Seorang pejabat Hamas mengungkapkan Israel telah melakukan lebih dari 3.500 pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza sejak kesepakatan tersebut mulai berlaku.
Basem Naim, anggota Biro Politik Hamas, menuduh Israel melakukan ribuan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata di Gaza berdasarkan data yang disebutnya mencakup periode sejak gencatan senjata diberlakukan.
Dalam pernyataan yang diunggah di platform media sosial X pada Kamis (2/7), Naim menyatakan. Israel telah melakukan 3.503 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Menurut data yang ia sampaikan, pelanggaran tersebut menyebabkan 1.059 warga Palestina tewas dan 3.429 lainnya terluka.
Naim juga menuduh Israel terus membatasi masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza serta membatasi pergerakan para pelintas melalui Perlintasan Rafah.
Berdasarkan data yang dipublikasikannya, dugaan pelanggaran tersebut meliputi:
- 1.359 insiden penembakan;
- 1.546 insiden penembakan artileri;
- 145 serangan darat;
- 387 serangan udara;
- 66 penangkapan; dan
- 387 pembongkaran rumah.
Secara keseluruhan, rata-rata terjadi 13,3 pelanggaran per hari.
Secara terpisah, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sejak gencatan senjata mulai berlaku, jumlah korban tewas mencapai 1.059 orang, sementara 3.429 orang mengalami luka-luka, serta 788 jenazah berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan atau lokasi terdampak.
Kementerian tersebut juga menyatakan total korban akibat perang di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah meningkat menjadi 73.074 orang tewas dan 173.537 orang terluka.
Angka-angka yang disampaikan oleh Hamas maupun otoritas kesehatan di Gaza tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Gencatan senjata yang disepakati untuk menghentikan pertempuran di Gaza terus menghadapi tekanan akibat saling tuding pelanggaran dari kedua belah pihak. Sementara itu, perundingan masih terus berlangsung untuk mempertahankan gencatan senjata sekaligus mendorong tercapainya penyelesaian politik yang lebih luas.

