Pengakuan militer Israel atas penembakan mobil Hind Rajab dan pembukaan dua penyelidikan pidana membuka celah kecil pada tembok impunitas yang selama ini dikeluhkan banyak pihak — namun pertanyaan tentang skala dan arah akuntabilitas yang sesungguhnya masih jauh dari terjawab.
Pada 19 Agustus 2026, militer Israel untuk pertama kalinya mengakui bahwa pasukannya menembaki mobil yang membawa Hind Rajab, anak perempuan Palestina berusia lima tahun, bersama enam anggota keluarganya di Tel al-Hawa, Gaza City, pada 29 Januari 2024. Pengakuan itu datang lebih dari dua tahun setelah kejadian, dan setelah militer sebelumnya berulang kali membantah ada pasukannya di lokasi. Bersamaan dengan pengakuan tersebut, otoritas militer mengumumkan pembukaan penyelidikan pidana atas kematian Hind Rajab dan keluarganya, serta atas kematian 15 paramedis Palestina dalam insiden terpisah pada Mei 2025 — sementara tiga kasus lain, termasuk kematian pekerja bantuan World Central Kitchen, diputuskan tidak akan diselidiki secara pidana.
Pengumuman itu muncul di tengah pernyataan Senator AS Chris Van Hollen, seorang Demokrat dari Maryland, kepada surat kabar Israel Haaretz. Van Hollen menyebut militer Israel harus bertanggung jawab atas hampir 500 dugaan kejahatan perang yang menurutnya telah diidentifikasi oleh pemerintah Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa sebagian besar dunia sudah mengetahui adanya kejahatan perang dalam kasus-kasus ini dan banyak kasus lain, dan yang masih menjadi pertanyaan adalah soal akuntabilitas — yang menurutnya mungkin tidak akan pernah benar-benar terwujud mengingat rekam jejak pemerintah Israel yang ia nilai buruk.
Artikel ini adalah analisis argumentatif, bukan vonis hukum. Klaim “500 kejahatan perang” adalah pernyataan politik seorang senator yang mengutip proses internal pemerintah AS yang detailnya belum dipublikasikan secara penuh — bukan temuan pengadilan atau lembaga investigasi independen seperti Komisi Penyelidikan PBB atau Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Sementara itu, dua penyelidikan pidana yang baru dibuka oleh militer Israel sendiri baru berada di tahap awal, dan sejarah proses serupa di masa lalu menunjukkan sebagian besar berujung tanpa dakwaan. Kita perlu memisahkan dengan jelas mana yang sudah menjadi fakta terverifikasi dan mana yang masih berupa tuduhan atau proses yang sedang berjalan.
Kasus Hind Rajab: Dari Penyangkalan ke Pengakuan
Kematian Hind Rajab menjadi salah satu simbol paling dikenal dari penderitaan warga sipil di Gaza. Pada Januari 2024, mobil yang ditumpanginya bersama paman, bibi, dan empat sepupunya ditembaki saat mereka berusaha mengungsi dari Gaza City. Rekaman panggilan telepon Hind dengan petugas Bulan Sabit Merah Palestina, yang berisi permohonan tolong dari seorang anak yang ketakutan, tersebar luas dan memicu kecaman internasional. Ambulans yang dikirim untuk menyelamatkannya juga ditembaki dan hancur; Hind serta dua paramedis ditemukan tewas hampir dua pekan kemudian.
Militer Israel awalnya membantah memiliki pasukan di area tersebut. Investigasi jurnalistik oleh Washington Post dan Sky News kemudian membantah klaim itu. Baru pada Agustus 2026 militer Israel mengakui pasukannya memang menembaki kendaraan tersebut, dengan alasan adanya kegagalan koordinasi terkait pergerakan ambulans Bulan Sabit Merah Palestina. Pakar independen yang ditunjuk Dewan HAM PBB sebelumnya menyatakan kematian Hind berpotensi merupakan kejahatan perang, berdasarkan analisis forensik yang menunjukkan mobil tersebut ditembak dari jarak sangat dekat.
