HomeSejarah Indonesia-PalestinaSejarah PalestinaIzz ad-Din al-Qassam: Ulama Suriah yang Namanya Melekat pada Gaza tanpa Pernah...

Izz ad-Din al-Qassam: Ulama Suriah yang Namanya Melekat pada Gaza tanpa Pernah Menginjakkan Kaki di Sana

GAZA CITY — Nama Izz ad-Din al-Qassam dikenal luas di Jalur Gaza hari ini melalui dua hal: Brigade Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas yang bermarkas di Gaza sejak 1991, dan roket rakitan lokal “Qassam” yang pertama kali diluncurkan dari Gaza pada 2001. Namun al-Qassam sendiri adalah tokoh abad ke-20 yang riwayat hidupnya berpusat di Suriah dan Haifa — bukan di Gaza. Artikel ini menelusuri siapa dia sebenarnya, dan bagaimana namanya sampai melekat pada sebuah wilayah yang tidak pernah ia kunjungi.

Dari Jableh ke Al-Azhar

Izz ad-Din al-Qassam lahir di Jableh, kota pesisir di selatan Latakia, Suriah, pada 19 Desember 1882 — meski sejumlah sumber menyebut 1881. Ayahnya, Abd al-Qadir, adalah pejabat pengadilan syariah sekaligus pemimpin lokal tarekat sufi Qadiriyah di Jableh. Al-Qassam menerima pendidikan dasar dari ayahnya sebelum, pada usia 14 tahun, berangkat ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar.

Di Al-Azhar, ia belajar di bawah bimbingan Syekh Muhammad Abduh, tokoh reformis Islam, dan berkenalan dengan Rashid Rida, pemikir yang gagasannya tentang pemulihan syariah kelak memengaruhi banyak gerakan Islam di abad ke-20. Setelah memperoleh ijazah, al-Qassam kembali ke Jableh pada 1903 dan meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai guru kuttab, mengajar mengaji dan menulis.

Pada 1911, setelah Italia menyerang Libya, al-Qassam menggalang dana dan dukungan untuk perlawanan Libya melawan pendudukan Italia — termasuk menulis syair penyemangat untuk para pejuang Sanusiyah.

Melawan Prancis, Mengungsi ke Haifa

Ketika Prancis mengambil alih mandat atas Suriah pasca-Perang Dunia I, al-Qassam bergabung dengan pemberontakan Ibrahim Hananu di pegunungan sekitar benteng Qal’at Salah al-Din di utara Latakia (1919–1920). Otoritas Prancis menjatuhkan hukuman mati in absentia terhadapnya. Akhir 1920, al-Qassam bersama keluarga dan sejumlah pengikutnya melarikan diri ke Haifa, yang saat itu berada di bawah Mandat Inggris atas Palestina.

Di Haifa, ia mengajar di sekolah menengah Burj yang didirikan oleh badan wakaf Islam setempat, kemudian menjadi imam Masjid Istiqlal. Ia juga menjabat sebagai ma’dhun — pencatat nikah resmi — sebuah posisi yang memberinya akses luas ke desa-desa dan memungkinkannya membangun jaringan pengikut di kalangan petani serta buruh migran yang bekerja di pelabuhan dan kilang Haifa. Sejak 1928 hingga wafatnya, ia memimpin Young Men’s Muslim Association (YMMA) cabang Haifa.

Menurut sejarawan Israel Shai Lachman, antara 1921 dan 1935 al-Qassam kerap bekerja sama dengan Haj Amin al-Husseini, Mufti Besar Jerusalem — kerja sama yang meningkat setelah kerusuhan 1929, meski keduanya berselisih pada pertengahan 1930-an ketika al-Qassam memilih jalur perlawanan independen tanpa menunggu persetujuan politik Mufti.

Black Hand dan Jalan Menuju Pemberontakan

Sekitar 1930, al-Qassam mendirikan organisasi bersenjata rahasia yang belakangan dikenal sebagai al-Kaff al-Aswad (Black Hand atau Tangan Hitam). Organisasi ini kesulitan merekrut dari kalangan menengah-atas YMMA yang lebih memilih jalur politik, sehingga basis utamanya adalah petani dan buruh miskin di sekitar Haifa dan Jenin.

Ketegangan meningkat pada Oktober 1935, setelah otoritas Inggris menemukan kiriman senjata dari Belgia di pelabuhan Jaffa yang diduga ditujukan untuk Haganah, organisasi paramiliter Yahudi. Temuan itu memicu kemarahan luas di kalangan Arab Palestina. Pada malam 12–13 November 1935, al-Qassam menyatakan seruan jihad di Haifa dan bersama sekitar selusin pengikutnya bergerak ke perbukitan sekitar Ya’bad, dekat Jenin.

Kematian di Hutan Ya’bad

Pada 20 November 1935, setelah pengepungan oleh pasukan Inggris, terjadi baku tembak selama beberapa jam di hutan Ya’bad. Al-Qassam dan beberapa pengikutnya tewas; sisanya terluka atau ditangkap. Sejumlah sumber sekunder menyebut tanggal kematian 19 atau 21 November — perbedaan ini kemungkinan berasal dari selisih waktu antara kontak senjata dan konfirmasi kematiannya; sumber-sumber akademik seperti Institute for Palestine Studies dan Wikipedia secara konsisten mencatat 20 November sebagai tanggal kematian, dengan 21 November sebagai hari pemakaman.

Berita kematiannya memicu mogok umum di Haifa pada 21 November 1935, disertai prosesi pemakaman besar-besaran menuju permakaman Balad al-Shaykh di pinggiran Haifa, tempat ia dimakamkan. Kematian al-Qassam dianggap sejarawan sebagai salah satu pemicu langsung Pemberontakan Arab Besar 1936–1939, gelombang perlawanan terhadap Inggris dan proyek nasional Yahudi yang berlangsung tiga tahun. Beberapa pengikut dekatnya — termasuk Farhan al-Sa’di, Yusuf Abu Durra, dan Abu Ibrahim al-Kabir — menjadi komandan lapangan dalam pemberontakan tersebut.

Dari Haifa ke Gaza: Warisan yang Dipinjam

Al-Qassam wafat tanpa pernah tinggal atau berjuang di Gaza. Kaitannya dengan wilayah itu murni bersifat simbolis dan lahir jauh setelah kematiannya. Pada 1991, Hamas — yang didirikan di Gaza pada 1987 — membentuk sayap bersenjata bernama Kata’ib Syahid Izz ad-Din al-Qassam (Brigade Al-Qassam), dengan markas di Jalur Gaza. Sepuluh tahun kemudian, pada 2001, teknisi Hamas Tito Masoud dan Nidal Farhat merakit roket buatan sendiri pertama, yang dinamai “roket Qassam” dan pertama kali ditembakkan dari Gaza ke kota Sderot pada 26 Oktober 2001.

Sejak itu, nama al-Qassam menjadi identik dengan perlawanan bersenjata yang berbasis di Gaza — mulai dari komandan Brigade seperti Salah Shehade dan Mohammed Deif hingga para pemimpin yang tewas dalam perang 2023–2025, termasuk Izz al-Din al-Haddad dan Mohammed Odeh. Ironinya, tokoh yang namanya diabadikan itu adalah seorang ulama Suriah yang seluruh riwayat perjuangannya terjadi di Jableh, Latakia, dan Haifa — bukan di jalur pesisir sempit yang kini menyandang namanya melalui organisasi yang lahir 56 tahun setelah kematiannya.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini