Analisis Editorial atas Dampak, Rendahnya Literasi, dan Matinya Empati Kemanusiaan
Pernahkah kita menunduk sejenak dan menghitung: berapa banyak kalori otak yang kita bakar untuk menguliti aib orang yang duduk di sebelah kita, dibanding yang kita gunakan untuk memahami hancurnya dunia?
Ada sebuah anomali peradaban yang sedang dirayakan secara masif hari ini. Kita hidup di era ketika gosip melesat jauh lebih cepat daripada gagasan, dan kebohongan remeh dipeluk lebih erat ketimbang pemikiran yang lahir dari akal sehat. Di setiap sudut pekarangan dan lorong kantor, orang saling sikut sekadar untuk menjadi pengeras suara kabar burung dan hobi membicarakan dari belakang. Kita bersorak melihat panggung drama yang halamannya kita sobek dari kehidupan nyata orang-orang di sekitar kita, sementara kebenaran dibiarkan berdebu bagai bacaan tua di sudut ruang. Sedihnya, rasa kesal tanpa sebab dan gosip murahan sekarang bukan lagi dilihat sebagai penyakit, melainkan sudah menjadi kebiasaan harian, layaknya kudapan yang dikunyah dengan lahap oleh banyak orang.
Pertanyaannya: di mana arena pesta kebebalan ini digelar, dan siapa badut-badut pengisinya? Panggung itu tidak jauh di layar televisi atau ibu kota, melainkan tepat di teras rumah kita, di pantry kantor saat jam istirahat, di bangku semen pos ronda, hingga di meja-meja arisan yang hangat. Pelakunya adalah kita sendiri, kerumunan orang biasa yang tidak berkumpul untuk membedah buku atau merayakan pemikiran besar, melainkan sibuk mengumpulkan kepingan cerita tentang siapa tetangga yang gagal, rekan kerja mana yang ganjil, dan kerabat mana yang hidupnya melenceng dari barisan. Kita menjelma menjadi hakim amatir bagi kehidupan orang-orang yang napasnya bisa kita dengar setiap hari.
Ironi terbesar dari fenomena ini terletak pada dimensi waktu. Tradisi menggunjing di lingkup kecil ini justru mencapai titik didih paling menjijikkan tepat pada momentum ketika dunia sedang berdarah. Di saat yang bersamaan ketika rudal-rudal menghantam tenda pengungsi di Rafah, ketika anak-anak Palestina kehilangan anggota tubuh tanpa anestesi, atau ketika krisis kemanusiaan mengoyak kelaparan di belahan bumi lain, apa yang merajai obrolan di lingkungan kita? Bukan jerit tangis dari Gaza, melainkan desas-desus tentang tetangga yang baru membeli mobil dengan utang, anak kenalan yang belum kunjung menikah, atau spekulasi mengapa si Fulan jarang keluar rumah. Kita memilih memalingkan wajah dari kuburan massal di depan mata, demi bisa mengintip lewat celah pagar rumah orang lain.
Mengapa nalar kolektif kita memilih jalan yang begitu pengecut ini? Secara psikologis dan filosofis, jawabannya sangat terang: karena kebenaran menuntut tanggung jawab moral, sementara gosip menawarkan kelegaan instan. Membaca tragedi kemanusiaan membuat kita merasa kecil, tidak berdaya, dan dituntut untuk bersikap. Sebaliknya, membicarakan aib kawan sendiri bekerja persis seperti obat penenang. Ini adalah cara sekelompok manusia menjinakkan emosi, mencari kepalsuan kendali, dan merasa lebih hebat dengan menyakiti martabat sesamanya. Meminjam kacamata Plato, publik lebih suka berkubang dalam lumpur opini (doxa) yang dangkal karena meraih pengetahuan sejati (episteme) membutuhkan kerja keras nalar. Dan Nietzsche benar: jiwa-jiwa yang malas belajar dan rapuh memang selalu butuh menciptakan musuh khayalan di sekitarnya, semata-mata untuk menutupi ketidakberdayaan mereka sendiri dalam merespons kejahatan dunia yang sesungguhnya.
Lalu, bagaimana mesin pembodohan komunal ini beroperasi hingga melumpuhkan nurani satu lingkungan? Mekanismenya bertumpu pada kemiskinan literasi yang bertemu dengan hasrat purba untuk berkelompok. Karena kemauan membaca yang rendah telah mencekik kemampuan bernalar, warga kehilangan daya saring. Fitnah yang disebar ibarat tradisi lisan miskin imajinasi yang terus diulang, dilebih-lebihkan, dan dibelokkan sampai terasa memabukkan. Di sinilah teori kambing hitam René Girard menemukan wujud paling nyatanya. Komunitas kecil yang haus kebersamaan namun hampa nilai, akan selalu mengorbankan satu sosok di dekat mereka untuk dikutuk bersama, demi menjaga ilusi kolektif bahwa “kelompok kita adalah yang paling normal”.
Jika terus dibiarkan, seberapa jauh kerugian dan hancurnya peradaban yang harus kita bayar? Harganya adalah kebangkrutan moral yang total. Skala kerugiannya tidak bisa dihitung dengan angka, melainkan dengan matinya kepekaan kita sebagai manusia. Ketika jutaan jam obrolan dihabiskan untuk mendiskusikan tabiat buruk kawan sendiri, pada saat yang sama kita sedang menarik mundur desakan batin bagi nyawa-nyawa yang sedang dibantai di Timur Tengah. Kita menjadi penyumbang pasif bagi lestarinya penindasan. Fitnah dan gosip domestik ini telah sukses memenjarakan kita dalam gelembung narsistik tingkat rukun tetangga, membuat kita merasa suci karena sudah menjaga “ketertiban lingkungan”, padahal jiwa kita berlumuran sikap apatis yang pekat.
Kini, di persimpangan sejarah yang ganjil ini, pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang salah, melainkan bagaimana cara kita menebusnya? Satu-satunya jalan keluar adalah melakukan pemberontakan atas kebiasaan harian kita sendiri di tongkrongan. Kita harus berani menukar gosip dengan obrolan yang lebih bernyawa. Kita harus merebut kembali waktu yang terkuras untuk menistakan orang lain, lalu memutar arahnya untuk meningkatkan literasi, menyelami lembar demi lembar buku, dan memaksa mata kita menatap realitas kemanusiaan yang paling tidak nyaman.
Memihak pada kemanusiaan dimulai dari keberanian untuk berdiri dan meninggalkan lingkaran bisik-bisik di meja makan atau teras rumah. Lewat langkah kecil menolak mendengarkan aib sesama, lalu membuka mulut untuk menyuarakan keadilan bagi mereka yang tertindas, kita sedang merajut ulang wajah kota dan menyelamatkan kewarasan komunitas kita. Sudah saatnya kita membunuh tradisi kebebalan ini. Kita berhenti menjadi pembuat fitnah, membuang jauh-jauh cermin retak kepalsuan kita, lalu terlahir kembali sebagai perajin makna yang punya rasa malu di hadapan semesta.

