GAZA CITY — Jalur Gaza tidak pernah dirancang untuk ada.
Ia tidak muncul dari perjanjian perdamaian, tidak digambar oleh perencana kota, tidak lahir dari keputusan diplomatik yang matang. Ia adalah entitas geopolitik yang statusnya tidak pernah ditentukan secara formal sejak terbentuk dalam Perang 1948, dengan batas-batas yang didasarkan pada garis gencatan senjata yang mengakhiri pertempuran pada Januari 1949, didefinisikan secara formal dalam perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada Februari 1949, dan diselesaikan pada Februari 1950 oleh Komisi Gencatan Senjata Mesir-Israel bersama.
Seperti sebagian besar perbatasan, garis yang memisahkan Jalur Gaza adalah produk kekerasan. Ia juga sepenuhnya buatan manusia — tidak berkorelasi dengan fitur geografis alami manapun.
Ini adalah kisah bagaimana sebuah garis gencatan senjata yang dimaksudkan sebagai solusi sementara menjadi kenyataan permanen yang masih berlaku hingga hari ini.
Sebelum Ada “Jalur”: Gaza yang Lebih Luas
Untuk memahami mengapa Jalur Gaza berbentuk seperti yang kita kenal sekarang — panjang dan sempit seperti irisan — kita perlu memahami apa yang ada sebelumnya.
Sebelum ada Jalur Gaza, ada Palestina selatan. Sejak era 1860-an, kawasan ini — dari garis tepat di utara Jaffa dan Jerusalem ke selatan — adalah sebuah sanjak yang diperintah dari Istanbul. Selama era Mandat Inggris, ada subdistrik Gaza, namun ia jauh lebih besar dari Jalur Gaza yang ada sekarang, membentang hampir sejauh utara hingga Ramle. Substack
Kota Gaza pada masa itu bukan sebuah enklave terisolasi. Ia adalah pusat dari kawasan yang luas, terhubung ke ladang-ladang di timur, ke pelabuhan di barat, ke kota-kota di utara dan selatan tanpa batas yang berarti memisahkan satu dengan yang lain.
Peta yang menggambarkan Jalur Gaza hari ini — sepotong tanah sempit di tepi Mediterania, terjepit antara Israel di utara dan timur serta Mesir di barat daya — tidak ada dalam imajinasi siapapun sebelum 1948.
Rencana PBB: Gaza untuk Negara Arab
Ketika Majelis Umum PBB mengesahkan Rencana Pembagian Palestina pada 29 November 1947, kawasan Gaza — beserta sebagian besar wilayah pantai selatan Palestina — dialokasikan untuk negara Arab yang diusulkan. Dalam peta pembagian itu, kawasan Gaza bukan sepotong tanah kecil yang sempit. Ia adalah bagian dari wilayah Arab yang membentang dari selatan hingga sebagian pantai tengah.
Namun rencana itu tidak pernah diimplementasikan sesuai rancangannya. Perang yang pecah pada 15 Mei 1948 — sehari setelah Israel memproklamasikan kemerdekaannya dan Inggris mengakhiri mandatnya — mengubah segalanya.
Pasukan Mesir Masuk, Lalu Mundur
Mesir adalah kekuatan Arab utama yang beroperasi di kawasan selatan Palestina. Pasukan Ekspedisi Mesir memasuki Palestina melalui Gaza pada 15 dan 16 Mei 1948, menjadikan kota Gaza markas besar komando mereka. Pada tahap awal perang, pasukan Mesir berhasil menguasai jalur pantai yang cukup luas — dari Gaza ke utara hingga Isdud (Ashdod), serta mempertahankan posisi di sekitar Beersheba di timur.
Namun keseimbangan kekuatan bergeser seiring berjalannya perang. Pada 15 Oktober 1948, Israel melancarkan Operasi Yoav — tujuannya adalah mengisolasi pasukan Mesir di pantai dari posisi mereka di jalur Beersheba-Hebron-Jerusalem, dan pada akhirnya merebut seluruh Negev.
