Pada 29 Januari 2024, seorang anak perempuan berusia enam tahun bernama Hind Rajab terjebak sendirian di kursi belakang mobil Kia hitam di pinggiran Kota Gaza. Di sekelilingnya, jasad pamannya, bibinya, dan tiga sepupunya tergeletak tak bernyawa. Selama tiga setengah jam, dengan tangan kecil yang gemetar, Hind menelepon Bulan Sabit Merah Palestina, memohon agar seseorang datang menyelamatkannya.
“Tanknya sudah dekat sekali,” bisiknya. “Tolong jemput aku.”
Ambulans yang akhirnya dikirim, dengan dua paramedis bernama Yusuf Zeino dan Ahmad al-Madhoun, ditembak hancur sebelum sempat mencapai Hind. Dua belas hari kemudian, ketika keluarganya akhirnya bisa kembali ke lokasi, mereka menemukan tubuh Hind kecil—masih di kursi belakang yang sama—penuh peluru. Mobil Kia itu remuk diinjak tank.
Hind Rajab adalah satu dari lebih dari dua belas ribu anak Palestina yang telah gugur sejak Oktober 2023. Satu nama, satu wajah, satu suara kecil yang memohon di tengah malam Gaza yang dingin. Di balik setiap angka statistik yang berbaris di kolom berita—“dua juta pengungsi,” “tiga puluh ribu korban,” “dua belas ribu anak”—ada Hind Rajab yang lain. Ada banyak Hind Rajab. Banyak sekali.
Maka ketika pada awal Februari 2025, Donald Trump berdiri di hadapan kamera dunia dan mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan “mengambil alih” Gaza—bahwa wilayah pesisir yang luluh lantak itu akan diubah menjadi “Riviera Timur Tengah” dan dua juta penduduknya direlokasi paksa ke Yordania dan Mesir—ia tidak sedang berbicara tentang “properti.” Ia sedang berbicara tentang tanah tempat Hind Rajab dilahirkan. Tanah tempat Hind Rajab dikubur.
Dan ia mengucapkannya tanpa berkedip.
Mengapa Seorang Presiden Tidak Bergetar
Pertanyaan yang harus kita ajukan bukanlah “apa” yang dilakukan Donald Trump terhadap Gaza—itu sudah jelas dilihat seluruh dunia. Pertanyaan yang lebih penting adalah: “mengapa” ia bisa melakukannya tanpa rasa malu? Mengapa, ketika seorang pemimpin negara adidaya berdiri di hadapan dunia dan mengumumkan rencana yang oleh PBB segera dikategorikan sebagai pembersihan etnis—ia bahkan tidak menundukkan pandangan?
Jawabannya, menurut para ahli psikologi politik yang telah mempelajari Trump selama satu dekade, tidak terletak di Pentagon, tidak juga di Departemen Luar Negeri. Jawabannya terletak di dalam struktur kepribadian Trump sendiri—sebuah struktur yang telah dibentuk oleh trauma masa kecil dan kini telah berubah menjadi kekuatan destruktif yang mengguncang seluruh tatanan dunia.
Untuk memahami mengapa Hind Rajab tidak terlihat oleh seorang Trump—untuk memahami mengapa dua juta jiwa Gaza tidak lebih dari sekadar angka dalam kepalanya—kita harus melakukan perjalanan yang aneh. Perjalanan dari pinggiran Gaza City menuju sebuah rumah keluarga di Queens, New York, lebih dari tujuh dekade silam.
Anak yang Tidak Pernah Dipeluk
Dalam ilmu personologi—cabang psikologi yang mempelajari kepribadian tokoh-tokoh berpengaruh—ada satu prinsip yang selalu berlaku: tidak ada tirani yang lahir dari kebahagiaan. Tirani selalu lahir dari luka.
Fred Trump senior, ayah Donald, adalah figur ayah yang dingin dan menuntut. Ia menilai anak-anaknya semata-mata melalui satu prisma sederhana: siapa yang menang, dan siapa yang kalah. Tidak ada ruang untuk kelembutan di rumah itu. Tidak ada ruang untuk air mata. Mary Anne, sang ibu, penuh kasih sayang—tetapi terlalu lemah secara struktural untuk menyeimbangkan dominasi suaminya.
