HomeBeritaDokter Hussam Abu Safiya Muncul di Pengadilan Israel Usai 500 Hari Ditahan

Dokter Hussam Abu Safiya Muncul di Pengadilan Israel Usai 500 Hari Ditahan

Dokter Palestina terkemuka asal Gaza, Hussam Abu Safiya, untuk pertama kalinya kembali muncul di hadapan publik setelah lebih dari setahun ditahan oleh Israel tanpa dakwaan resmi. Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan itu mengikuti sidang Mahkamah Agung Israel melalui sambungan video pada Rabu (10/6) dilansir dari Reuters.

Dalam tayangan yang ditampilkan di ruang sidang, Abu Safiya tampak jauh lebih kurus dibandingkan saat dirinya ditangkap oleh militer Israel di Gaza Utara pada akhir 2024. Wajah dan tubuhnya terlihat mengalami penurunan berat badan yang signifikan selama masa penahanan.

Sidang tersebut membahas banding yang diajukan pengacaranya, Nasser Odeh, yang menentang kelanjutan penahanan Abu Safiya. Mahkamah Agung Israel dijadwalkan mengeluarkan keputusan terkait perkara tersebut setelah persidangan berlangsung.

Menurut organisasi hak asasi manusia Israel, Physicians for Human Rights Israel (PHRI), Abu Safiya telah ditahan selama lebih dari 500 hari tanpa dakwaan. Kemunculannya melalui video pada Rabu menjadi penampilan publik pertamanya sejak Februari 2025.

Kondisi kesehatan dokter yang dikenal luas di Gaza itu menjadi perhatian berbagai kelompok hak asasi manusia. Saudara laki-lakinya, Muafaq Abu Safiya, pada April lalu mengungkapkan bahwa keluarga menerima informasi dari pengacara bahwa Hussam kehilangan sekitar 40 kilogram berat badan selama berada dalam tahanan.

Selain mengalami penurunan berat badan drastis, Abu Safiya disebut menderita empat tulang rusuk patah dan sejumlah gangguan kesehatan lainnya. PHRI juga menyatakan bahwa ia termasuk di antara dokter-dokter Gaza yang tidak memperoleh akses memadai terhadap makanan selama berada dalam tahanan.

Abu Safiya ditangkap oleh militer Israel dari Rumah Sakit Kamal Adwan di Beit Lahiya, Gaza Utara. Israel menuduhnya memiliki keterkaitan dengan kelompok Hamas, meskipun hingga kini belum mempublikasikan bukti yang dapat diverifikasi secara independen. Tuduhan tersebut dibantah oleh Kementerian Kesehatan Gaza maupun Hamas.

Usai persidangan, pengacara Nasser Odeh mengatakan bahwa kliennya mengikuti sidang dalam kondisi diborgol dan dirantai. Ia juga menyebut Abu Safiya saat ini ditempatkan di sel isolasi.

Menurut Odeh, dokter tersebut sedang menjalani perawatan medis untuk sejumlah masalah kesehatan, termasuk nyeri hebat pada leher dan punggung yang diduga berkaitan dengan perlakuan yang dialaminya selama penahanan. Ia juga memerlukan pengobatan rutin untuk penyakit kronis yang dideritanya.

Odeh menambahkan bahwa kacamata Abu Safiya telah disita sehingga memperburuk gangguan penglihatannya. Di tangannya juga terlihat gejala penyakit kulit yang menurutnya umum ditemukan pada tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.

Dalam tayangan persidangan, Abu Safiya terlihat mengenakan kaus putih dan celana olahraga abu-abu, pakaian yang lazim dikenakan tahanan Palestina di fasilitas penahanan Israel.

Kasus Abu Safiya bukan satu-satunya. Menurut data PHRI, ia merupakan satu dari 14 dokter Palestina yang ditangkap di Gaza dan ditahan lebih dari satu tahun tanpa dakwaan resmi. Pada April lalu, organisasi tersebut menyerukan pembebasan seluruh dokter yang ditahan, dengan alasan mereka mengalami keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, makanan yang memadai, serta dugaan kekerasan fisik selama masa penahanan.

PHRI mencatat, ke-14 dokter tersebut merupakan bagian dari hampir 400 tenaga kesehatan Palestina yang ditahan Israel selama operasi militernya di Gaza. Serangan Israel ke wilayah itu dimulai setelah serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang berkepanjangan di Jalur Gaza.

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler