Pada pukul empat dini hari tanggal 28 Februari 2026, ketika Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sedang tidur di sebuah kompleks rahasia di Tehran, sembilan ratus rudal Amerika Serikat dan rezim Zionis menghantam tanah Iran dalam dua belas jam. Operasi gabungan itu — yang dikodifikasi oleh Pentagon sebagai Operation Epic Fury — menjadi serangan militer paling besar terhadap satu negara non-NATO di abad kedua puluh satu. Pada pagi yang sama, Khamenei — lelaki delapan puluh enam tahun yang telah memimpin Republik Islam Iran selama tiga puluh tujuh tahun — menjadi syuhada bersama lebih dari dua puluh pejabat senior. Di kota pelabuhan Minab dekat Bandar Abbas, rudal yang sama menghantam sekolah perempuan yang bersebelahan dengan pangkalan angkatan laut, menewaskan seratus tujuh puluh anak perempuan dan guru mereka.
Tiga bulan kemudian, pada Sabtu tanggal 30 Mei 2026, sebuah fakta yang sangat sederhana mendefinisikan ulang seluruh kalkulasi geopolitik Washington dan Tel Aviv: Khamenei telah mati, tetapi Hamas masih hidup. Selat Hormuz masih tertutup. Sembilan ratus sepuluh warga Palestina baru saja menjadi syuhada selama tujuh bulan periode “gencatan senjata” yang dideklarasikan Trump pada Oktober 2025. Brankas Board of Peace yang seharusnya membiayai rekonstruksi Gaza masih kosong sempurna. Dan di Gaza, panglima militer Hamas baru — penerus Izz al-Din al-Haddad yang menjadi syuhada pada 15 Mei — menjadi syuhada pada hari kedua Iduladha, 28 Mei 2026, hanya dua minggu setelah dilantik.
Inilah pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur oleh siapa pun yang ingin memahami arah ke depan dari nasib Palestina: jika seluruh arsitektur militer dan diplomatik AS-Israel selama lima belas bulan terakhir dirancang untuk melumpuhkan Iran agar Hamas pada akhirnya menyerah, mengapa Hamas justru bertindak sebaliknya — emboldened, bukan demoralized?
Anatomi Operation Epic Fury
Pada pertengahan pagi 28 Februari 2026, pesawat-pesawat tempur F-35 Amerika dan rezim Zionis melancarkan sembilan ratus serangan udara presisi dalam dua belas jam pertama operasi. Target meliputi fasilitas nuklir di Natanz, Fordow, dan Isfahan; pangkalan rudal balistik di Khorramabad dan Bandar Abbas; pos komando militer di Tehran dan Qom; dan yang paling kontroversial, lokasi-lokasi yang diidentifikasi intelijen Israel sebagai “leadership targets” — tempat-tempat di mana Khamenei dan pejabat tertingginya berada.
Yang paling memilukan adalah peristiwa Minab. Pada pagi yang sama dengan kematian Khamenei, sebuah rudal yang seharusnya menarget pangkalan angkatan laut Iran melenceng dan menghantam Sekolah Tinggi Putri Khatam al-Anbia. Seratus tujuh puluh anak perempuan dan guru perempuan mereka menjadi syuhada di kelas-kelas yang seharusnya menjadi tempat belajar matematika. Pentagon menyebut peristiwa itu sebagai “kerusakan kolateral yang tidak terhindarkan.” Iran menyebutnya pembantaian.
Pada 1 Maret 2026, Interim Leadership Council dibentuk di Tehran. Tujuh hari kemudian, pada 8 Maret 2026, putra Khamenei — Mojtaba Khamenei, lima puluh enam tahun, yang sendiri terluka dalam serangan yang menewaskan ayahnya — secara resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Güney Yıldız, penulis Forbes, menyebut penunjukannya sebagai “tanda konsolidasi IRGC di belakang figurehead yang pliant.”
Empat Pukulan ke Axis of Resistance
Kematian Khamenei adalah pukulan keempat dari empat pukulan berturut-turut yang dilancarkan terhadap apa yang Iran sebut sebagai Axis of Resistance — jaringan kekuatan militer yang Tehran bangun di kawasan Timur Tengah selama empat dekade.
Pukulan pertama: jatuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah pada Desember 2024. Selama lebih dari satu dekade, Iran mempertahankan koridor strategis dari Tehran ke Beirut melalui Suriah untuk memasok senjata kepada Hizbullah. Ketika Assad melarikan diri, koridor itu putus. Pukulan kedua: penghancuran sistematis Hizbullah selama 2024, ketika Israel membunuh Sekretaris Jenderalnya Hassan Nasrallah. Pukulan ketiga: Perang Dua Belas Hari pada Juni 2025, ketika Israel sendiri melancarkan serangan pertama terhadap fasilitas nuklir Iran. Pukulan keempat, Operation Epic Fury Februari 2026, adalah eksekusi puncak.