Nenek Hind Rajab, yang juga bernama Hind Rajab, mengatakan kepada Associated Press bahwa penyelidikan Israel belum cukup, dan menyerukan investigasi internasional untuk mengungkap kebenaran serta pertanggungjawaban atas kematian seluruh anak Gaza yang tewas dalam perang.
Skala Penyelidikan: Kecil di Tengah Ratusan Kasus
Penting dicatat bahwa pengumuman militer Israel pekan ini adalah hasil peninjauan atas 150 insiden perilaku pasukan di Gaza, dan hanya menghasilkan keputusan untuk lima kasus — dua di antaranya diteruskan ke penyelidikan pidana, tiga lainnya ditutup tanpa proses hukum. Pengumuman itu juga tidak menyebut sejumlah insiden lain yang sebelumnya dijanjikan akan diselidiki, termasuk serangan terhadap rumah sakit di Gaza selatan pada Agustus 2025 yang menewaskan lima jurnalis. Bila dibandingkan dengan klaim Van Hollen soal hampir 500 dugaan kejahatan perang yang teridentifikasi pemerintah AS, dua kasus yang baru dibuka ini menggambarkan betapa kecilnya proporsi kasus yang benar-benar bergerak ke tahap penyelidikan pidana formal.
Yayasan Hind Rajab, organisasi advokasi hukum yang berbasis di Brussel dan mengejar akuntabilitas atas nama keluarga Hind, menyatakan penyelidikan internal militer Israel selama ini sebagian besar berakhir tanpa pemeriksaan bermakna, tanpa dakwaan, atau tanpa hukuman — dan dalam kasus-kasus langka di mana tentara memang dihukum, hukumannya kerap sangat ringan atau bersifat administratif. Pernyataan ini penting sebagai konteks, meski perlu dicatat yayasan tersebut adalah pihak yang secara aktif berkepentingan mendorong proses hukum internasional terhadap tentara Israel, sehingga penilaiannya bukan sumber netral dan sebaiknya dibaca berdampingan dengan data resmi militer Israel sendiri soal jumlah kasus yang diproses.
Bantahan dan Keberatan dari Pihak Israel
Kritik terhadap Van Hollen datang dari berbagai arah, termasuk dari sejumlah tokoh komunitas Yahudi-Amerika dan pendukung Israel di AS. Sekelompok lebih dari 70 rabi di Maryland pernah mengirim surat terbuka meminta Van Hollen mengubah retorikanya, dengan alasan tuduhannya dinilai keliru menggambarkan situasi perang dan melemahkan dukungan AS terhadap Israel. Pejabat pemerintah Israel juga pernah membantah tuduhan serupa dari Van Hollen soal penahanan bantuan pangan secara sengaja, dengan menyebut pihak yang sesungguhnya menahan bantuan adalah Hamas.
Sejumlah kritik lain menyoroti bahwa narasi Van Hollen dinilai kurang mengakui konteks serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 serta taktik militer Hamas yang dituduh menempatkan operasi militernya di tengah fasilitas sipil. Terlepas dari perdebatan itu, penting dicatat bahwa pengakuan militer Israel sendiri atas penembakan mobil Hind Rajab — setelah dua tahun membantah — adalah fakta yang tidak lagi bisa disangkal terlepas dari sudut pandang politik pihak mana pun.
Apa Arti “500 Kejahatan Perang” Itu Sebenarnya?
Angka yang disebut Van Hollen merujuk pada proses internal pemerintah AS yang detail metodologi dan daftarnya belum dipublikasikan secara penuh ke publik, sehingga sulit diverifikasi secara independen sejauh ini. Angka ini berbeda dari data resmi PBB soal korban sipil di Gaza, dan berbeda pula dari jumlah kasus yang secara resmi diselidiki militer Israel sendiri. Pembaca perlu berhati-hati memperlakukan angka 500 sebagai temuan hukum yang sudah final — angka itu lebih tepat dipahami sebagai pernyataan politik seorang senator yang mengklaim mengetahui isi kajian pemerintahannya sendiri, yang menjadi tekanan politik terhadap pemerintahan AS untuk bertindak, bukan sebagai vonis pengadilan internasional.