Lalu datang dua peristiwa yang mengoyak masa kecil Donald muda. Yang pertama: kakak laki-lakinya, Fred Trump Jr., hancur di bawah tekanan ekspektasi sang ayah dan akhirnya menjadi korban alkoholisme. Yang kedua: pada usia remaja—fase paling rentan dalam pembentukan kepribadian—Donald dikirim ke sekolah militer berasrama yang keras.
Yang lahir dari konstelasi keluarga ini bukanlah seorang lelaki yang utuh. Yang lahir adalah seorang anak laki-laki yang tidak pernah benar-benar dipeluk—yang kemudian tumbuh menjadi seorang dewasa yang mengisi kekosongan itu dengan satu cara: dengan terus-menerus membuktikan kekuatan. Mengejar status. Membesar-besarkan setiap pencapaian. Dan, yang paling berbahaya bagi dunia, memandang setiap interaksi antarmanusia sebagai ajang eksploitasi kekuasaan murni.
Para ahli yang menerapkan kerangka Theodore Millon pada profil Trump menyimpulkan: ia bukan figur narsistik biasa. Ia adalah perpaduan dari empat dimensi kepribadian yang saling memperkuat—ambisi eksploitatif, impulsivitas dramatis, dominasi otoriter, dan kecenderungan mengambil risiko ekstrem. Sintesisnya menghasilkan apa yang oleh para ahli disebut narsisme impulsif—kombinasi paling berbahaya yang bisa duduk di kursi presiden negara adidaya.
“Tidak ada tirani yang lahir dari kebahagiaan. Tirani selalu lahir dari luka. Dan luka yang tidak pernah disembuhkan kemudian menuntut korban dari seluruh dunia.”
Inilah yang harus dipahami: ketika Trump memandang Gaza, ia tidak melihat manusia. Ia bahkan tidak melihat tanah dalam pengertian biasa. Ia melihat sebidang properti. Sebuah aset. Sebuah peluang transaksi. Hind Rajab—dengan semua tangis kecilnya di kursi belakang mobil Kia—adalah variabel yang harus disingkirkan agar transaksi bisa berlangsung.
Dan ini bukan keganjilan moral. Ini adalah konsekuensi logis dari sebuah jiwa yang sejak kecil diajarkan bahwa dunia hanya terbagi menjadi dua jenis manusia: pemenang dan pecundang. Hind Rajab, dalam kalkulus mental Trump, adalah pecundang. Maka ia bisa diabaikan.
Dunia di Atas Meja Tawar
Watak transaksional Trump bukan sekadar gaya bisnis yang kebetulan pindah ke politik. Ia adalah prinsip pengorganisasian utama dari seluruh cara pandangnya terhadap dunia. Setiap hubungan—apakah dengan keluarga, dengan pegawai, dengan sekutu, atau dengan musuh—dipandang melalui satu lensa sederhana: apa untungku?
Logikanya adalah zero-sum. Keberhasilan diukur dari kemenangan mutlak satu pihak atas pihak lain. Tidak ada konsep saling menguntungkan. Tidak ada konsep solidaritas. Tidak ada konsep keadilan substantif. Yang ada hanyalah meja tawar—dan siapa yang berhasil meninggalkan meja itu dengan keuntungan terbesar.
Bagi rakyat Palestina, logika ini telah berarti malapetaka yang terus diperdalam. Pada masa jabatan pertamanya, Trump telah mengkhianati seluruh konsensus internasional dengan memindahkan Kedutaan Besar AS ke Al-Quds, mengakui kedaulatan rezim Zionis atas Dataran Tinggi Golan yang dirampas, serta menghentikan seluruh pendanaan kemanusiaan untuk UNRWA—badan PBB yang menopang hidup jutaan pengungsi Palestina.
Abraham Accords, yang dirancang menantunya Jared Kushner, secara sengaja melompati isu inti kemerdekaan Palestina. Negara-negara seperti UEA, Bahrain, Maroko, dan Sudan didorong menormalisasi hubungan dengan rezim Tel Aviv dengan satu harga: pengkhianatan terhadap saudara seiman di Gaza dan Tepi Barat. Bagi Trump, ini adalah kemenangan diplomatik yang gemilang. Bagi rakyat Palestina, ini adalah pengkhianatan yang akan dikenang berabad-abad.