“Apa yang Iran sebut sebagai ‘forward defence’ — strategi mempertahankan diri lewat jaringan proksi yang ditempatkan jauh dari perbatasannya sendiri — telah berubah menjadi boomerang strategis.”
Itu rumusan jurnal Chatham House dalam analisis 16 Maret 2026. Argumennya tajam: dengan menempatkan kapasitas militernya di Hamas, Hizbullah, dan Houthi, Iran menciptakan target-target yang mudah dihancurkan satu per satu oleh Israel tanpa risiko serangan balasan langsung ke wilayah Iran. Ketika proksi terakhir — Hamas — diisolasi, Iran tinggal sendirian. Pada saat itulah Operation Epic Fury diluncurkan.
Diam Militer Hamas selama Tiga Minggu
Tetapi yang menarik bukan kematian Khamenei. Yang menarik adalah respons Gaza.
Pada 2 Maret 2026, hanya dua hari setelah Khamenei tewas, Hizbullah meluncurkan rentetan rudal ke wilayah utara rezim Zionis sebagai aksi solidaritas. Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menyebut pembunuhan Khamenei sebagai “the height of crime.” Houthi Yaman menyerang kapal-kapal Amerika di Laut Merah. Milisi Syiah di Irak menyerang basis-basis AS. Tetapi di Gaza, Hamas — organisasi yang seharusnya menjadi proksi Iran paling penting di wilayah Palestina — tidak meluncurkan satu operasi militer besar pun selama tiga minggu pertama perang Iran. Tidak ada deklarasi bergabung dalam pertempuran melawan AS. Tidak ada eskalasi serangan terhadap pasukan rezim Zionis di Gaza.
Diam militer ini bukan diam komunikasi. Pada 1 Maret 2026, hanya satu hari setelah Khamenei tewas, Hamas mengeluarkan pernyataan resmi yang sangat tegas:
“Beliau memberikan segala bentuk dukungan politik, diplomatik, dan militer kepada rakyat kami, perjuangan kami, dan perlawanan kami. AS dan rezim Zionis bertanggung jawab penuh atas agresi terang-terangan ini.”
Diam militer Hamas memiliki latar belakang struktural. Pada Februari 2026, sebelum perang Iran pecah, Hamas menyelenggarakan pemilihan internal yang menghasilkan keretakan antara dua kubu: kubu pro-Iran yang dipimpin Khalil al-Hayya — pemimpin Hamas di Gaza dan negosiator utama gencatan senjata — dan kubu pragmatis yang lebih terbuka pada normalisasi dengan negara-negara Arab Teluk. Hasil pemilihan yang seharusnya diumumkan pada Ramadan Maret 2026 tertunda karena bayang-bayang perang Iran. Diam militer Hamas adalah refleksi paralisis strategis di tengah perebutan kepemimpinan.
Khalil al-Hayya dan Kemenangan Perang Ramadan
Lahir di Gaza City pada 1960, Khalil al-Hayya adalah salah satu pendiri sayap politik Hamas. Setelah pembunuhan Yahya Sinwar pada Oktober 2024 di Rafah dan Ismail Haniyeh pada Juli 2024 di Tehran, Hayya menjadi tokoh paling senior yang masih hidup. Sebagai mantan deputy Sinwar, ia dipandang banyak analis sebagai penerus de facto kepemimpinan strategis Hamas — dengan satu perbedaan kunci: Hayya beroperasi dari Doha, bukan dari terowongan Gaza.
Pada 5 Juni 2026, Hayya melakukan percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi untuk membahas situasi regional pasca-perang. Dalam laporan kantor berita Tasnim, Hayya mengungkapkan kembali belasungkawanya atas kesyahidan Khamenei, kemudian memberikan formulasi yang sangat penting tentang hasil perang itu:
“Iran berhasil mengusir agresi dan menggagalkan tujuan-tujuan agresor. Republik Islam telah memenangkan Perang Ramadan.”
Istilah “Perang Ramadan” dipakai Hayya karena Operation Epic Fury yang dimulai 28 Februari 2026 bersinggungan langsung dengan bulan Ramadan 1447 H, yang di Iran dimulai 17 Februari 2026. Formulasi Hayya perlu dipahami dengan teliti. Ia tidak mengatakan Iran menang dalam pengertian militer konvensional — jelas Iran kehilangan pemimpin tertinggi, ribuan rudal balistik, dan sebagian besar fasilitas nuklirnya. Tetapi Hayya mengatakan Iran berhasil “menggagalkan tujuan-tujuan agresor.” Tujuan utama Operation Epic Fury, sebagaimana dinyatakan Trump dan Netanyahu di awal operasi, adalah perubahan rezim di Iran. Rezim tidak berubah. Mojtaba Khamenei masih duduk di jabatan ayahnya. IRGC masih mengendalikan struktur militer Iran. Republik Islam masih berdiri.