Setelah Angkatan Udara Israel membombardir Gaza, al-Majdal, Beersheba, dan Beit Hanoun, pasukan Israel menyerang Beersheba dari barat, memaksa garnisun Mesir yang berjumlah 500 orang menyerah. Mesir kemudian mundur dari Ashdod pada 28 Oktober dan dari al-Majdal pada 6 November, mundur ke Gaza.
Dalam proses ini, seorang kolonel muda Mesir bernama Gamal Abdel Nasser — yang kemudian menjadi Presiden Mesir dan salah satu pemimpin paling berpengaruh di dunia Arab — terjebak bersama pasukannya di “Kantong Faluja” selama berbulan-bulan hingga perang berakhir.
Operasi Yoav mengubah peta secara dramatis. Wilayah yang semula di bawah kendali Mesir menyusut drastis. Yang tersisa hanyalah sepotong pantai sempit di sekitar Gaza — memanjang sekitar 25 mil dari utara ke selatan, dengan lebar hanya 4 hingga 8 mil.
Operasi Horev: Ketika Inggris Menghentikan Israel
Pada Desember 1948, Israel melancarkan Operasi Horev — serangan berskala besar ke Negev barat dan utara Sinai. Tujuannya adalah menjebak Angkatan Darat Mesir di Jalur Gaza. Operasi berlangsung dari 22 Desember 1948 hingga 7 Januari 1949, dan berakhir setelah Inggris mengancam akan melakukan intervensi kecuali pasukan Israel segera mundur dari wilayah Mesir.
Ancaman Inggris itu bukan sekadar retorik. London memiliki perjanjian pertahanan dengan Mesir, dan pengerahan pasukan Israel ke dalam Sinai bisa memaksa Inggris untuk bertindak secara militer. Israel — yang tidak menginginkan konfrontasi dengan kekuatan besar — menarik pasukannya kembali ke Palestina.
Namun efek Operasi Horev sudah terasa: pasukan Mesir terjepit di kantong Gaza, tanpa jalan keluar darat yang berarti. Mesir, yang kelelahan dan terisolasi, setuju untuk bernegosiasi.
Rhodes, 24 Februari 1949: Garis yang Mengubah Segalanya
Perundingan gencatan senjata antara Israel dan Mesir berlangsung di pulau Rhodes, dimediasi oleh diplomat PBB Ralph Bunche. Batas-batas Jalur Gaza ditetapkan dalam Perjanjian Gencatan Senjata Mesir-Israel yang ditandatangani pada 24 Februari 1949.
Garis itu bukan hasil kompromi yang direncanakan matang-matang. Ia tidak berkorelasi dengan fitur geografis alami manapun. Garis itu adalah cerminan dari posisi pasukan Israel dan Mesir pada saat gencatan senjata diumumkan — di mana pasukan berhenti, di situlah garis ditarik.
Perjanjian gencatan senjata 1949 secara formal mengakhiri permusuhan dalam Perang Palestina 1948 dan menetapkan Garis Hijau — yang memisahkan wilayah yang dikontrol Arab (Tepi Barat yang dicaplok Yordania dan Jalur Gaza yang diduduki Mesir) dari Israel.
Yang penting untuk dicatat: garis gencatan senjata itu tidak merupakan bagian dari perjanjian damai atau traktat manapun — Israel dan Mesir tidak akan membangun hubungan formal selama 30 tahun berikutnya. Maknanya terbuka untuk dipertanyakan oleh semua pihak.
Apa yang dimaksudkan sebagai solusi sementara mulai mengeras menjadi kenyataan permanen.
Demografi yang Berubah Selamanya
Selama dan segera setelah perang, terjadi perubahan demografis yang tidak pernah dibalikkan. Sebelum 1948, populasi kawasan yang kemudian menjadi Jalur Gaza adalah 80.000 jiwa. Setelahnya, jumlah itu meningkat 200.000 orang — sebagian besar pengungsi dari dataran pantai selatan (45 dari 56 pusat populasi dikosongkan atau melarikan diri) dan kawasan Shephelah, tapi juga dari Palestina tengah bahkan Galilea.
