Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa mengatakan pada hari Selasa bahwa Damaskus sedang berupaya menjaga Suriah agar tidak terlibat dalam perang regional yang sedang berlangsung, sambil memperingatkan bahwa negara itu tetap bisa menjadi sasaran di tengah meningkatnya ketegangan.
Berbicara di Chatham House di London, Sharaa menjawab pertanyaan dari koresponden Anadolu mengenai apakah Suriah bisa menjadi target langsung setelah serangan Israel terhadap Iran, serta apakah Damaskus masih menjalin kontak dengan Teheran sejak dimulainya perang dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Kami tidak memiliki hubungan resmi dengan Iran sejak awal perang,” ujarnya.
Sharaa mengakui adanya risiko yang dihadapi Suriah, tetapi menekankan kebijakan untuk menghindari eskalasi.
“Apakah Suriah bisa menjadi target? Itu mungkin, tetapi kami berusaha untuk tidak memulai permusuhan dengan siapa pun, dan kami berusaha menjauhkan Suriah dari medan perang mana pun,” katanya.
Ia memperingatkan bahwa situasi regional saat ini didorong oleh emosi yang tinggi dan pengambilan keputusan yang tidak dapat diprediksi.
“Segala sesuatu mungkin terjadi sekarang, karena bukan penilaian yang bijak yang mengendalikan keadaan saat ini. Suasananya dipenuhi kemarahan, reaksi, dan kebijakan yang acak,” tambahnya.
Presiden Suriah itu juga mencatat bahwa dinamika seperti ini memengaruhi banyak negara, termasuk negara-negara Teluk yang sebelumnya berada di luar konflik namun kini ikut menjadi sasaran.
Ia mengatakan bahwa Suriah berusaha mengambil langkah paling aman bagi rakyatnya dan dengan hati-hati mempertimbangkan pilihan agar tidak terseret ke dalam konflik.
“Kami berusaha memilih situasi paling aman bagi rakyat kami dan mempertimbangkan segala hal dengan cermat agar tidak sampai pada titik di mana kami menjadi target dan dipaksa untuk merespons,” ujarnya.
Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari, yang sejauh ini menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, sekaligus mengganggu pasar global dan penerbangan.