Dan itu yang menjadikan Hamas tetap bersikukuh menolak melucuti senjatanya. Karena jika Iran sebagai patron utama tetap berdiri — meskipun melemah — maka Hamas tetap punya backstop politis. Tidak ada insentif menyerah pada syarat-syarat AS dan rezim Zionis yang menuntut penyerahan senjata tanpa pengakuan kemerdekaan Palestina.
Kalkulasi Washington yang Salah
Ada satu kalimat yang dipublikasi Times of Israel pada 14 Mei 2026 yang merangkum seluruh paradoks strategis dari perang Iran:
“AS mengira perang Iran akan mempercepat demiliterisasi Gaza. Justru sebaliknya, Hamas malah emboldened.”
Asumsi yang melandasi kalkulasi Washington dapat dirumuskan sebagai berikut: jika Iran sebagai patron Hamas dipukul cukup keras sampai melemah, maka Hamas akan kehilangan dukungan logistik, dana, dan moral; tanpa Iran, Hamas akan dipaksa menerima syarat penyerahan senjata yang sudah lama ditawarkan Board of Peace; dengan Hamas dilucuti, Gaza dapat dimasuki dalam fase “rekonstruksi” yang akan dibiayai oleh tujuh belas miliar dolar dana donor internasional. Itulah rancangannya.
Yang terjadi adalah kebalikannya. Pertama, brankas Board of Peace masih kosong sempurna pada akhir Mei 2026 — nol dolar dari tujuh belas miliar dolar yang dijanjikan, sebagaimana sudah dianalisis sebelumnya di kolom ini. Kedua, Hamas tidak hanya tidak menyerah — ia justru mengeras. Khalil al-Hayya, sebagai kepala kubu pro-Iran, kini bicara dengan otoritas yang sebelumnya tidak ia miliki. Internal election Hamas tampaknya sudah dimenangkan kubu pro-Iran. Ketiga, panglima militer Hamas baru memang gugur pada 28 Mei 2026, tetapi struktur komando lapangan tetap berdiri dan posisi pengganti segera diisi nama-nama baru. Pada 6 Maret 2026, Trump berbicara dengan kalimat yang sangat eksplisit: “Akan ada hell to pay jika Hamas tidak menyerahkan senjatanya.” Tiga bulan kemudian, Hamas belum menyerahkan senjatanya. Tidak ada “hell to pay” yang efektif dilancarkan.
Satu Kartu Strategis Iran: Selat Hormuz
Sementara kalkulasi politik Washington berantakan, Iran memainkan satu kartu strategis yang efeknya jauh melampaui hubungan AS-Iran: penutupan Selat Hormuz. Sekitar dua puluh persen minyak dunia mengalir lewat selat sempit antara semenanjung Arab dan pesisir Iran ini setiap hari. Pada awal Maret 2026, sebagai respons terhadap Operation Epic Fury, Iran menutup selat untuk lalu lintas komersial — dengan menempatkan ranjau magnetik bawah air dan mendeploy drone pengintai. Tiga bulan kemudian, pada 30 Mei 2026, penutupan itu masih efektif. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam, inflasi global meningkat, dan prioritas politik para pengambil keputusan di Berlin, Tokyo, dan Seoul bergeser dari “membiayai rekonstruksi Gaza” ke “menstabilkan pasokan energi nasional.” Inilah kontribusi tak terduga Iran kepada perjuangan Palestina: dengan menutup Hormuz, Tehran secara tidak sengaja membuat fund Board of Peace menjadi prioritas yang terlalu mewah untuk dipikul oleh donor mana pun yang sedang berjuang dengan tagihan listrik domestik mereka sendiri.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
Tiga bulan setelah Khamenei mati dan Hamas tetap berdiri, apa yang dapat dilakukan oleh seseorang di Jakarta, Surabaya, atau Makassar yang membaca kolom analisis ini?
Pertama, tolak narasi bahwa “Iran melemah sama dengan Palestina kalah.” Justru sebaliknya — melemahnya Iran tidak menghilangkan perjuangan Palestina karena perjuangan itu tidak pernah sepenuhnya bergantung pada Iran. Hamas memang menerima dukungan Iran selama empat dekade, sebagaimana diakui pernyataan resmi mereka pada 1 Maret 2026. Tetapi akar perjuangan Palestina bukan di Tehran. Ia di tanah Palestina sendiri — dari Yerusalem ke Hebron ke Beit Lahiya. Iran adalah patron, bukan ibu kandung. Patron bisa melemah; ibu kandung tetap menyusui.
