Friday, April 4, 2025
HomeHeadlineOPINI - Aliansi Turki, Suriah, dan Hamas game changer di bumi Syam

OPINI – Aliansi Turki, Suriah, dan Hamas game changer di bumi Syam

Oleh: Pizaro Gozali Idrus

Situasi Suriah kembali panas setelah pesawat tempur Israel menyerang kota-kota di Suriah, yaitu Daraa, Damaskus, Hama, dan Homs pada Rabu malam.Hingga kini, dilaporkan empat personel keamanan Suriah dan 16 warga sipil Suriah gugur.

Azan dan seruan jihad pun berkumandang dari masjid di Daraa. Imam-imam masjid menyerukan agar rakyat turun menghalau serangan Israel.

Pertempuran rakyat Suriah melawan tentara penjajah pun pecah, yang menurut sejumlah laporan aksi dapat memukul mundur sejumlah tentara Israel.

Ini menjadi babak baru peperangan tentara Israel melawan rakyat Suriah yang baru saja keluar dari penindasan selama 25 tahun rezim Assad berkuasa.

Namun pertanyaannya adalah apa yang menyebabkan kali ini Israel melancarkan serangan serentak di berbagai kota Suriah.

Pakta pertahanan Turki-Suriah

Faktor pertama adalah ini adalah pesan kepada Turki yang baru-baru ini dilaporkan akan membangun pangkalan udara militer Tiyas atau dikenal T4 Air Base.

Ini adalah pangkalan militer yang sangat strategis sebagai tempat gudang logistik militer dan markas militer. Bagi Netanyahu, T4 adalah garis merah karena ini adalah pangkalan udara terbesar di Suriah yang sangat potensial sebagai lokasi penyerangan Israel.

Selama dikuasai Assad, pangkalan T4 lebih banyak dipakai Assad dan Iran untuk membunuh rakyat sipil Suriah alih-alih melawan Israel. Tidak ada bom dan roket yang diluncurkan Suriah dan Iran kepada Israel selama rezim jagal Bashar Assad berkuasa.

Meski Ahmad Sharaa jarang melontarkan ancaman serangan ke Tel Aviv, Israel paham ini hanya taktik pemerintah baru Suriah. Penjajah menyadari pangkalan dapat menjadi bom waktu bagi mereka jika dibiarkan berkembang.

Sumber keamanan Israel menyebut Sharaa sebagai musuh dari kalangan Islam yang mengenakan dasi, yang bekerja untuk merusak keamanan Israel.

Apalagi jika Suriah dan Turki meneken kesapakatan pertahanan. Maka otomatis Turki memiliki tempat strategis di Suriah untuk mendukung pemerintahan Suriah dan menstabilkan situasi Suriah.

Ankara dan Damaskus dilaporkan telah melakukan negosiasi mengenai pakta pertahanan sejak Desember lalu, menyusul kejatuhan Bashar al-Assad.

Kesepakatan tersebut akan membuat Turki memberikan perlindungan udara dan militer untuk pemerintah baru Suriah yang saat ini tidak memiliki angkatan bersenjata yang berfungsi dengan baik.

Stabilnya Suriah, ancaman bagi Israel

Faktor kedua di balik serangan israel adalah semakin stabilnya kondisi Suriah dan pemerintahannya.

Perlu dicatat, jika situasi di Suriah stabil dan Damaskus menjadi negara besar, maka perhatian internasional hanya tinggal membebaskan Masjid Al-Aqsha.

Terlebih kita lihat Ahmad Sharaa di tengah berbagai tantangan ternyata so far berhasil menstabilkan Suriah dan membentuk pemerintahan baru. Menjalin kesepakatan dengan komunitas Kurdi serta Druze, dan memadamkan pemberontakan loyalis Assad.

Menlu Israel Gide’on Saar yang baru-baru ini mengkritisi para pemimpin Eropa karena mengunjungi Damaskus pun semakin kehilangan relevansi.

Tudingan Israel bahwa Suriah baru memerangi minoritas semakin kehilangan realitasnya setelah komunitas Druze, Suriah, Kurdi, dan Alawi ternyata juga masuk dalam pemerintahan baru.

