GAZA CITY — Selama lebih dari 3.000 tahun, Gaza berulang kali dikepung, direbut, dihancurkan, dan dibangun kembali. Posisinya sebagai satu-satunya jalur darat yang menghubungkan Asia dan Afrika membuat kota ini selalu berada di jalur kepentingan kekuatan besar — dari Mesir kuno, Makedonia, Romawi, Tentara Salib, hingga Inggris dan, pada abad ke-21, Israel. Artikel ini menelusuri motif pengepungan yang berulang dalam sejarah Gaza, dari 332 SM hingga gencatan senjata Oktober 2025.
Kota di Jalur yang Tak Bisa Dihindari
Gaza terletak di ujung selatan jalur pesisir Levant, tempat gurun Sinai bertemu dataran Kanaan. Siapa pun yang hendak bergerak dari Mesir ke Asia, atau sebaliknya, harus melewati kota ini — sebuah kenyataan geografis yang tidak berubah sejak era Firaun hingga sekarang. Posisi itulah yang membuat Gaza berulang kali menjadi target pengepungan, bukan karena kekayaannya semata, melainkan karena siapa pun yang menguasainya menguasai jalur logistik antara dua benua.
Pola ini pertama kali terlihat jelas dalam catatan militer terperinci pada 332 SM, ketika Alexander Agung tiba di depan tembok kota dalam perjalanannya menaklukkan Mesir.
Tiga Serangan yang Gagal, Serangan Keempat yang Berhasil
Setelah menaklukkan Tirus, Alexander Agung membawa mesin-mesin pengepungannya ke Gaza pada Oktober 332 SM. Kota itu dipertahankan oleh seorang komandan bernama Batis, yang menurut catatan sejarawan Arrianus memimpin garnisun tentara bayaran Arab dan yakin kota tidak akan bisa direbut lewat serangan langsung. Sumber-sumber kuno mencatat Alexander melancarkan tiga serangan yang gagal sebelum akhirnya menembus tembok kota lewat serangan keempat, setelah pasukannya menggali terowongan dan membangun gundukan tanah untuk menjangkau puncak benteng.
Dalam pengepungan itu Alexander sendiri terluka di bahu oleh anak panah. Setelah kota jatuh, laki-laki dewasa yang mampu bertempur — diperkirakan sekitar 10.000 orang menurut catatan sejarawan kuno — tewas dalam pertempuran perebutan kota, sementara perempuan dan anak-anak ditawan. Gaza kemudian diisi ulang penduduknya dan diubah menjadi polis Yunani, pola yang akan terulang berkali-kali dalam sejarah kota ini: kehancuran, diikuti pemukiman kembali oleh kekuatan yang menaklukkannya.
Pengepungan sebagai Rutinitas Zaman Pertengahan
Pola serupa berulang sepanjang seribu tahun berikutnya. Tentara Salib menemukan Gaza kosong ketika Baldwin I tiba pada 1100, lalu membangunnya kembali sebagai benteng Ksatria Templar. Kota itu kemudian dikepung dan direbut kembali oleh Saladin, dihancurkan tembok-temboknya lewat Perjanjian Jaffa 1192, dan dibangun ulang oleh Dinasti Mamluk sebagai pusat administrasi Palestina selatan setelah kemenangan mereka atas Mongol di Ain Jalut pada 1260.
Setiap era membawa pengepungnya sendiri, tetapi logika yang sama selalu berulang: kendali atas Gaza berarti kendali atas jalur antara Mesir dan Syam.
Napoleon dan Tiga Pertempuran Gaza 1917
Pada Februari 1799, pasukan Napoleon Bonaparte bergerak dari El-Arish menuju Gaza dalam kampanye militernya ke Suriah. Kota itu menyerah tanpa perlawanan berarti dan Napoleon singgah tiga malam di Qasr al-Basha sebelum melanjutkan perjalanan ke utara. Ketika pasukannya mundur beberapa bulan kemudian, Gaza diampuni dari penjarahan karena penduduknya dianggap tetap loyal selama masa pendudukan singkat itu.
Seabad kemudian, Gaza kembali menjadi medan pertempuran dalam skala yang jauh lebih besar. Selama Perang Dunia I, pasukan Inggris dan Ottoman bertempur memperebutkan kota ini dalam tiga pertempuran terpisah sepanjang 1917 — pada 26 Maret, 17 April, dan 7 November. Dua pertempuran pertama gagal menembus pertahanan Ottoman; baru pada pertempuran ketiga, di bawah komando Jenderal Edmund Allenby yang menggunakan taktik pengalihan ke arah Beersheba, garis pertahanan Ottoman berhasil ditembus. Ketika pasukan Inggris akhirnya memasuki kota, mereka mendapati Gaza kosong dan sebagian besar hancur — penduduknya telah lebih dulu diusir paksa oleh Ottoman yang mundur.
Pengepungan di Abad ke-21
Istilah “pengepungan” kembali melekat pada Gaza secara harfiah sejak Juni 2007, ketika Israel — setelah Hamas mengambil alih kendali Jalur Gaza dari Fatah — memberlakukan blokade penuh atas pergerakan orang dan barang, yang kemudian didukung Mesir di perbatasan Rafah. Blokade umum itu berlangsung sejak Juni 2007 hingga kini, dengan blokade total yang diperketat sejak Oktober 2023. Organisasi hak asasi manusia dan badan-badan PBB berulang kali menyebut pembatasan ini sebagai bentuk hukuman kolektif terhadap penduduk sipil.
Setelah serangan 7 Oktober 2023 dan invasi darat Israel yang dimulai akhir bulan yang sama, Kota Gaza sendiri mengalami pengepungan militer langsung yang berlangsung dari November 2023 hingga Januari 2025, disusul ofensif baru yang dimulai Agustus 2025 dan berakhir dengan penarikan sebagian pasukan Israel dari sejumlah wilayah kota pada 10 Oktober 2025 — bertepatan dengan mulai berlakunya gencatan senjata ketiga dalam perang tersebut. Berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza yang dilaporkan UNRWA, sedikitnya 73.200 warga Palestina tewas di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 hingga pertengahan Juli 2026, dengan lebih dari 173.000 lainnya terluka. Sejumlah kajian independen, termasuk survei rumah tangga yang diterbitkan jurnal The Lancet Global Health, memperkirakan angka kematian akibat kekerasan kemungkinan jauh lebih tinggi dari catatan resmi Kementerian Kesehatan.
Masjid Sayyid Hashim, tempat pemakaman leluhur Nabi Muhammad yang telah berdiri sejak abad ketujuh, mengalami kerusakan berat dalam perang ini. Qasr al-Basha — bangunan yang pernah menjadi tempat persinggahan Napoleon pada 1799 — hancur pada Desember 2023. Kedua bangunan itu selamat dari pengepungan Tentara Salib, Mamluk, Ottoman, dan Napoleon, namun tidak dari perang abad ke-21.
Motif yang Berulang
Dari Batis yang menolak menyerah pada Alexander hingga penduduk yang bertahan di reruntuhan Kota Gaza pada 2024–2025, satu pola bertahan melintasi milenium: kota ini terus-menerus dihancurkan karena posisinya yang tidak bisa dilewati begitu saja, dan terus-menerus dibangun kembali karena posisi yang sama membuatnya mustahil ditinggalkan. Gencatan senjata Oktober 2025 dan pembentukan Board of Peace melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 membuka babak baru yang belum diketahui hasilnya — apakah menjadi jeda sementara, seperti puluhan gencatan senjata sebelumnya dalam sejarah kota ini, atau penutup dari siklus pengepungan yang telah berlangsung sejak zaman Firaun.


