Telaah atas luka yang tak terlihat di balik angka korban — dan atas suara anak-anak Palestina sendiri, yang di tengah reruntuhan masih berani memimpikan sekolah, rumah, dan tidur malam tanpa ketakutan
Bayangkan sebuah ruang kelas. Tiga puluh anak duduk di bangku masing-masing, dengan buku, pensil, dan tawa khas usia mereka. Kini bayangkan seluruh kelas itu lenyap dalam satu hari. Itulah, menurut perhitungan UNICEF, rata-rata jumlah anak yang gugur setiap hari di Gaza pada masa paling kelam perang ini — setara satu ruang kelas penuh, setiap hari, selama berbulan-bulan. Angka ini begitu besar hingga sulit dicerna akal. Tetapi di balik setiap angka itu ada sebuah nama, sebuah wajah, sebuah masa kecil yang seharusnya dipenuhi permainan, bukan ketakutan.
Ketika kita berbicara tentang Gaza, perhatian dunia kerap tertuju pada geopolitik — rudal, kesepakatan, perundingan antarnegara. Namun di bawah semua itu, ada sebuah tragedi yang lebih sunyi dan lebih dalam: penghancuran sistematis atas masa kecil satu generasi penuh. Hari ini, menurut UNICEF, hampir satu juta anak Gaza telah terpapar pengalaman traumatis perang yang konsekuensinya akan berlangsung seumur hidup.
Analisis ini hendak menatap apa yang sering luput dari sorotan: bukan hanya berapa banyak anak yang gugur, melainkan apa yang terjadi pada mereka yang selamat. Apa arti tumbuh dewasa di tengah reruntuhan? Apa beban yang akan dipikul satu generasi yang masa kecilnya dirampas? Dan — inilah yang paling penting — apa yang anak-anak itu sendiri katakan tentang masa depan yang mereka inginkan? Sebab di tengah kehancuran, mereka belum berhenti bermimpi.
Aritmetika yang Memilukan
Mari kita hadapi angkanya terlebih dahulu, sebab angka adalah bentuk kejujuran yang paling keras. Menurut data UNICEF, lebih dari 64 ribu anak dilaporkan tewas atau terluka sejak perang dimulai. Lebih dari 56 ribu anak telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya — menjadi yatim, piatu, atau keduanya, dalam usia ketika mereka paling membutuhkan perlindungan. Puluhan ribu anak terpisah dari keluarga mereka, tersesat dalam kekacauan pengungsian.
Dan kematian tidak berhenti bahkan ketika gencatan senjata diumumkan pada Oktober. Sejak gencatan itu, menurut UNICEF, rata-rata hampir dua anak masih tewas setiap hari di Gaza; lebih dari 135 anak dilaporkan gugur meski perang “resmi” telah dihentikan. Pada akhir pekan pertama Juni 2026 saja, delapan anak dilaporkan tewas dan 18 lainnya terluka di lima lokasi berbeda — di antaranya sekelompok anak yang sedang bermain sepak bola, terkena serangan di dekatnya. Gencatan senjata, bagi anak-anak Gaza, bukanlah akhir penderitaan; ia hanya pergeseran intensitasnya.
Satu ruang kelas penuh, setiap hari. Itu bukan statistik perang — itu penghapusan masa depan, satu anak demi satu anak.
Luka yang Tak Terlihat di Foto
Namun korban jiwa, betapa pun menghancurkan, hanyalah lapisan terluar dari bencana ini. Di bawahnya ada luka yang tidak muncul dalam foto, tidak masuk hitungan resmi korban, namun akan membentuk satu generasi: trauma psikologis. UNICEF menyatakan bahwa bahkan sebelum perang dimulai, separuh dari populasi anak Gaza sudah membutuhkan dukungan kesehatan mental. Hari ini, seluruh anak Gaza membutuhkannya. Bukan sebagian, bukan mayoritas — seluruhnya.