Oleh karena itu, bagi Israel, jika Suriah berkembang dan membentuk aliansi Turki-Suriah dengan Turki ini akan lebih menakutkan bagi penjajah. Hal ini sebagaimana sudah sejak lama disampaikan dalam laporan Komite Nagel pada awal Januari 2025.

Komisi ini bertugas memberikan rekomendasi kepada kementerian pertahanan Israel mengenai kemungkinan ancaman yang dapat muncul di masa depan.

Jacob Nagel, tokoh veteran Israel yang memimpin komite keamanan Israel tersebut telah menanggarkan dana Rp70 triliun per tahun selama 5 tahun kedepan.  Yang artinya total Israel menyiapkan dana Rp350 Triliun.

Pasalnya, Nagel memperkirakan adanya potensi pecahnya konfrontasi Israel dan Turki di masa mendatang.

Komisi ini menyatakan bahwa situasi di Suriah bisa semakin serius jika pasukan Suriah yang baru terbentuk menjadi proksi bagi Turki, yang bagi Israel ini dapat membuka jalan bagi ambisi Turki untuk mengembalikan kejayaan Ottoman.

Kita perlu menyadari bahwa Israel memiliki doktrin militer yakni bertindak untuk menghilangkan ancaman sepenuhnya dan memaksimalkan respons atas anncaman tersebut

Maka membenamkan Suriah dari awal sebelum membesar adalah taktik militer yang ingin mereka tuju

Tapi ini tentu tidak mudah bagi Israel. Pengalaman pejuang Suriah yang mampu bertahan dari kekejaman Assad, invasi Rusia, dan agresi Iran, membuktikan mereka sudah ditempa pengalaman dalam perang jangka panjang.

Artinya, mental dan kegigihan mereka sudah teruji dalam melawan kekuatan-kekuatan besar dan aliansi musuh.

Terlebih jika Turki berhasil memasok sistem pertahanan udara Hisar. Begitu sistem tersebut terpasang, pangkalan militer T4 akan dibangun kembali dan diperluas dengan fasilitas canggih.

Ankara juga berencana untuk mengerahkan pesawat drone pengawas dan bersenjata, termasuk yang memiliki kemampuan serangan jarak jauh.

Keberadaan sistem pertahanan udara dan drone Turki akan menghalangi Israel untuk melancarkan serangan udara di Suriah.

Bangkitnya Hamas Suriah

Selanjutnya, faktor ketiga di balik serangan Israel adalah banyaknya tokoh-tokoh Hamas yang dibebaskan Ahmad Sharaa dari penjara-penjara rezim Assad. Kita ketahui bersama, sejak Hamas mendukung revolusi uriah, rezim Bashar telah mengusir para pejuang perlawanan dari Damaskus.

Tapi segalanya berubah setelah Assad tumbang, mereka yang selama ini dipenjara rezim, telah dibebaskan oleh kelompok HTS dan mendapatkan dukungan dari pemerintah baru Suriah.

Dalam analisa Israel, mereka yang baru saja dibebaskan telah berencana untuk melakukan serangan terhadap Israel.

Dalam kata lain, Israel memandang adanya upaya membangun koalisi kawasan antara Suriah baru dan para pejuang Palestina. Jika ini terjadi, situasi Israel semakin terjepit karena diapit oleh dua kekuatan perlawanan.

Jika ini terjadi maka aliansi Turki-Suriah-Hamas akan menjadi game changer dalam geopolitik di Timur Tengah, khususnya Bumi Syam. Situasi ini yang sangat dihindari oleh Israel.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Baitul Maqdis Institute dan Kandidat Ph.D bidang HI pada Center for Policy Research USM Malaysia. Penulis buku Jatuhnya Dinasti Assad: Akhir Kekuasaan Rezim Syiah Nushariyah di Suriah dan Hamas Superpower Baru Dunia Islam.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Pengajar HI Universitas Al Azhar Indonesia, Mahasiswa PhD Hubungan Antarbangsa Universitas Sains Malaysia.
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Most Popular