pencegahan.
7. Mekanisme keluar yang rumit
Secara hukum, presiden AS tidak bisa begitu saja menarik diri dari NATO tanpa persetujuan dua pertiga Senat atau undang-undang dari Kongres. Namun, Trump dinilai berpotensi mengakali aturan tersebut, misalnya dengan menarik pasukan AS dari struktur komando NATO tanpa keluar secara resmi.
Mantan duta besar AS untuk NATO, Ivo Daalder, menyebut skenario ini memungkinkan: AS tetap menjadi anggota secara formal, tetapi tidak lagi memberikan dukungan militer nyata.