Apa artinya ini secara nyata? Artinya jutaan anak yang tidur dalam ketakutan akan suara pesawat, yang tersentak setiap kali mendengar dentuman, yang menyaksikan kematian orang tua atau saudara mereka dari jarak dekat. Seorang gadis berusia 14 tahun bernama Mayar, yang terluka dalam perang, mengungkapkannya dengan sederhana kepada UNICEF: setiap kali ia mendengar serangan udara, ia menjadi ketakutan. Trauma semacam ini tidak hilang ketika bom berhenti. Ia menetap di tubuh, mengganggu tidur, menghambat belajar, dan jika tidak ditangani, ia bisa terbawa hingga dewasa, membentuk cara seseorang memandang dunia selama puluhan tahun ke depan.
Trauma tidak berakhir ketika pengeboman berhenti. Ia menetap di tubuh anak-anak, jauh setelah kamera dunia berpaling.
Beban ini diperberat oleh kondisi hidup yang menghancurkan. Malnutrisi akut di kalangan anak melonjak tajam — UNICEF mencatat lonjakan 180 persen dalam kasus malnutrisi akut pada satu periode dibandingkan bulan sebelumnya. Sekitar 95 persen rumah tangga di Gaza tidak memiliki akses air bersih yang memadai. Penyakit menyebar di kamp-kamp pengungsian: skabies, cacar air, infeksi kulit. Bahkan dilaporkan lebih dari 70 ribu kasus gigitan tikus dan parasit sepanjang 2026. Tubuh yang lapar dan sakit, ditambah jiwa yang terluka — inilah kondisi tumbuh kembang yang ditimpakan kepada satu generasi.
Ada pula luka yang bersifat permanen dan terlihat: ribuan anak Gaza kehilangan anggota tubuh akibat pengeboman. Menurut UNICEF, antara 3.000 hingga 4.000 anak telah menjalani satu atau lebih amputasi anggota tubuh — menjadikan Gaza, menurut UNRWA dan International Rescue Committee, wilayah dengan jumlah amputasi anak per kapita tertinggi di dunia. Anak-anak bahkan mencakup sekitar seperempat dari seluruh amputasi di Gaza. Seorang anak yang kehilangan kaki pada usia tujuh tahun akan memikul kehilangan itu selama tujuh, delapan dekade ke depan — dalam masyarakat yang infrastruktur medis dan rehabilitasinya telah hancur, sehingga sebagian penyintas bahkan terpaksa membuat kaki dan tangan palsu secara darurat dari bahan seadanya. Dan ketika UNICEF menjalankan inisiatifnya untuk mendengar anak-anak Gaza, mereka secara khusus memastikan anak-anak penyandang disabilitas turut bersuara, karena justru merekalah yang paling rentan terlupakan dalam setiap rencana pemulihan. Keputusan kecil ini mengandung pelajaran besar: pemulihan yang adil tidak boleh meninggalkan siapa pun di belakang.
Sekolah yang Hilang, Masa Depan yang Tertunda
Ada satu dimensi lagi yang dampaknya akan terasa selama beberapa dekade: pendidikan yang runtuh. Bagi anak-anak Gaza, sekolah bukan sekadar tempat belajar; ia adalah simbol normalitas, stabilitas, dan kemungkinan masa depan. Namun ribuan sekolah telah hancur atau dialihfungsikan menjadi tempat penampungan pengungsi. Satu generasi anak kehilangan tahun demi tahun pendidikan — kerugian yang tidak bisa sepenuhnya dipulihkan, karena masa belajar kanak-kanak memiliki jendela waktunya sendiri.
Seorang gadis berusia 15 tahun bernama Hala, yang ditemui di sebuah Pusat Pembelajaran Sementara UNICEF di Deir el-Balah, mengatakannya dengan jernih: kehilangan sekolah sangat memengaruhi proses belajarnya, dan pendidikan penting bagi masa depannya. Ia memimpikan kehidupan yang aman — rumah yang aman, kamarnya sendiri, dan sekolah yang baik tempat ia bisa belajar dan tumbuh. Dalam satu kalimat, Hala merangkum apa yang diinginkan ribuan anak Gaza: rumah yang layak, rasa aman, dan kembali ke bangku sekolah. Ini bukan tuntutan yang berlebihan; ini adalah hal-hal paling mendasar dari sebuah masa kecil.