“Yang tersisa adalah pertanyaan soal akuntabilitas,” kata Van Hollen kepada Haaretz, seraya menambahkan bahwa keadilan sejati mungkin tidak akan pernah terwujud mengingat rekam jejak pemerintah Israel yang ia nilai buruk.
Mengapa Proses Hukum Internasional Berjalan Lambat
Di luar proses internal militer Israel, jalur hukum internasional juga bergerak lambat. ICC memang telah menerima berbagai pengaduan terkait dugaan kejahatan perang di Gaza, dan Yayasan Hind Rajab secara spesifik telah mengajukan pengaduan formal terhadap seorang perwira Israel yang mereka identifikasi sebagai komandan bertanggung jawab atas insiden itu. Namun proses di ICC dikenal memakan waktu bertahun-tahun, terlebih dengan tantangan yurisdiksi dan kerja sama negara-negara anggota yang tidak seragam. Sementara itu, hukum domestik Israel memberi Advokat Jenderal Militer kewenangan luas untuk memutuskan kasus mana yang berlanjut ke pengadilan militer — sebuah sistem yang oleh kritikus dianggap rawan konflik kepentingan karena institusi yang sama menjadi penyelidik sekaligus pihak yang diselidiki, meski pendukungnya berargumen sistem ini tetap merupakan bentuk pengawasan internal yang lebih ketat dibanding kebanyakan angkatan bersenjata lain di dunia.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
Pantau perkembangan dua kasus yang baru dibuka. Ikuti perkembangan penyelidikan pidana atas kematian Hind Rajab dan 15 paramedis, termasuk apakah proses itu berujung dakwaan atau ditutup seperti nasib mayoritas dari 150 kasus yang telah ditinjau militer Israel.
Dukung transparansi data, bukan sekadar angka viral. Sebelum menyebarkan klaim seperti “500 kejahatan perang”, cek apakah klaim tersebut berasal dari lembaga yang metodologinya bisa ditelusuri publik, seperti laporan resmi PBB atau ICC, dan bukan sekadar kutipan pernyataan politik tanpa rincian yang bisa diverifikasi.
Salurkan dukungan lewat lembaga kemanusiaan yang kredibel. Bagi yang ingin membantu warga sipil Gaza secara konkret, salurkan bantuan melalui lembaga terverifikasi seperti INH, Bulan Sabit Merah Palestina, MER-C, atau Dompet Dhuafa, yang memiliki jalur distribusi dan laporan pertanggungjawaban yang bisa dipantau.
Penutup: Celah Kecil, Bukan Keran Keadilan
Pengakuan militer Israel atas kasus Hind Rajab adalah retakan kecil pada tembok penyangkalan yang selama ini berdiri kokoh. Namun retakan itu jauh dari cukup untuk disebut sebagai keran keadilan yang terbuka lebar. Dari 150 kasus yang ditinjau, hanya dua yang berlanjut ke penyelidikan pidana; dari ratusan dugaan yang disebut seorang senator AS, hanya segelintir yang bisa ditelusuri hingga proses hukum yang jelas.
Bagi keluarga Hind Rajab, satu pengakuan tidak menggantikan dua tahun penyangkalan, dan satu penyelidikan tidak serta-merta menjamin keadilan. Bagi pihak yang membela catatan militer Israel, dibukanya penyelidikan ini justru bisa dibaca sebagai bukti bahwa sistem pengawasan internal, meski lambat, tetap berjalan — jauh berbeda dari tuduhan impunitas total yang kerap dilontarkan.
Pertanyaan yang tersisa bukan lagi soal apakah insiden ini terjadi — itu kini diakui sendiri oleh pihak militer Israel — melainkan soal apakah proses hukum yang baru dibuka akan benar-benar berujung pada pertanggungjawaban individu, atau berakhir seperti banyak kasus sebelumnya: ditutup diam-diam tanpa penjelasan publik yang memadai. Ke arah mana proses ini akan berjalan, kita belum bisa memastikannya hari ini.


