GAZA CITY — Setelah pasukan Muslim menaklukkan Gaza pada 637 M, penduduk Yahudi dan Kristen kota itu tidak diusir. Mereka tetap tinggal, membayar pajak jizyah sebagai warga dzimmi, dan mempertahankan tempat ibadah serta jaringan sosial mereka selama hampir 450 tahun berikutnya — periode yang berakhir baru ketika Tentara Salib memasuki kota pada 1099–1100 M.
Catatan tertulis dari periode ini jauh lebih sedikit dibanding era-era sesudahnya. Namun dua arsip utama — Geniza Kairo untuk sumber Yahudi, dan naskah puisi Kristen-Arab peninggalan Uskup Sulayman al-Ghazzi — memberi gambaran tentang kehidupan dua komunitas minoritas di kota yang mayoritas penduduknya berangsur memeluk Islam.
Status Dzimmi dan Alih Fungsi Rumah Ibadah
Penaklukan Gaza oleh pasukan Rasyidin di bawah Amr ibn al-As pada musim panas 637 M relatif tanpa kekerasan besar terhadap penduduk sipil. Penduduk non-Muslim — Yahudi dan Kristen — diberi status dzimmi: perlindungan hukum dan kebebasan beribadah dengan imbalan pajak jizyah serta sejumlah pembatasan sosial.
Komunitas Samaria, yang sebelumnya juga hadir di Gaza, dilaporkan meninggalkan kota pada masa penaklukan ini. Gereja Katedral Santo Yohanes Pembaptis — dahulu Kuil Marnas pada era Romawi — kemudian dialihfungsikan menjadi Masjid Agung Gaza (Masjid Omari), dinamai menurut Khalifah Umar. Perubahan status bangunan ibadah semacam ini lazim terjadi di kota-kota yang ditaklukkan pasukan Muslim pada abad ke-7.
Populasi Gaza secara bertahap beralih ke Islam dan bahasa Arab menjadi bahasa resmi administrasi, sementara Kristen menyusut menjadi kelompok minoritas. Gaza masuk ke dalam wilayah administratif Jund Filastin, yang pada masa Umayyah (661–750 M) berpusat di Ramla — bukan Gaza sendiri.
Komunitas Yahudi: Dari Harat al-Yahud hingga Arsip Kairo
Sumber paling kaya tentang kehidupan Yahudi Gaza pascapenaklukan berasal dari Geniza Kairo — koleksi ratusan ribu naskah dan surat Yahudi abad pertengahan yang ditemukan di Sinagoge Ben Ezra, Kairo, pada akhir abad ke-19. Dokumen-dokumen ini mencatat korespondensi rutin antara pemuka Yahudi Gaza dan komunitas Yahudi di Fustat (Kairo lama) mengenai perdagangan, sengketa warisan, dan urusan keagamaan.
Komunitas ini bermukim di kawasan bernama Harat al-Yahud (Perkampungan Yahudi) dan tercatat memegang monopoli produksi anggur di kota yang mayoritas penduduknya Muslim — sebuah detail yang mencerminkan pembagian kerja ekonomi antaragama yang lazim pada masa itu. Salah satu surat dari sekitar 1030 M mencatat bahwa warga Yahudi dari selatan Palestina mengungsi ke Gaza akibat kekacauan di wilayah lain, menunjukkan kota ini masih dianggap tempat berlindung yang relatif stabil pada awal abad ke-11.
Tokoh Yahudi kelahiran Gaza yang tercatat dalam Geniza adalah Ephraim ben Shemariah al-Azati (al-Ghazzi), yang kemudian menjadi salah satu pemimpin komunitas Yahudi di Fustat pada abad ke-11 — bukti adanya jaringan intelektual dan sosial yang menghubungkan Gaza dengan pusat-pusat Yahudi di Mesir. Sepucuk surat lain yang ditandatangani lima belas tokoh komunitas, dipimpin seorang bernama Yeshua ben Nathan, turut terdokumentasi dalam arsip yang sama.
Sejumlah sumber menyebut adanya indikasi pengusiran atau relokasi paksa warga Yahudi Gaza sekitar 977 M, ketika Dinasti Fatimiyah mulai menguasai kota. Namun klaim ini tidak didukung bukti kuat dan bertentangan dengan sumber lain — termasuk dokumen Geniza dari abad ke-11 sendiri — yang justru menunjukkan komunitas Yahudi Gaza tetap aktif hingga akhir abad tersebut. Artikel ini mencantumkan klaim itu sebagai tidak terverifikasi.