Suara yang Selama Ini Tak Didengar
Dan di sinilah letak bagian yang paling memukau sekaligus paling memberi harapan dari seluruh kisah ini. Selama dua tahun, anak-anak Gaza dibicarakan tanpa henti — kematian mereka dilaporkan, penderitaan mereka digambarkan. Tetapi satu hal yang jarang terdengar adalah suara mereka sendiri. Pada Februari 2026, UNICEF meluncurkan sebuah inisiatif bernama “The Gaza We Want” — Gaza yang Kami Inginkan — untuk mendengar langsung dari anak-anak Gaza tentang masa depan yang mereka impikan.
Hasilnya luar biasa. Sebanyak 1.603 anak mengisi kuesioner terstruktur, dan setidaknya 11 ribu anak ikut serta melalui berbagai kegiatan kreatif di kelima governorat Gaza, termasuk anak-anak penyandang disabilitas. Prioritas mereka jelas dan tidak terbantahkan: perumahan (97,3 persen), pendidikan (94,2 persen), keamanan (91,8 persen), layanan kesehatan (91,8 persen), dan dukungan psikologis (88,7 persen). Yang paling menggetarkan: mayoritas besar menolak solusi sementara — sebanyak 94,2 persen menyerukan gedung sekolah permanen, bukan tenda. Anak-anak ini, yang telah kehilangan segalanya, menolak diberi tambalan; mereka menuntut masa depan yang utuh.
Mereka melukis Gaza dengan jalan-jalan bersih berpohon, laut yang menjadi sumber kegembiraan, sekolah tempat belajar dan bermain. Dari abu, mereka membayangkan kehidupan.
Dalam gambar-gambar yang mereka buat — banyak di antaranya dari puing-puing perang itu sendiri — muncul satu visi bersama: Gaza sebagai tempat yang hidup, dengan jalan-jalan bersih berpohon, laut sebagai sumber kegembiraan, sekolah yang aman, rumah sakit yang menjadi tempat perawatan dan bukan ketakutan. Mereka menggambarkan Gaza bukan sekadar sebagai tempat, melainkan sebagai simbol keamanan, perdamaian, dan kebebasan — tempat tanpa suara tembakan, tanpa rasa takut akan hari esok. Kemampuan anak-anak ini mengubah rasa sakit menjadi visi kreatif, membayangkan pembangunan kembali dari abu, adalah salah satu bentuk ketangguhan manusia yang paling memukau.
Mengapa Masa Depan Ini Adalah Urusan Kita
Mungkin ada yang bertanya: mengapa kita, di Indonesia yang berjarak ribuan kilometer, harus memikul kepedulian ini? Jawabannya terletak pada satu prinsip sederhana yang melampaui batas geografi: anak-anak bukan pelaku konflik. Mereka tidak memulai perang, dan tidak berdaya menghentikannya. Direktur Eksekutif UNICEF mengucapkannya tanpa ambiguitas: dunia telah mengecewakan anak-anak Gaza. Kata “kita” dalam kalimat itu mencakup kita semua.