Suara yang Tidak Bisa Mereka Bungkam
Pada 6 Desember 2023, dua bulan setelah genosida Gaza dimulai, sebuah rudal Zionis menghantam apartemen seorang penyair di Gaza City. Namanya Refaat Alareer—profesor sastra di Universitas Islam Gaza, penulis, aktivis, dan ayah. Ia gugur bersama saudara laki-lakinya, saudara perempuannya, dan empat keponakannya.
Lima minggu sebelum gugur, Refaat memasang sebuah puisi di profil media sosialnya—seolah-olah ia tahu apa yang akan datang. Puisi itu kemudian menyebar ke seluruh dunia, diterjemahkan ke puluhan bahasa, dibaca puluhan juta kali. Judulnya sederhana: “Jika Aku Harus Mati.” Bunyinya begini:
Jika aku harus mati,
engkau harus hidup
untuk menceritakan kisahku,
untuk menjual barang-barangku,
untuk membeli sepotong kain dan beberapa untai tali,
(buatlah putih dengan ekor yang panjang)
agar seorang anak, di suatu tempat di Gaza,
sambil menatap langit,
menanti ayahnya yang pergi dalam kobaran api—
tanpa sempat berpamitan kepada siapa pun,
bahkan kepada dagingnya sendiri,
bahkan kepada dirinya sendiri—
melihat layang-layang, layang-layang yang kaubuat,
terbang tinggi di atas sana,
dan mengira sejenak ada malaikat di sana
yang membawa kembali cinta.
Refaat dibunuh karena ia berbicara. Karena ia menulis. Karena ia mengajar generasi muda Palestina untuk tidak pernah lupa siapa diri mereka, dari mana mereka berasal, dan untuk apa mereka berjuang.
Tetapi rudal yang membunuh tubuhnya tidak bisa membunuh suaranya. Hari ini, setiap kali seorang anak di Jakarta, di Jogja, di Aceh, di Makassar, membaca puisi “Jika Aku Harus Mati,” Refaat Alareer hidup kembali. Setiap kali seorang aktivis di London atau New York atau Bandung mengangkat panji Palestina, Refaat hidup kembali. Inilah yang tidak dimengerti oleh Trump dan para sekutu Zionisnya: bahwa engkau bisa membunuh tubuh, tetapi engkau tidak akan pernah bisa membunuh kebenaran.
“Engkau bisa membunuh tubuh, tetapi engkau tidak akan pernah bisa membunuh kebenaran. Dan kebenaran Palestina lebih tua dari Trump, lebih tua dari rezim Zionis, lebih tua dari seluruh imperium yang pernah datang dan pergi di tanah suci itu.”
Kesepakatan Sharm al-Sheikh: Ketika Penderitaan Dirumuskan Sebagai Klausul
Pada 13 Oktober 2025, di sebuah resor mewah di tepi Laut Merah, Donald Trump duduk di antara para pemimpin Turki, Qatar, dan Mesir. Mereka menandatangani dokumen yang diberi nama megah: “Deklarasi Trump untuk Perdamaian dan Kemakmuran Abadi.” Dokumen 20 poin ini kemudian disahkan melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803.
Bagi rakyat Gaza yang sedang menghitung bulan-bulan kelaparan, deklarasi itu mungkin terdengar seperti harapan. Tetapi di dalamnya, transaksionalisme Trump tetap berdetak—kuat dan dingin. Rencana itu dibagi dalam tiga fase yang membaca seperti kontrak komersial:
- Fase Pertama. Penghentian aksi saling serang sementara, pembebasan sandera, dan masuknya bantuan kemanusiaan.
- Fase Kedua. Pembubaran total struktur pemerintahan Hamas dan pelucutan senjata mereka secara menyeluruh—sebagai prasyarat mutlak bagi rekonstruksi.
- Fase Ketiga. Pembentukan “Dewan Perdamaian” transisional yang dipimpin langsung oleh Trump sendiri, didukung Pasukan Stabilisasi Internasional.
Bayangkan untuk sejenak apa artinya rencana ini bagi rakyat Palestina. Setelah dua tahun genosida, setelah puluhan ribu syuhada, setelah hancurnya rumah sakit, sekolah, masjid, dan setiap inci kehidupan normal—mereka diminta menyerahkan senjata mereka sepenuhnya kepada sebuah “Dewan” yang dipimpin oleh lelaki yang sama, yang baru beberapa bulan sebelumnya, ingin menjadikan tanah mereka sebagai resor wisata.