Yang lebih pasti: kehidupan Yahudi di Gaza terhenti pada masa kedatangan Tentara Salib di penghujung abad ke-11 — sama seperti nasib komunitas Yahudi di Yerusalem dan kota-kota Palestina lain pada periode yang sama.
Sulayman al-Ghazzi: Uskup dan Penyair Kristen-Arab Pertama
Sosok paling menonjol dari komunitas Kristen Gaza era ini adalah Sulayman ibn Hassan al-Ghazzi (sekitar 940–setelah 1027 M), juga dikenal sebagai Solomon dari Gaza. Ia sempat menjalani hidup sebagai biarawan, kemudian meninggalkan biara untuk berkeluarga dan bekerja sebagai juru tulis, sebelum akhirnya kembali ke kehidupan religius dan ditahbiskan sebagai Uskup Gaza pada usia sekitar delapan puluh tahun.
Karya puisi Sulayman al-Ghazzi — kumpulan sekitar 3.000 baris dalam puluhan qasidah — dianggap sebagai kumpulan puisi keagamaan Kristen berbahasa Arab tertua yang diketahui. Tulisannya merekam penderitaan umat Kristen Palestina pada masa penganiayaan di bawah Khalifah Fatimiyah al-Hakim bi-Amr Allah, termasuk penghancuran Gereja Makam Suci di Yerusalem pada 1009 M dan aturan pakaian pembeda bagi warga Kristen.
Setelah Sulayman al-Ghazzi, jejak tertulis mengenai Keuskupan Gaza menipis. Sumber-sumber gerejawi mencatat adanya seorang uskup Gaza yang mati syahid sekitar 1056 M, namun namanya tidak terdokumentasi. Tidak ada bukti keberadaan uskup Gaza ketika Tentara Salib tiba pada 1099–1100 M — kota ditemukan dalam keadaan kosong, dan takhta keuskupan yang lowong itu kemudian tidak lagi diisi meski kota dibangun ulang di bawah Ksatria Templar.
Kesaksian Para Musafir dan Geografer
Sejumlah sumber non-agama turut menggambarkan kehidupan ekonomi lintas komunitas di Gaza pada periode ini. Geografer Persia al-Istakhri, menulis pada abad ke-10, menyebut Gaza sebagai “pasar besar bagi penduduk Hijaz” — pusat perdagangan yang menghubungkan jalur laut Mediterania dengan jalur karavan gurun. Seorang penulis Kristen pada 867 M turut menggambarkan kota itu sebagai tempat yang “kaya akan segala hal.”
Kemakmuran ini sempat terganggu oleh perang saudara antarsuku Arab yang menghancurkan kota pada 796 M, serta gempa bumi pada 672 M yang catatannya tidak terlalu rinci. Namun kota ini disebut pulih kembali pada abad ke-9, sebelum akhirnya memasuki periode ketidakstabilan menjelang kedatangan Tentara Salib.
Penutup
Selama hampir empat setengah abad, Gaza di bawah kekuasaan Rasyidin, Umayyah, Abbasiyah, Tulunid, dan Fatimiyah menjadi rumah bagi tiga komunitas agama yang hidup dengan aturan dan ketegangannya masing-masing, tetapi tidak saling meniadakan. Pola ini berulang pada periode-periode berikutnya dalam sejarah kota — di bawah Mamluk dan Ottoman — sebelum akhirnya nyaris seluruhnya lenyap pada abad ke-20 dan ke-21.
Gereja Santo Porphyrius, yang berdiri di atas fondasi gereja abad ke-5 yang sempat menjadi bagian dari lanskap keagamaan Gaza era ini, rusak akibat serangan udara Israel pada Desember 2023 dan menewaskan belasan orang yang berlindung di kompleksnya. Komunitas Kristen Gaza kini tersisa kurang dari seribu jiwa, dari sekitar 73.000 jiwa yang tercatat se-Palestina pada era Mandat Inggris 1922. Komunitas Yahudi Gaza sendiri sudah tidak ada lagi sejak periode Tentara Salib, hampir seribu tahun lalu.


