DOHA – Iran dan Amerika Serikat menyelesaikan putaran perundingan teknis tidak langsung pada Rabu (1/7) tanpa adanya tanda-tanda kemajuan menuju perdamaian yang berkelanjutan. Sementara itu Qatar menyatakan pertemuan berikutnya akan digelar setelah rangkaian prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran terdahulu, Ali Khamenei.
Sebaliknya, kedua negara memusatkan pembahasan pada sejumlah isu yang menurut mereka telah disepakati saat pengumuman perjanjian sementara dua pekan lalu.
Perundingan tidak langsung itu berlangsung setelah beberapa hari serangan balasan antara AS dan Iran di tengah perselisihan mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Siapa saja yang mengikuti perundingan?
Di Doha pada Rabu (1/6), Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani bertemu dengan utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, serta menegaskan kembali komitmen Qatar untuk terus memediasi, bersama Pakistan, guna mengakhiri perang di Timur Tengah.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memimpin tim teknis negaranya dalam perundingan tersebut.
Namun, dua negosiator utama Iran, yakni Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, tidak menghadiri pembicaraan itu.
Apa yang disepakati kedua pihak?
Meski kedua belah pihak tidak menjelaskan apakah mereka berhasil menjembatani perbedaan yang masih ada, Gharibabadi mengatakan kepada media Iran dua pertemuan telah dilaksanakan.
Pertemuan pertama membahas “pelanggaran kewajiban oleh Amerika Serikat”, kata Gharibabadi, seraya menambahkan kedua pihak sepakat membentuk saluran komunikasi guna menyelesaikan berbagai perselisihan.
Pertemuan kedua membahas pencairan dana Iran senilai 6 miliar dolar AS yang selama ini dibekukan.
“Dalam pertemuan dengan para pejabat Qatar, termasuk Bank Sentral, sejumlah isu terkait penggunaan sebagian dari dana awal sebesar 6 miliar dolar telah ditinjau,” kata Gharibabadi.
“Disepakati berdasarkan kebutuhan yang disampaikan oleh negara kami, barang-barang yang diperlukan akan dibeli dan disediakan untuk Iran.”
Bagaimana dengan Selat Hormuz dan program nuklir Iran?
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan pembahasan juga mencakup situasi di Selat Hormuz.
Sementara itu, sejumlah sumber yang mengetahui jalannya perundingan menyebut program nuklir Iran, aset Iran yang dibekukan, serta konflik di Lebanon juga menjadi bagian dari agenda pembahasan.
Berdasarkan data pelayaran, lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz mulai pulih.
Data dari Kpler menunjukkan pergerakan kapal dagang melalui Selat Hormuz meningkat lebih dari 50 persen pada pekan 22–28 Juni dibandingkan pekan sebelumnya.
Pada Kamis, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah laporan yang menyebut Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah memperoleh akses ke fasilitas nuklir Iran yang dibombardir selama perang 12 hari tahun lalu, yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Kantor penyiaran IRIB mengutip pernyataannya:
“Saat ini para inspektur hanya memiliki akses ke dua lokasi, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr dan reaktor di Teheran.”
Ghalibaf menambahkan parlemen Iran telah mengesahkan undang-undang yang melarang akses tersebut.
“Parlemen sendiri telah mengesahkan undang-undang itu, dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi juga telah mengeluarkan keputusan yang sejalan.”
Pernyataan Ghalibaf disampaikan setelah Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi mengatakan para inspektur badan tersebut “harus memiliki akses dan melakukan inspeksi” terhadap fasilitas nuklir Iran sesuai nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat.
Apa langkah selanjutnya?
Qatar menyatakan para negosiator Iran dan Amerika Serikat telah mencatat “kemajuan positif” dalam pembicaraan teknis di Doha.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al-Ansari menulis di platform X pada Rabu:
“Mediator Qatar dan Pakistan hari ini menyelesaikan pertemuan terpisah dengan para negosiator Amerika Serikat dan Iran di Doha, dengan kemajuan positif pada isu-isu yang berkaitan dengan Nota Kesepahaman Islamabad, sebagai tindak lanjut dari hasil KTT Danau Lucerne.”
Ia menambahkan:
“Kedua pihak sepakat untuk melanjutkan pembahasan dalam waktu dekat, dengan pertemuan berikutnya dijadwalkan sesegera mungkin setelah selesainya prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran terdahulu.”
Kementerian Luar Negeri Pakistan mengeluarkan pernyataan serupa pada Kamis.
Prosesi pemakaman selama enam hari untuk Pemimpin Tertinggi Iran terdahulu Ali Khamenei, yang disebut dalam laporan ini tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada hari pertama perang, dijadwalkan dimulai pada Sabtu di Iran dan Irak.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif termasuk di antara para pemimpin yang diperkirakan akan bertolak ke Teheran pada Jumat untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Khamenei.

