HomeBeritaPusat Koordinasi Gaza Akan Dirombak, Georgia dan Vietnam Dibahas Kirim Pasukan ke...

Pusat Koordinasi Gaza Akan Dirombak, Georgia dan Vietnam Dibahas Kirim Pasukan ke ISF

KIRYAT GAT — Pusat Koordinasi Sipil-Militer (Civil-Military Coordination Center/CMCC) yang mengawasi pelaksanaan gencatan senjata Gaza akan menjalani perombakan untuk membuatnya lebih operasional dan memperkuat koordinasi dengan Board of Peace pimpinan Presiden AS Donald Trump. Hal itu dilaporkan saluran televisi Israel Channel 12 pada Kamis (25/6), sementara Georgia dan Vietnam disebut tengah dalam pembicaraan untuk mengirim pasukan ke Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) yang direncanakan dikerahkan ke Gaza.

CMCC didirikan di Kiryat Gat, Israel selatan, pada Oktober 2025 di bawah rencana Trump untuk mengakhiri perang di Gaza. Pusat itu ditugaskan memantau gencatan senjata Israel-Hamas, memfasilitasi masuknya bantuan, dan menyusun kebijakan pascaperang bagi wilayah Palestina tersebut.

Pergantian Nama dan Peran

Menurut tiga diplomat yang mengetahui rencana tersebut, pusat itu akan diganti namanya. Channel 12, sebagaimana dikutip dalam laporan Kamis, menyebut nama baru yang diusulkan adalah International Gaza Aid Center. Adapun laporan kantor berita Reuters pada awal Mei sebelumnya menyebut rencana penggantian nama menjadi International Gaza Support Centre, setelah fungsi CMCC dilebur ke dalam ISF.

ISF dirancang untuk mengamankan Jalur Gaza selama masa transisi pascaperang, menyusul penarikan pasukan Israel dan perlucutan senjata kelompok Hamas. Pasukan internasional ini diperkirakan akan mengambil alih tanggung jawab bantuan dan pemantauan yang selama ini diemban CMCC. Berdasarkan laporan Mei, jumlah personel militer AS di lembaga yang dirombak itu akan berkurang menjadi sekitar 40 orang dari sebelumnya sekitar 190 orang, dengan Washington berupaya menggantinya menggunakan staf sipil dari negara lain. AS menyatakan pasukannya tidak akan dikerahkan ke dalam Gaza.

Komando ISF dipegang Mayor Jenderal AS Jasper Jeffers, yang ditunjuk Gedung Putih sebagai komandan pasukan tersebut. Hingga kini, ISF belum juga dikerahkan ke Gaza, dan baru sedikit negara yang menjanjikan pengiriman pasukan.

Pertanyaan soal Kontribusi Pasukan

Pembahasan keterlibatan Georgia dan Vietnam menambah daftar negara yang dipertimbangkan berkontribusi pada ISF. Sebelumnya, lebih dari 25 negara mengirim perwakilan ke konferensi perencanaan ISF yang digelar Komando Pusat AS (CENTCOM) di Doha pada Desember 2025, termasuk Georgia. Indonesia telah menjanjikan kontingen dalam jumlah besar dan akan menjabat sebagai wakil komandan pasukan, sementara Maroko menjanjikan pengiriman personel militer.

Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2803 yang disahkan pada 17 November 2025 memberikan mandat bagi pembentukan Board of Peace dan ISF. Menurut rencana 20 poin Trump, ISF akan dikerahkan secara bertahap seiring penarikan pasukan Israel, “berdasarkan standar, tonggak pencapaian, dan kerangka waktu yang terkait dengan demiliterisasi”.

Namun, sejumlah pertanyaan mendasar masih menggantung. Belum jelas apakah mandat ISF mencakup konfrontasi langsung dengan Hamas, maupun bagaimana persisnya pasukan itu akan mendorong demiliterisasi Gaza. Hamas menyatakan isu perlucutan senjata belum pernah dibahas secara resmi dengannya oleh para mediator, dan menegaskan tidak akan menyerahkan senjata hingga negara Palestina merdeka berdiri. Sejumlah negara juga disebut enggan menempatkan pasukan di kawasan yang dikuasai Hamas.

Perombakan kelembagaan ini berlangsung di tengah kondisi kemanusiaan yang belum membaik secara nyata di Gaza. Para diplomat menyatakan tingkat penyaluran bantuan sebagian besar masih stagnan, sementara Israel masih membatasi masuknya sejumlah barang yang disebutnya berpotensi bermanfaat ganda untuk keperluan militer dan sipil, termasuk tiang tenda untuk kamp pengungsi dan alat berat untuk membersihkan puing. (IW)

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler