GAZA CITY — Seorang anak Palestina dilaporkan tewas dan seorang anak lainnya mengalami luka-luka setelah sebuah pesawat nirawak (drone) menyerang mereka ketika sedang mengambil air di wilayah timur Kota Gaza pada Jumat (3/7). Insiden tersebut menambah daftar korban sipil di tengah gencatan senjata yang secara resmi masih berlaku sejak 10 Oktober 2025, namun terus diwarnai insiden kekerasan dan pelanggaran di lapangan.
Menurut keterangan badan pertahanan sipil di Gaza, kedua anak itu sedang mengisi air di belakang Masjid Al-Omari ketika sebuah drone menjatuhkan bahan peledak ke lokasi tersebut. Satu anak meninggal dunia di tempat, sementara korban lainnya mengalami luka dan dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan.
Peristiwa itu terjadi ketika sebagian besar warga Gaza masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih akibat rusaknya jaringan distribusi air selama konflik. Banyak keluarga yang tinggal di tenda pengungsian atau bangunan sementara harus berjalan cukup jauh untuk memperoleh air dari titik distribusi umum.
Pelanggaran Gencatan Senjata Masih Terjadi
Sejumlah laporan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa berbagai insiden keamanan masih terjadi di sejumlah wilayah Gaza meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diberlakukan.
Selain serangan drone, laporan dari berbagai sumber juga menyebut adanya pembongkaran bangunan, tembakan artileri, dan aktivitas militer di sejumlah lokasi di Jalur Gaza. Beberapa insiden tersebut tidak selalu menimbulkan korban jiwa, tetapi terus memengaruhi keamanan warga sipil dan menghambat aktivitas kemanusiaan.
Data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip sejumlah media internasional menyebutkan bahwa lebih dari seribu warga Palestina telah meninggal sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025 akibat berbagai insiden yang disebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.
Krisis Air dan Kondisi Kemanusiaan
Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui laporan terbaru juga mengingatkan bahwa kondisi kemanusiaan di Gaza masih sangat memprihatinkan. Kerusakan infrastruktur air, sanitasi, dan layanan dasar membuat sebagian besar penduduk tetap bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Banyak fasilitas umum, termasuk sekolah, tempat penampungan, serta pusat layanan kesehatan, masih beroperasi dalam keterbatasan akibat kerusakan yang belum sepenuhnya diperbaiki. Organisasi-organisasi kemanusiaan juga menyatakan bahwa perluasan wilayah yang berada di bawah kendali militer di beberapa bagian Gaza semakin membatasi akses bantuan kepada masyarakat sipil.
Berdasarkan data otoritas kesehatan Gaza hingga awal Juli 2026, jumlah korban tewas selama konflik telah melampaui 73 ribu orang, sementara kerusakan infrastruktur mencapai sebagian besar wilayah Jalur Gaza. Di sisi lain, proses rekonstruksi masih berlangsung lambat dan jutaan warga tetap menghadapi tantangan untuk memperoleh kebutuhan dasar sehari-hari.(IW)