Menurut beberapa perkiraan, selama Perang 1948, populasi Gaza berlipat ganda 4,5 kali — dari 80.000 menjadi 360.000 jiwa — akibat membanjirnya warga Palestina dari desa-desa Arab di Israel yang masuk ke Gaza mencari perlindungan dari tentara Mesir.
Para pengungsi ini tidak menyeberangi perbatasan internasional manapun dalam perjalanan mereka. Banyak yang hanya berjalan beberapa kilometer, menuju kota terdekat yang masih berada di luar kendali Israel. Banyak yang bisa melihat desa asal mereka dari kamp pengungsian tempat mereka tinggal.
Pada awal 1949, pekerja bantuan Quaker mengunjungi Maghazi dan melaporkan 2.500 pengungsi berkemah di tanah milik swasta, hidup dalam tenda-tenda Badui dan Mesir serta barak-barak tentara Inggris. Kamp itu berdiri pada 1949 — dan masih ada hingga hari ini, telah berubah dari kamp darurat menjadi komunitas urban padat dengan populasi lebih dari 33.000 jiwa.
Administrasi Mesir: Tanpa Status, Tanpa Kewarganegaraan
Mesir menduduki Gaza dari 1949 hingga 1956, lalu kembali dari 1957 hingga 1967. Namun pendudukan itu memiliki karakter yang sangat spesifik. Pemerintah Mesir tidak menganggap kawasan itu sebagai bagian dari Mesir dan tidak mengizinkan para pengungsi menjadi warga negara Mesir atau bermigrasi ke Mesir atau ke negara-negara Arab lain tempat mereka bisa berintegrasi ke dalam populasi.
Paspor perjalanan yang diterbitkan Mesir untuk penduduk Gaza dicap “Palestina” — menolak hak-hak warga negara Mesir dan membatasi pergerakan mereka. Jalur itu diperlakukan sebagai zona tertutup.
Israel di sisi lain tidak mengizinkan para pengungsi kembali ke rumah mereka atau mendapat kompensasi atas kehilangan properti mereka. Para pengungsi terjepit: tidak bisa ke Mesir, tidak bisa kembali ke rumah. UNRWA — yang dibentuk oleh Resolusi Majelis Umum PBB 302 (IV) pada 8 Desember 1949 — mengambil alih tanggung jawab pemberian bantuan bagi mereka.
Delapan kamp pengungsian didirikan dan dikelola UNRWA, tempat penghuninya mendapatkan makanan, perumahan dasar, perawatan medis, dan sekolah. Kamp-kamp itu yang seharusnya bersifat sementara, perlahan berubah menjadi lingkungan permanen.
Angka yang Menjelaskan Segalanya
Jalur Gaza adalah wilayah sepanjang 41 kilometer dengan lebar 6 hingga 12 kilometer, dengan luas total 365 kilometer persegi. Mencakup kurang dari 1,5 persen Palestina bersejarah, wilayah kecil ini menyaksikan populasinya meningkat lebih dari tiga kali lipat akibat Nakba.
Sebuah pepatah Rusia lama menyebut “tidak ada yang lebih permanen dari solusi sementara.” Kegagalan upaya-upaya diplomatik selanjutnya untuk mengakhiri konflik Arab-Israel mengubah apa yang dimaksudkan sebagai garis gencatan senjata sementara menjadi batas de-facto, dan Jalur Gaza menjadi entitas geopolitik yang berbeda.
Tujuh dekade kemudian, garis yang ditarik dari posisi pasukan yang berhenti berperang pada Januari 1949 itu masih ada. Kamp-kamp pengungsian yang didirikan sebagai shelter darurat pada 1949 itu masih berpenghuni — dan kini telah berkembang menjadi kota-kota padat.
Jalur Gaza tidak pernah dirancang untuk ada. Tapi ia ada — dan telah ada selama lebih dari 75 tahun. (IW)


