Oleh: Motasem Ahmed Dalloul
Pada awal pekan ini, ratusan warga Palestina di Jalur Gaza yang tengah dilanda perang turun ke jalan untuk memprotes genosida yang terus berlanjut dan menyerukan agar Hamas, yang menguasai wilayah itu, dihentikan. Protes terbesar, dengan sekitar 500 orang, berlangsung di Beit Lahiya, utara Gaza.
Sejumlah peserta menyuarakan penolakan terhadap perlawanan Palestina, termasuk Hamas. Salah seorang pembicara bahkan mengatakan, “Kami, rakyat Beit Lahiya, adalah rakyat yang mendambakan perdamaian. Kami cinta perdamaian dan ingin perang ini segera berakhir.”
Namun, protes tersebut justru dimanfaatkan oleh media Israel dan pendukungnya, pejabat pemerintah, serta sejumlah influencer media sosial yang anti-perlawanan, untuk menyerang gerakan perlawanan Palestina, terutama Hamas. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan memuji aksi tersebut dan menyebut bahwa negara apartheid Israel menaruh harapan besar pada protes ini untuk mengalahkan Hamas.
Seharusnya, protes semacam ini dapat dihargai jika tujuannya hanya ditujukan pada penjajahan Israel yang telah melakukan genosida secara terbuka dan mendapatkan dukungan internasional yang luas. Namun, kenyataannya, protes tersebut kemudian dieksploitasi dan diubah arahannya oleh sejumlah pejabat Otoritas Palestina, tokoh buronan, bahkan propagandis Israel seperti Edy Cohen. Mereka menggerakkan orang-orang yang membenci perlawanan untuk bergabung dalam aksi tersebut, yang jelas mengalihkan fokusnya.
Beberapa bulan lalu, seorang jurnalis Israel menghubungi saya dan mengatakan bahwa rakyat Israel sudah mulai jenuh dengan perang terpanjang yang mereka hadapi. Mereka mulai memberontak dan mendesak pemerintah mereka untuk segera mengakhiri perang tersebut. Lalu dia bertanya kepada saya, “Kapan warga Gaza akan memberontak melawan Hamas?” Dia mengklaim para pemimpin Israel sudah menunggu momen ini.
Faktanya, selama genosida ini berlangsung, para pemimpin Israel dan sekutunya berusaha menyalahkan Hamas dan gerakan perlawanan Palestina lainnya atas setiap kejahatan perang yang dilakukan oleh tentara Israel. Mereka telah menciptakan narasi untuk membenarkan pembantaian yang telah mereka rencanakan sejak lama, dengan tujuan akhir menguasai Gaza sepenuhnya.
Israel tidak membedakan antara satu orang Palestina dengan yang lainnya. Semua orang Palestina dianggap musuh yang harus dihancurkan karena mereka tidak akan pernah menyerah melawan penjajahan yang telah memaksa mereka keluar dari rumah mereka, merampas tanah mereka, dan membantai mereka tanpa henti.
Banyak orang mungkin sudah lupa tentang kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh penjajah Israel, termasuk klaim-klaim palsu yang dilontarkan para pemimpin mereka. Mereka mungkin tidak peduli bahwa ada pemimpin Israel yang pernah berkata, “Teman terbaik Palestina adalah Palestina yang sudah mati.”
Saya ingin mengingatkan, di awal genosida ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggunakan kata “Amalek” dari Alkitab Yahudi untuk menyebut orang Palestina, yang mengarah pada pemahaman bahwa orang Palestina harus dihancurkan. Mantan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, bahkan menyebut orang Palestina sebagai “hewan manusia,” yang membenarkan tindakan memutuskan pasokan listrik, bahan bakar, dan air ke Gaza—meski menurut hukum internasional, pasokan tersebut seharusnya diberikan tanpa biaya.
Selain itu, Wakil Ketua Knesset Israel, Nissim Vaturi, menulis di X bahwa orang Israel memiliki satu tujuan bersama: “Menghapuskan Gaza dari muka bumi.” Menteri Warisan Israel, Amichay Eliyahu, bahkan menyarankan agar Israel menjatuhkan bom nuklir ke Gaza, dengan alasan bahwa di Gaza “tidak ada warga sipil yang tidak terlibat.”
Moshe Feiglin, mantan anggota Knesset dari Likud dan pendiri Partai Zehut, secara terang-terangan menyerukan penghancuran total Gaza. Ia mengatakan, “Satu-satunya solusi adalah menghancurkan Gaza sepenuhnya, seperti yang terjadi di Dresden dan Hiroshima—tanpa senjata nuklir.”
Sementara itu, Menteri Komunikasi Israel, Shlomo Karhi, dengan tegas mengatakan agar orang Palestina segera diusir, dan dengan memutuskan pasokan listrik dan air, mereka akan dipaksa untuk pergi ke Mesir.
Kebijakan ini juga didukung oleh Menteri Keuangan sayap kanan, Bezalel Smotrich, yang berpendapat bahwa pemutusan pasokan dasar tersebut akan mempercepat rencana pengusiran yang pernah diutarakan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Bahkan, seorang anggota Knesset lainnya, Ariel Kallner, mengungkapkan kebenciannya dengan mengatakan, “Nakba untuk musuh sekarang! Hari ini adalah Pearl Harbour kami. Kami akan belajar dari pelajaran ini. Satu tujuan: Nakba! Nakba yang akan lebih besar dari Nakba 1948. Nakba di Gaza dan Nakba bagi siapa saja yang berani bergabung!”
Para pemimpin dan rakyat Israel tidak membedakan antara satu orang Palestina dengan yang lain. Mereka membunuh warga Palestina tanpa pandang bulu, menargetkan wilayah-wilayah yang bahkan tidak ada pejuang perlawanan di sana.
Mengenai perdamaian yang disuarakan oleh para pengunjuk rasa, apakah mereka sudah lupa bahwa seharusnya kita hidup dalam damai sejak 1993, ketika PLO menandatangani Perjanjian Oslo yang mengarah pada demiliterisasi Fatah, gerakan perlawanan Palestina terbesar saat itu? Namun, meskipun ada kesepakatan itu, pembantaian terhadap kami terus berlangsung.
Bukan orang Palestina yang harus membuktikan bahwa mereka ingin damai, tetapi Israel. Namun, ini tidak akan pernah terjadi selama mereka mendapat dukungan dari kekuatan besar dunia yang munafik dan pemimpin Arab yang tak tegas.
Perdamaian ini tidak akan pernah tercapai jika orang Palestina meletakkan senjata dan menghentikan perlawanan sah mereka. Perlawanan adalah kehormatan dan martabat kami—satu-satunya cara kami untuk merebut kembali kebebasan kami.
Penulis adalah seorang jurnalis yang tinggal di Gaza dan seorang spesialis dalam urusan Timur Tengah. Ia meraih gelar MA dalam jurnalisme internasional dari University of Westminster di London. Opini ini diambil dari tulisannya di Middle East Monitor.