#journalist

Anggota Parlemen AS Desak Biden Ungkap Penyelidikan Pembunuhan Jurnalis Shireen

GAZAMEDIA, WASHINGTON – 24 anggota Demokrat dari Senat AS mengirim surat kepada Presiden Joe Biden, memintanya untuk terlibat langsung dalam penyelidikan pembunuhan jurnalis Al-Jazeera, Shireen Abu Akleh di Tepi Barat, Kamis (23/6/2022).

Anggota parlemen Demokrat mengatakan dalam sebuah surat kepada Biden, “Jelas bahwa tidak ada pihak yang mempercayai yang lain untuk melakukan penyelidikan independen dan efektif atas pembunuhan Shirin Abu Aqleh yang terbunuh saat meliput penyerbuan pasukan penjajah di Kamp Jenin pada 11 Mei”.

Para legislator menegaskan sejauh ini belum ada kemajuan yang jelas dalam penyelidikan independen, komprehensif dan transparan mengenai pembunuhan jurnalis keturunan Amerika-Palestina, Shireen Abu Aqleh.

Perwakilan Partai Demokrat menyebutkan dalam surat mereka, 57 anggota Dewan Perwakilan Rakyat juga meminta FBI bulan lalu meluncurkan penyelidikan independen menemukan kebenaran tentang pembunuhan reporter Al-Jazeera tersebut.

Sejumlah anggota partai bahkan menandatangani surat tersebut, menegaskan keterlibatan mereka untuk mengusut tuntas masalah ini, yang mereka katakan telah menjadi hal mendesak dati beberapa tuntunan pers dengan mencuatnya informasi baru atas pembunuhan Abu Shireen dalam beberapa minggu terakhir. [ml/ofr]

“Israel” Tolak Sanksi Hukum Pasukannya yang Terbukti Serang Pelayat Jurnalis Shireen

GAZAMEDIA, AL-QUDS – Media berita “Israel” melaporkan, “Israel” tidak akan membawa pasukan kemanannya yang terlibat menyerang pemakaman jurnalis wanita, Shireen Abu Aqleh ke pengadilan maupun penjatuhan sanksi pendisiplinan, Kamis (16/6/2022).

Rekaman polisi Zionist yang menyerang prosesi pemakaman Shireen memicu kecaman luas di dunia, namun pihak keamanan “Israel” tidak menggubris masalah tersebut.

Surat kabar Ibrani, Haaretz menyebutkan: “Penyelidikan hanya mengungkapkan kekurangan perilaku tentara selama peperangan, tetapi para pasukan yang menyerang peti mati tidak akan diadili.”

Haaretz menambahkan, apa yang dilakukan petugas keamanan menyerang pelayat jenazah sudah mengikuti prosedur dan tindakan “terukur” sehingga penggunaan tongkat bisa dihindari.”

Diketahui, jurnalis senior Al-Jazeera, Sherine Abu Aqleh dibunuh oleh sniper pasukan Zionist “Israel” pada 10 Mei lalu saat meliput peristiwa teror pasukan penjajah yang menyerang warga Palestina di Kamp Jenin. [ml/ofr]

148 Pelanggaran Dilakukan “Israel” terhadap Para Jurnalis Hingga Mei 2022

GAZAMEDIA, GAZA – Komite Dukungan Jurnalis / Journalist Support Comitee (JSC) rilis laporan signifikan yang dilakukan polisi Zionist dan pemukim ilegal “Yahudi” terhadap kru pers yang tengah meliput konfrontasi dan tindakan terorisme “Israel” ke wilayah Palestina selama bulan Mei 2022, Selasa (31/5/2022).

Pembunuhan jurnalis Al-Jazeera Shireen Abu Aqleh adalah salah satu teror paling menonjol yang dilakukan “Israel”. Shireen dibunuh saat lakukan peliputan di kamp Jenin dengan sniper tentara “Israel”.

Laporan bulanan menunjukkan bahwa 162 pelanggaran hak kebebasan media dilanggar “Israel” khusus di wilayah Palestina yang diduduki, 148 di antaranya oleh pasukan penjajah

Pasukan penjajah dan pemukim ilegal tanpa bersalah kerap acungkan senjata mereka di hadapan wartawan, di samping serangan fisik dan psikologis dengan hinaan dan caci maki, pemukulan, dorongan, pelemparan botol air, penyemprotan merica, menghancurkan kendaraan dan kamera, dan mencuri ponsel milik wartawan yang tengah bertugas.

Laporan tersebut mencatat lebih dari 54 jurnalis institusi Internasional, Arab & lokal alami luka-luka akibat ssrangan sengaja baik verbal dengan kata-kata rasis dan penghinaan berlebihan maupun serangan fisik, serangan secara langsung atau dengan timah panas (senjata api).

Terdapat 11 kasus penangkapan dan penahanan, termasuk jurnalis Dujana Abu Al-Rub, Ahmed Al-Safadi dan Nasser Shtayyeh.

Patut dicatat bahwa jumlah syahuda kru pers Palestina sejak tahun 2000 telah melampaui 45 jiwa. [ml/ofr]

“Israel” Tolak Penyelidikan Kasus Pembunuhan Jurnalis Shireen

GAZAMEDIA, AL-QUDS – Pihak pasukan militer Zionist “Israel” memutuskan menahan diri membuka kasus penyelidikan seorang pasukan snipernya yang membunuh jurnalis Al-Jazeera, Shiren Abu Aqilah saat meliput konfrontasi di kamp Jenin dengan dalih “tidak ada bukti “kecurigaan” bahwa tentaranya terlibat dalam pembunuhan tersebut”, Rabu (18/5/2022).

Surat kabar Ibrani, “Haaretz” melaporkan, tentara memutuskan untuk tidak memulai penyelidikan atas kematian Abu Aqila di Jenin.

Surat kabar itu menunjukkan bahwa alasan lainnya adalah, “ketakutan pihak internal tentara penjajah bahwa membuka penyelidikan akan menyebabkan kekacauan serius bagi pemukim ilegal “Israel”.

Laporan resmi “Israel” tentang pembunuhan jurnalis Abu Aqila tampak bertentangan mereka berasumsi, Shireen berada dalam lingkaran api pertempuran dengan demikian kemungkinan salah satu tentara penjajah menargetkan Shireen secara tidak sengaja.

Seperti diketahui, jurnalis Abu Aqila tewas akibat sniper “Israel” di kota Jenin, sementara rekannya Ali Al-Samudi terluka pada Rabu pagi 11 Mei lalu. Sssaat setelah pembunuhan, “Israel” mencoba menghindari tanggung jawabnya atas insiden tersebut, dengan menyiarkan akun yang berbeda dan memberikan tekanan siap terlibat penyelidikan dengan pihak Palestina.

Keadaan sedih dan marah muncul setelah kesyahidan Abu Aqila baik secara lokal maupun global, bersamaan dengan kecaman resmi dan kutuk dari masyarakat internasioalnal atas kejahatan tersebut dengan tuntutan penyelidikan transparan dan akuntabilitas oleh “Israel”. [ml/ofr]