Kedua, perkuat dukungan finansial kepada infrastruktur kemanusiaan dan medis Palestina yang independen dari struktur faksional. Lembaga seperti UNRWA, MER-C, Adara Foundation, BAZNAS, dan Dompet Dhuafa adalah jaringan yang sudah teruji menyalurkan bantuan langsung ke lapangan. Yang akan menentukan masa depan Palestina pada akhirnya bukan pemilihan internal Hamas atau kalkulasi geopolitik Tehran — melainkan kemampuan rumah sakit, sekolah, klinik gizi, dan layanan air bersih untuk tetap beroperasi di tengah blokade. Setiap rupiah yang masuk ke lembaga-lembaga ini adalah investasi pada kesinambungan kehidupan sipil Palestina.
Ketiga, lawan narasi “stabilisasi pasca-perang” yang akan disodorkan dalam beberapa bulan ke depan. Begitu pertukaran tembakan AS-Iran mereda dan Selat Hormuz dibuka kembali, akan ada gelombang baru retorika tentang “rekonstruksi Gaza,” “normalisasi diplomatik,” dan “integrasi regional” yang seolah-olah menawarkan jalan keluar terhormat. Tetapi setiap formula ini akan disertai syarat tersirat: rakyat Palestina harus menerima aneksasi Tepi Barat, kehilangan Yerusalem Timur, dan menerima hidup di bawah otoritas teknokrat yang ditunjuk Trump. Tugas pers Indonesia dan suara publik kita adalah menolak narasi ini dengan suara yang jernih: tidak ada stabilisasi sejati tanpa keadilan struktural.
Pada pukul empat dini hari tanggal 28 Februari 2026 di Tehran, Ali Khamenei — lelaki yang selama tiga puluh tujuh tahun memimpin Republik Islam Iran, yang berkali-kali dalam pidato-pidatonya menyatakan bahwa Palestina “akan tetap hidup” meskipun semua proksi Tehran satu per satu dihancurkan — menjadi syuhada. Pada saat yang sama dengan kematiannya, di Gaza yang berjarak ribuan kilometer dari kamar tidurnya, seorang anak laki-laki Palestina sepuluh tahun bangun pagi-pagi sekali untuk membantu ayahnya mendistribusikan air kepada keluarga-keluarga tetangga di tenda pengungsian Khan Younis. Ia tidak tahu Khamenei mati. Ia hanya tahu air bersih harus diantar.
Pada pukul tiga sore tanggal 30 Mei 2026 — sembilan puluh satu hari setelah Khamenei mati — anak laki-laki yang sama masih bangun pagi-pagi sekali. Ia masih mendistribusikan air. Ia masih hidup. Itulah pernyataan paling penting yang harus dipahami tentang masa depan Gaza setelah perang Iran. Patron besar bisa dipenggal kepalanya di kompleks rahasia Tehran. Rudal balistik bisa dihancurkan di pangkalan Khorramabad. Pemimpin militer organisasi bisa dilantik dan kemudian dibunuh dalam tempo dua minggu. Tetapi seorang anak sepuluh tahun di tenda Khan Younis yang membantu ayahnya mendistribusikan air — anak itu tidak dapat dipadamkan oleh rudal Tomahawk mana pun.
Inilah yang akhirnya akan menentukan masa depan Palestina. Bukan kalkulasi Washington tentang “demiliterisasi.” Bukan kalkulasi Tehran tentang “forward defence.” Bukan kalkulasi Riyadh tentang “normalisasi.” Yang akan menentukan adalah kesabaran ribuan keluarga Palestina yang setiap pagi bangun untuk mendistribusikan air, mengajar anak-anak di tenda, merawat orang sakit di rumah sakit yang dibom, mendoakan syuhada, dan menolak menyerah — dari hari ke hari, dari Nakba 1948 hingga Operation Epic Fury 2026 dan apa pun yang akan datang setelahnya.
Pertanyaan yang harus kita ajukan, sebelum babak berikutnya dari perang regional dimulai dengan retorika yang lebih ambisius, sederhana sekali: jika rakyat Palestina sudah bertahan tujuh puluh delapan tahun melawan setiap formasi kekuasaan yang berbeda — dari Mandat Inggris ke Nakba ke Naksa ke Oslo ke Genosida ke Operation Epic Fury — apa yang membuat kita berpikir bahwa formasi berikutnya akan berhasil mengakhiri perjuangan mereka?


