HomeSejarah Indonesia-PalestinaSejarah PalestinaDari Daftar Satelit ke Joint List: Tujuh Dekade Partai Arab di Pemilu...

Dari Daftar Satelit ke Joint List: Tujuh Dekade Partai Arab di Pemilu Knesset

GAZA CITY — Warga Arab di Israel ikut memilih sejak pemilu pertama negara itu. Pemilu Majelis Konstituante digelar pada 25 Januari 1949. Dalam pemilu Knesset ke-26 pada 27 Oktober 2026, dua partai Arab, Joint List dan Ra’am, memperoleh total 19 kursi, rekor tertinggi, hampir dua kali lipat dari 10 kursi sebelumnya.

Kolom ini membahas warga Palestina yang berkewarganegaraan Israel. Penduduk Gaza dan Tepi Barat tidak termasuk pemilih Knesset.

1949–1965: Daftar satelit dan komunis

"Der Spediteur des Todes": Die Hinrichtung von Adolf Eichmann - ntv.de

Pada 1949, Daftar Demokratik Nazareth, partai Arab yang berafiliasi dengan Mapai, meraih 1,7% suara dan dua kursi. Partai itu bergabung dalam koalisi pertama Ben-Gurion. Koalisi tersebut didukung 73 anggota Knesset dari lima partai.

Pola ini berlanjut. Delapan belas “daftar satelit” Arab dibentuk, sebagian besar terkait Mapai, dan daftar calonnya disusun partai-partai Zionis berdasarkan faktor seperti rivalitas suku dan representasi etnis. Sebuah tabel yang bersumber dari Israel Democracy Institute (IDI) mencatat, pada 1949 sekitar 52% suara warga Arab jatuh ke daftar satelit, 22% ke partai Arab atau Maki, dan 26% ke partai Yahudi.

Jalur kedua adalah Partai Komunis, Maki. Pada 1949 Maki meraih empat kursi. Tawfik Toubi, tokoh Arab Maki, duduk di Knesset sejak 1949 hingga 1990.

Warga Palestina yang tetap tinggal di Israel hidup secara formal di bawah pemerintahan militer dari 1948 hingga akhir 1966. Partisipasi pemilih tetap tinggi. Pada 1950-an dan 1960-an, rata-rata partisipasi pemilih Arab lebih tinggi daripada rata-rata nasional (86% berbanding 81%).

Pemerintahan militer juga menyentuh representasi politik. Upaya menghapusnya di Knesset gagal pada 1963 dengan selisih satu suara, karena dua wakil Arab yang terkait Mapai memilih bersama pemerintah.

Upaya membentuk partai Arab independen dibatasi. Gerakan Al-Ard dilarang pada 1964. Pada 1965 pendukungnya mendaftarkan “Daftar Sosialis”. Komite Pemilihan Pusat memblokirnya karena para pemrakarsanya dinilai menolak keutuhan wilayah dan keberadaan Israel, dan Mahkamah Agung dalam perkara Yeredor menguatkan keputusan itu. Al-Ard disebut sebagai partai Arab pertama yang mencoba ikut pemilu Israel.

Pada tahun yang sama, Maki terpecah. Maki hanya meraih satu kursi pada pemilu November 1965, sedangkan Rakah, faksi pecahannya yang dipimpin Toubi, Vilner, dan Habibi, meraih tiga. Rakah meraih 23% suara Arab pada 1965, 29% pada 1969, dan 37% pada 1973.

1977–1996: Hadash dan partai-partai baru

Pada Maret 1977, Rakah dan sebagian anggota Black Panthers membentuk Hadash. Data IDI mencatat Hadash meraih lima kursi pada 1977, empat pada 1981, 1984, dan 1988, lalu tiga pada 1992.

Periode ini juga mengakhiri dominasi satelit. Sumber berbeda soal tahun akhirnya: Dayan Center menyebut 28 tahun pertama Israel (1949–1977), sedangkan Akevot menyebut hingga Knesset ke-10 (1981).

Pada 1984 muncul Progressive List for Peace. Partisipasi pemilih Arab naik dari 68% pada 1981 menjadi 76% pada 1984, dikaitkan dengan kemunculan partai itu. Tahun 1996 menandai babak baru. Ra’am dibentuk sebelum pemilu 1996 sebagai koalisi partai berbasis Badui dan Gerakan Islam. Pada pemilu itu Hadash dan Balad berlomba bersama dan meraih lima kursi.

1996–2013: Fragmentasi dan penurunan partisipasi

Partisipasi pemilih Arab turun dari 77,0% pada 1996 menjadi 53,4% pada 2009. Analisis IDI mencatat bahwa setelah Operasi Cast Lead di Gaza menjelang pemilu 2009, pertanyaannya bergeser dari “bagaimana warga Arab akan memilih” menjadi “apakah mereka akan memilih sama sekali”.

Pada 2009, Komite Pemilihan melarang Balad dan Daftar Arab Bersatu ikut pemilu, lalu Mahkamah Agung membatalkan larangan itu pada 21 Januari. Pada 2013, partai-partai Arab meraih 11 kursi: empat untuk UAL–Ta’al, empat untuk Hadash, dan tiga untuk Balad.

2015–2022: Joint List dan perpecahan

Pada 11 Maret 2014 Knesset menaikkan ambang batas dari 2% menjadi 3,25%. Empat partai merespons dengan bersatu. Joint List meraih 13 kursi dan 10,55% suara pada 2015, menjadi fraksi terbesar ketiga.

Persatuan itu tidak bertahan. Pada April 2019 partai-partai Arab berlomba terpisah dan kursinya turun dari 13 menjadi 10. Pada 2020, setelah bersatu kembali, Joint List meraih 15 kursi, puncaknya. Partisipasi pemilih Arab saat itu 64,8%, tertinggi dalam dua dekade.

Ra’am keluar dari Joint List pada Januari 2021. Ra’am meraih empat kursi dan sisa Joint List enam. Pada 2 Juni 2021 pemimpin Ra’am, Mansour Abbas, menandatangani perjanjian koalisi, pertama kalinya partai Arab independen menjadi anggota pemerintahan Israel. Pada 2022, Ra’am dan Hadash-Ta’al masing-masing meraih lima kursi, sedangkan Balad gagal melewati ambang batas, pertama kalinya sejak 1996.

2026: Rekor 19 kursi

Menjelang pemilu 2026, Hadash bergabung dengan Ta’al dan Balad menghidupkan kembali Joint List pada Agustus 2026, sedangkan Ra’am maju sendiri. Partisipasi pemilih nasional 77,9%, tertinggi dalam beberapa dekade.

Hasil akhir Komite Pemilihan Pusat memberi Joint List 11 kursi dan Ra’am 8. Blok Netanyahu memegang 53 kursi dan blok oposisi 48, sehingga keduanya di bawah mayoritas 61. Pembentukan pemerintahan belum final. Laporan menyebut penolakan di dalam blok oposisi untuk bergantung pada partai Arab dapat mempersulit pengaturan itu.

Pengaruh perang Gaza terhadap partisipasi pemilih Arab pada 2026 belum bisa dinilai. Saya belum menemukan data demografis terperinci atau analisis akademik yang mengaitkannya.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini