GAZA — Sedikitnya delapan warga Palestina, termasuk seorang anak, tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam serangan militer Israel di Jalur Gaza, Minggu (1/11/2026). Serangan tersebut kembali menambah daftar korban di tengah gencatan senjata yang terus dilanggar sejak diberlakukan pada Oktober 2025.
Laporan Middle East Monitor yang mengutip kantor berita Anadolu menyebutkan, serangan terjadi di dua lokasi berbeda, yakni kawasan Al-Mawasi di wilayah Khan Younis, Gaza selatan, serta Jalan Al-Thawra di Kota Gaza.
Sumber medis di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, menyatakan lima warga Palestina tewas akibat serangan udara Israel di kawasan Al-Mawasi, sebelah barat kota tersebut.
Serangan itu dilaporkan terjadi tidak jauh dari sejumlah sekolah yang digunakan anak-anak. Ledakan tersebut memicu kepanikan di kalangan warga, terutama anak-anak yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Sementara itu, serangan lainnya menghantam kawasan Jalan Al-Thawra di Kota Gaza. Sumber medis di Rumah Sakit Al-Shifa melaporkan tiga warga Palestina, termasuk seorang anak, tewas dalam serangan udara tersebut.
Enam orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan berbeda. Sumber-sumber lokal menyebutkan sebuah pesawat nirawak atau drone Israel menargetkan sekelompok warga sipil yang sedang berkumpul di kawasan tersebut.
Serangan terbaru ini memperpanjang daftar korban akibat pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip Middle East Monitor, sedikitnya 1.580 warga Palestina tewas dan 5.711 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa kesepakatan penghentian pertempuran belum sepenuhnya mampu memberikan perlindungan bagi warga sipil di wilayah tersebut.
Padahal, gencatan senjata diharapkan menjadi langkah awal untuk menghentikan kekerasan, membuka akses bantuan kemanusiaan, serta memulai proses pemulihan kehidupan masyarakat Gaza yang telah mengalami kehancuran akibat perang berkepanjangan.
Di luar korban selama masa gencatan senjata, situasi kemanusiaan di Gaza masih berada dalam kondisi sangat memprihatinkan.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sejak pecahnya perang pada Oktober 2023, lebih dari 74.000 warga Palestina telah kehilangan nyawa dan lebih dari 175.000 lainnya mengalami luka-luka.
Serangan berkepanjangan juga mengakibatkan kehancuran besar terhadap infrastruktur sipil. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza dilaporkan mengalami kerusakan atau kehancuran.
Rumah-rumah penduduk, fasilitas kesehatan, sekolah, serta berbagai sarana publik menjadi bagian dari dampak perang yang hingga kini masih dirasakan masyarakat.
Serangan terbaru pada Minggu lalu kembali memperlihatkan rapuhnya situasi keamanan di Gaza. Bagi warga Palestina, gencatan senjata yang seharusnya menghadirkan harapan untuk hidup lebih aman justru belum mampu mengakhiri ancaman serangan dan jatuhnya korban jiwa.
Di tengah kondisi tersebut, perlindungan terhadap warga sipil dan penghentian serangan menjadi tuntutan mendesak agar tragedi kemanusiaan di Gaza tidak terus berulang. (cky)