Dan inilah yang terjadi: Hamas menolak. Bukan karena ingin perang, tetapi karena ada batas-batas martabat yang tidak boleh dilanggar. Anda tidak meminta seorang korban genosida untuk melucuti dirinya sendiri di hadapan pelakunya. Anda tidak meminta seorang ibu yang anaknya gugur untuk menyerahkan kuncinya kepada sang penembak.
Pertempuran sporadis kembali pecah di wilayah-wilayah yang masih dikendalikan faksi perlawanan. Dan di Washington, Trump—yang namanya tertera sebagai ketua Dewan Perdamaian—mendapati reputasinya tergores. Untuk pertama kalinya, sebuah “kesepakatan” Trump tidak berjalan sesuai skenarionya.
Pelajaran dari Negara-Negara Teluk
Tetapi di balik kegagalan ini, ada satu pelajaran yang harus dicatat oleh setiap negara Muslim, termasuk Indonesia. Negara-negara Teluk—Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab—secara cerdik telah membalikkan logika Trump terhadap dirinya sendiri.
Menyadari bahwa Trump terobsesi pada pencapaian personal, para pemimpin Arab justru mendorong agar nama Trump tercantum langsung sebagai ketua Dewan Perdamaian. Mengapa? Karena dengan demikian, kegagalan rencana akan menjadi kegagalan reputasi Trump sendiri. Mereka menggunakan narsisme Trump sebagai jangkar yang mengikatnya pada komitmen.
Arab Saudi menolak normalisasi penuh dengan Tel Aviv dan menuntut komitmen tertulis menuju negara Palestina merdeka—mencabut konsesi yang sebelumnya hampir disepakati. Uni Emirat Arab, ketika faksi sayap kanan kabinet Zionis mendorong aneksasi Tepi Barat, memanggil Duta Besar Tel Aviv di Doha dan mengancam menarik diri dari Abraham Accords. Tekanan itu memaksa Trump menekan Netanyahu agar meredam ambisinya.
Inilah pelajaran berharga: diplomasi transaksional ternyata bisa berbalik melawan penemunya, asal dimainkan dengan cermat. Anda tidak perlu lebih kuat dari Trump. Anda hanya perlu memahami bahwa di balik kesombongannya, ada kebutuhan neurotik untuk dianggap sebagai pemenang. Dan kebutuhan itu adalah titik tekan yang sangat efektif.
Iran: Ketika Sang Penguasa Mendengar Suara Bom
Jika Gaza menampilkan sisi transaksional Trump, Iran menampilkan dimensi paling destruktif dari kepribadian dominan-impulsifnya. Pada malam 12–13 Juni 2025, koalisi AS–Israel meluncurkan Operation Midnight Hammer—serangan udara preemptif berskala besar terhadap fasilitas nuklir bawah tanah dan pangkalan rudal Iran.
Diplomasi sejati tidak pernah dimulai. Pada 28 Februari 2026, koalisi yang sama meluncurkan Operation Epic Fury. Hari pertama operasi, serangan udara presisi menewaskan Pemimpin Agung Ali Khamenei dan jajaran tinggi Korps Garda Revolusi Islam. Penggantinya, Ali Larijani, tewas dalam serangan susulan pada 17 Maret 2026. Estafet kepemimpinan jatuh ke Mojtaba Khamenei.
Sejak 13 April 2026, CENTCOM menetapkan blokade laut penuh terhadap seluruh pelabuhan Iran. Sementara di Lebanon Selatan, pertempuran rezim Zionis dan Hizbullah terus menewaskan anak-anak yang tidak berdosa—menurut UNICEF, lebih dari 200 anak Lebanon gugur sejak Maret 2026 saja.
Trump mengklaim kemenangan personal dan beranjak ke teater berikutnya, meninggalkan jutaan warga sipil yang terjebak di tengah kehancuran yang tidak mereka pilih. Pola yang sama berulang: hancurkan kepemimpinan lawan, kemudian pergi tanpa strategi tindak lanjut. Tinggalkan vakum kekuasaan yang akan membara selama bertahun-tahun. Klaim kemenangan. Pindah ke berita utama berikutnya.