Bagi kita sebagai bangsa Muslim dan bangsa yang konstitusinya sendiri menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, nasib anak-anak Gaza menyentuh inti nilai yang kita junjung. Lebih dari itu, masa depan satu generasi yang dibentuk oleh trauma dan kehilangan bukanlah persoalan Gaza semata — ia adalah ujian bagi kemanusiaan kita bersama. Sebuah dunia yang mampu menyaksikan satu juta anak dirampas masa kecilnya tanpa bertindak adalah dunia yang telah kehilangan sesuatu yang fundamental dalam dirinya. Membela masa depan anak-anak Gaza, dengan demikian, juga adalah membela kemanusiaan kita sendiri.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
Menghadapi skala penderitaan ini, kepedulian harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Ada tiga hal konkret yang bisa kita lakukan sebagai pembaca Indonesia:
- Dukung program yang menyembuhkan, bukan sekadar bertahan hidup. Selain bantuan pangan dan medis darurat, dukungan untuk kesehatan mental anak, pendidikan, dan pemulihan trauma sama vitalnya untuk masa depan satu generasi. Salurkan bantuan melalui lembaga terpercaya seperti INH, MER-C, Sahabat Al-Aqsha, dan Adara Foundation, serta zakat-infak via BAZNAS, Dompet Dhuafa, atau Rumah Zakat yang mendukung program anak dan pendidikan.
- Dengarkan, dan sebarkan, suara anak-anak itu sendiri. Inisiatif seperti “The Gaza We Want” mengajarkan bahwa anak-anak Gaza bukan objek pasif yang dikasihani, melainkan subjek yang punya visi tentang masa depan mereka. Bagikan suara dan karya mereka, bukan hanya gambar penderitaan mereka. Memberdayakan lebih bermartabat daripada mengasihani.
- Dorong agar rekonstruksi Gaza menempatkan anak di pusatnya. Indonesia memiliki suara di forum internasional dan dapat ikut mendorong agar setiap rencana rekonstruksi Gaza — yang kini mulai dibicarakan — menjadikan kebutuhan anak (sekolah permanen, layanan kesehatan jiwa, ruang bermain) sebagai prioritas, bukan renungan belakangan. Rekonstruksi yang mengabaikan anak akan gagal.
Hak untuk Menjadi Anak-Anak
Ada sesuatu yang nyaris suci dalam cara anak-anak Gaza terus bermimpi. Setelah dua tahun kehilangan yang tak terbayangkan — rumah, sekolah, orang tua, anggota tubuh, rasa aman — mereka masih duduk dengan krayon dan kertas, melukis laut yang biru, pohon yang hijau, dan sekolah tempat mereka bisa tertawa. Seorang anak laki-laki berusia 14 tahun bernama Mohamed mengucapkannya dengan kalimat yang seharusnya membuat dunia tertunduk malu: kami ingin sekolah yang sebenarnya, bukan tenda, agar kami bisa merasa seperti anak-anak lain di seluruh dunia.
Kalimat itu — “agar kami bisa merasa seperti anak-anak lain di seluruh dunia” — mengandung seluruh tragedi sekaligus seluruh harapan dari generasi ini. Yang mereka inginkan bukanlah sesuatu yang luar biasa. Mereka tidak meminta kemewahan, tidak menuntut keajaiban. Mereka hanya ingin menjadi anak-anak: tidur sepanjang malam, berjalan ke sekolah tanpa rasa takut, memiliki kamar sendiri, bermain di taman. Hal-hal yang dianggap remeh oleh dunia yang beruntung, adalah mimpi terbesar bagi mereka.
Generasi anak Gaza hari ini akan menjadi orang dewasa Gaza esok hari — para guru, dokter, insinyur, orang tua, dan pemimpin di masa depan. Apa yang kita lakukan, atau gagal lakukan, untuk menyembuhkan dan mendidik mereka hari ini akan menentukan Gaza seperti apa yang akan berdiri di atas reruntuhan ini. Membiarkan trauma mereka tak tertangani berarti mewariskan luka itu ke generasi berikutnya; menyembuhkannya berarti menanam benih pemulihan yang akan berbuah selama puluhan tahun.
Maka pertanyaan terakhir yang ditinggalkan analisis ini bukanlah tentang politik, dan bukan pula tentang perang. Pertanyaannya adalah tentang pilihan moral yang berdiri di hadapan kita: ketika satu juta anak telah berani membayangkan masa depan dari atas puing-puing, akankah dunia — dan kita di dalamnya — cukup berani untuk membantu mewujudkannya, atau akankah kita membiarkan mimpi-mimpi itu padam bersama abu yang darinya mereka dilukis? (IW)

