PARIS – Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot pada Rabu (19/8) mengecam seruan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir untuk membunuh puluhan orang di Gaza setiap malam sebagai tindakan yang tidak manusiawi.
“Apa yang terjadi saat ini di Tepi Barat benar-benar memalukan dan seharusnya membuat kita semua marah. Karena itu, kami menjatuhkan sanksi kepada Menteri Ben-Gvir, yang pernyataan terbarunya tak tertahankan dan tidak manusiawi,” kata Barrot kepada surat kabar Prancis La Montagne dilansir dari Anadolu.
Dalam sebuah podcast yang disiarkan pada Sabtu, Ben-Gvir menyerukan agar pembunuhan terarah dilakukan setiap malam di Gaza.
“Saya pikir pembunuhan terarah harus dilakukan setiap malam di Gaza. Bunuh 30 atau 40 dari mereka,” ujarnya.
“Bukan hanya mereka yang saat ini membahayakan Anda. Mereka adalah orang-orang yang seharusnya tidak hidup,” tambahnya.
Dalam wawancara yang sama, Ben-Gvir juga menyerukan pengusiran massal warga Palestina dari Gaza serta pendirian kembali permukiman ilegal Israel di wilayah tersebut.
“Saya menganggap seluruh Jalur Gaza sebagai milik kami,” katanya.
Prancis telah melarang Ben-Gvir memasuki negara tersebut. Lebih dari 10 negara, termasuk Belgia, Spanyol, Inggris, Kanada, dan Australia, juga telah memberlakukan larangan masuk serupa.
Paris juga melarang Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich memasuki Prancis sejak 9 Juni, dengan menuduhnya secara aktif mendorong aneksasi Tepi Barat yang diduduki serta secara terbuka menyerukan pemukiman kembali warga Israel di Gaza.
Barrot tidak menutup kemungkinan pemberian sanksi lebih lanjut terhadap para pemukim Israel terkait tindakan-tindakan terbaru di Tepi Barat.
“Untuk ketiga kalinya, pada 28 Mei, kami memberlakukan sanksi Eropa terhadap para pemukim ilegal dengan sanksi lebih lanjut.” tambahnya.
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir kerap mengeluarkan statement yang penuh sara, provokatif dan tindakan terorisme.
Mulai dari mengatakan kepada media bahwa ia tida akan membiarkan kesepakatan gencatan senjata Amerika Serikat dengan Iran yang dianggap merugikan Israel, hingga tindakannya mengintimidasi aktivis Global Sumud Flotilla yang dalam kondisi terikat dan disiarkan di televisi, tindakan Ben-Gvir telah menuai kecaman di panggung internasional.