Doktrin Donroe dan Pengkhianatan terhadap Ukraina
Pergeseran paling radikal Trump terangkum dalam istilah yang ia adopsi resmi: Doktrin Donroe—gabungan dari nama Donald dan Doktrin Monroe abad ke-19. Tujuannya: mengembalikan hegemoni mutlak Amerika atas Belahan Bumi Barat melalui koersi militer dan ekonomi unilateral.
Pada Januari 2026, militer AS meluncurkan operasi penyergapan di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Mekanisme persetujuan Dewan Keamanan PBB sengaja dihindari. Trump kemudian menyatakan: “Dominasi Amerika di Belahan Barat tidak akan pernah dipertanyakan lagi.”
Di bawah panji yang sama, Trump menamakan ulang Teluk Meksiko menjadi “Teluk Amerika”, menetapkan kartel Meksiko sebagai Organisasi Teroris Asing untuk membenarkan pengerahan pasukan AS, mengintensifkan tekanan untuk mengakuisisi Greenland, dan berulang kali menyuarakan opsi menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51.
Dalam mengelola Ukraina, Trump memilih posisi yang nyaris sepenuhnya bertentangan dengan kebijakan AS sebelumnya. Ia membekukan bantuan ke Kyiv untuk memaksa Zelenskyy bernegosiasi—pertemuan Oval Office pada 28 Februari 2025 berakhir dengan Zelenskyy dikeluarkan lebih awal. Trump menuntut Ukraina menyetorkan setengah pendapatan ekspor mineral langkanya ke “Dana Investasi Bersama AS–Ukraina.” Rekonstruksi diperlakukan sebagai utang.
Rencana perdamaian Trump menawarkan konsesi besar bagi Moskow: pengakuan de jure Crimea, penerimaan de facto Donbas, larangan permanen Ukraina bergabung dengan NATO. Putin menolak—bukan karena terlalu sedikit, melainkan karena belum cukup. Eropa Barat di bawah Inggris dan Prancis kemudian membentuk “Koalisi Sukarela” untuk menempatkan pasukan penjaga perdamaian di Donbas tanpa AS.
Inilah ironi terbesar era Trump: dengan memperlakukan sekutu sebagai kompetitor, ia bukan saja gagal “menang”—ia mempercepat pembentukan blok ekonomi yang sengaja mengeluarkan Amerika dari intinya. Uni Eropa menandatangani perjanjian dagang raksasa dengan Mercosur (700 juta konsumen), India (2 miliar jiwa), Australia (mineral kritis), dan Indonesia (IEU-CEPA). Era unipolaritas AS yang berlangsung sejak 1945 secara efektif telah berakhir—dibunuh bukan oleh musuh, melainkan oleh narsisme penghuni Oval Office sendiri.
Kembali kepada Hind Rajab
Tetapi mari kita kembali ke awal. Mari kita kembali kepada Hind Rajab.
Sebuah anak perempuan berusia enam tahun, sendirian di kursi belakang mobil Kia hitam, di pinggiran Kota Gaza yang dingin. Tangan kecilnya menggenggam telepon. Suaranya semakin pelan. “Mulutku berdarah,” katanya kepada ibunya di ujung sambungan. “Tapi aku tidak mau menghapusnya, nanti Mama capek mencucinya.”
Itu adalah kalimat terakhir Hind Rajab kepada dunia.
Mereka yang duduk di Oval Office, di kabinet Tel Aviv, di ruang-ruang rapat di mana nasib Gaza diputuskan oleh laki-laki dewasa yang tidak akan pernah berdarah hidung—mereka tidak mendengar suara Hind. Mereka memang dirancang untuk tidak mendengar. Karena jika mereka mendengar, mereka harus berhenti. Dan mereka tidak ingin berhenti.
Tetapi kita—engkau dan aku, yang membaca tulisan ini—kita mendengar. Dan mendengar adalah tanggung jawab. Mendengar suara Hind Rajab berarti menerima bahwa apa yang terjadi di Gaza bukanlah persoalan geopolitik abstrak yang bisa didebatkan dengan dingin di ruang-ruang seminar. Ia adalah persoalan moral yang menghadap setiap manusia berhati nurani.
Konflik Gaza bukan persoalan “dua belah pihak yang bertikai.” Ia adalah persoalan seorang anak perempuan berusia enam tahun yang ditinggalkan berdarah di kursi belakang mobil selama dua belas hari. Ia adalah persoalan seorang penyair bernama Refaat Alareer yang menulis puisi tentang layang-layang putih beberapa minggu sebelum sebuah rudal membungkamnya. Ia adalah persoalan dua juta jiwa yang dianggap variabel dalam transaksi real estat global.
“Konflik Gaza bukan persoalan dua belah pihak. Ia adalah persoalan seorang anak perempuan berusia enam tahun yang ditinggalkan berdarah selama dua belas hari di kursi belakang mobil. Bagaimana kita bisa diam?”
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
Trump akan berlalu. Doktrin Donroe akan menjadi catatan kelam dalam buku sejarah—diajarkan di akademi-akademi sebagai studi kasus tentang bagaimana sebuah negara adidaya bisa meruntuhkan dirinya sendiri dari dalam. Operasi-operasi militer yang dinamai dengan kata-kata heroik akan menjadi statistik. Bahkan rezim Tel Aviv yang sekarang tampak begitu kuasa akan menemui akhir sejarahnya—seperti setiap imperium kolonial sebelumnya.
Tetapi rakyat Palestina—dengan keteguhan yang luar biasa, dengan kesabaran yang lebih tua dari semua imperium yang pernah datang dan pergi di tanah suci itu—akan terus berdiri. Mereka selalu berdiri. Mereka selalu kembali. Itulah mengapa rezim Zionis takut. Itulah mengapa Trump perlu mengusulkan relokasi paksa: karena ia tahu, sedalam apa pun ia tidak mau mengakuinya, bahwa selama satu pun anak Palestina masih bernapas di tanahnya, perjuangan itu belum selesai.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Sebagai bangsa Indonesia yang konstitusi kita sendiri mengamanatkan dukungan terhadap kemerdekaan setiap bangsa? Sebagai umat Muslim yang persaudaraan kita melintas batas geografi dan paspor?
Pertama, jangan biarkan suara Gaza padam. Setiap kali ada yang mencoba menggeser Palestina dari halaman utama berita, kita kembalikan. Setiap kali ada yang mencoba menormalisasi penderitaan ini, kita tolak. Ceritakan kisah Hind Rajab kepada anak-anak kita. Bacakan puisi Refaat Alareer di ruang-ruang kelas. Nama-nama mereka harus hidup.
Kedua, boikot terhadap produk-produk yang mendukung okupasi adalah perjuangan ekonomi yang nyata. Negara-negara Teluk telah menunjukkan bahwa Trump bisa ditekan jika dimainkan dengan cermat. Begitu pula konsumen Indonesia: 280 juta jiwa adalah pasar yang tidak bisa diremehkan. Setiap rupiah yang kita belanjakan adalah pernyataan moral.
Ketiga, dukung penuh diplomasi pemerintah Indonesia. Pengiriman 742 prajurit TNI ke Lebanon Selatan, partisipasi sembilan relawan dan jurnalis Indonesia dalam Global Sumud Flotilla, sikap konsisten Indonesia di forum-forum internasional—semua ini adalah investasi yang harus terus kita kawal. Kita pastikan, generasi setelah kita akan mewarisi sikap berpihak ini, bukan sikap netral yang nyaman.
Keempat dan paling fundamental: jangan pernah lupa bahwa tatanan dunia yang sesungguhnya tidak ditentukan oleh siapa yang duduk di Oval Office. Ia ditentukan oleh siapa yang menolak menyerah pada ketidakadilan. Di Gaza, di Al-Quds, di Tepi Barat, di Lebanon Selatan—jawabannya selalu sama: rakyat Palestina tidak akan menyerah.
Dan kita, sebagai umat yang satu, tidak akan—tidak boleh—membiarkan mereka berjuang sendirian.
* * *
Refaat Alareer pernah menulis: “Jika aku harus mati, biarlah ia membawa harapan. Biarlah ia menjadi sebuah kisah.”
Hari ini, kisah itu sampai ke tangan kita. Apa yang akan kita lakukan dengannya? (IW)
■ ■ ■
Tulisan ini adalah analisis editorial. Pandangan yang dikemukakan merupakan interpretasi penulis terhadap rangkaian peristiwa geopolitik 2023–2026. Untuk almarhumah Hind Rajab dan almarhum Refaat Alareer, dan untuk setiap nama yang tidak sempat kita kenal.


