Ketika pasukan Muslim memasuki Gaza pada 637 Masehi, mereka bukan datang ke tanah yang asing. Di jantung kota itu, sudah ada sebuah makam — makam leluhur Nabi Muhammad yang wafat di kota ini lebih dari satu abad sebelumnya.
GAZA CITY — Ada sebuah fakta dalam sejarah awal Islam yang jarang disebut: Gaza bukan sekadar kota yang ditaklukkan oleh kaum Muslim. Gaza adalah kota tempat cicit leluhur Nabi Muhammad dimakamkan — seorang pedagang Mekkah yang meninggal di sini dalam perjalanan dagangnya, jauh sebelum Islam lahir, jauh sebelum Nabi Muhammad dilahirkan.
Ikatan antara Gaza dan Islam dimulai bukan dengan pedang, tapi dengan sebuah kafilah dagang dan seorang lelaki yang tidak pernah sempat pulang ke rumahnya.
Hashim di Gaza: Leluhur yang Tertinggal
Pada sekitar tahun 497 Masehi — lebih dari satu abad sebelum Nabi Muhammad menerima wahyu pertamanya — seorang pemimpin klan Quraisy bernama Hashim ibn Abd Manaf sedang dalam perjalanan pulang dari Suriah ke Mekkah. Ia singgah di Gaza, jatuh sakit, dan meninggal di sana.
Hashim ibn Abd Manaf — lahir sekitar 464 Masehi — adalah cicit leluhur Nabi Muhammad dan pendiri klan Banu Hashim dari suku Quraisy di Mekkah. Ia adalah pedagang yang biasa melakukan perjalanan musim panas dan musim dingin ke Gaza, dan bahkan tinggal di sana sepanjang musim panas dalam kunjungannya yang terakhir.
Dalam perjalanan terakhirnya bersama 40 pedagang Quraisy menuju Suriah, ketika tiba di Gaza, Hashim jatuh sakit dan meninggal. Setelah dimakamkan, para sahabat perjalanannya membawa harta bendanya kepada anak-anaknya.
Menurut tradisi setempat, ia dimakamkan di sudut barat laut Masjid Sayyid Hashim, yang terletak di kawasan al-Daraj, dengan luas sekitar 2.400 meter persegi. Selama berabad-abad, masjid ini menjadi salah satu masjid bersejarah paling penting di kota Palestina itu.
Dalam salah satu narasi lama, dikisahkan bahwa orang-orang Arab menyebut kota ini “Gaza Hashim” karena keberadaan makam leluhur Nabi itu di sana. Warga Gaza pun mulai memakamkan orang-orang mereka di kawasan yang bersebelahan dengan masjid, berdekatan dengan makam kakek buyut Nabi Muhammad.
Ketika kaum Muslim akhirnya memasuki Gaza pada 637 Masehi, mereka memasuki kota yang sudah menyimpan jejak keluarga Nabi mereka selama lebih dari satu abad.
Tiga Tahun Sebelum Penaklukan: Pertempuran Dathin
Kisah militer masuknya Islam ke Gaza sebenarnya dimulai bukan pada 637, melainkan tiga tahun lebih awal — dengan sebuah pertempuran kecil yang hampir tidak tercatat dalam buku sejarah.
Pertempuran Dathin adalah pertempuran kecil dalam Perang Arab-Byzantium antara Kekhalifahan Rasyidin dan Kekaisaran Byzantium pada Februari 634, namun menjadi sangat terkenal dalam literatur periode itu. Pertempuran ini terjadi setelah serangkaian serangan Arab di sekitar Gaza.
Pada hari Jumat, 4 Februari 634, terjadi pertempuran antara orang-orang Romawi dan orang-orang Arab Muhammad di Palestina, dua belas mil di timur Gaza. Orang-orang Romawi melarikan diri, meninggalkan panglima mereka yang kemudian dibunuh oleh orang-orang Arab.
Komandan Muslim yang memimpin operasi awal di kawasan Gaza ini adalah Amr ibn al-As — seorang sahabat Nabi dan panglima militer yang kelak akan menjadi penakluk Mesir. Amr menyeberangi pantai Laut Merah di Hijaz, mencapai kota pelabuhan Ayla di ujung Teluk Aqaba, lalu menyeberangi Gurun Negev. Ia kemudian tiba di desa-desa Dathin dan Badan dekat Gaza, di mana ia memulai negosiasi dengan komandan garnisun Byzantium. Pembicaraan gagal dan kaum Muslim mengalahkan Byzantium dalam bentrokan yang kemudian terjadi di Dathin.
Kemenangan di Dathin adalah sinyal pertama bagi Byzantium bahwa ancaman dari selatan lebih serius dari yang mereka perkirakan.
Jalan Panjang Menuju Gaza
Setelah Dathin, penaklukan Gaza tidak terjadi dalam semalam. Butuh tiga tahun lagi dan serangkaian pertempuran besar sebelum kota itu benar-benar jatuh ke tangan Muslim.
Kemenangan Dathin diikuti oleh Pertempuran Ajnadayn pada 30 Juli 634 — pertempuran besar yang mempertemukan pasukan Muslim di bawah Khalid ibn al-Walid melawan tentara Byzantium yang jauh lebih besar di dekat Bayt Jibrin, sebelah barat daya Jerusalem. Kemenangan Muslim di Ajnadayn membuka jalan menuju seluruh Palestina.
Setelah kemenangan Muslim yang menentukan di Pertempuran Yarmouk pada 636, yang berlangsung di sepanjang anak sungai Yarmouk di timur Palestina, Amr mengepung Jerusalem, yang bertahan hingga datangnya Khalifah Umar, kepada siapa para pemimpin Jerusalem menyerahkan kota pada 637.
Dari Jerusalem, Amr melanjutkan pengepungan dan penaklukan kota Gaza. Pada musim panas 637, kaum Muslim menaklukkan Gaza.
Berbeda dengan Gaza di era Alexander Agung yang dipertahankan mati-matian hingga seluruh penduduk laki-lakinya terbunuh, penaklukan Gaza oleh kaum Muslim berlangsung tanpa pertumpahan darah besar yang tercatat. Kota yang sudah terkuras oleh pergolakan panjang antara Persia dan Byzantium dalam abad-abad sebelumnya mungkin tidak memiliki banyak tenaga tersisa untuk melawan gelombang baru dari selatan.
Apa yang Berubah — dan Apa yang Tidak
Masuknya Islam mengubah wajah Gaza secara bertahap, bukan sekaligus. Penduduk Kristen dan Yahudi tidak diusir. Perjanjian Umar yang ditandatangani di Jerusalem memberikan jaminan kebebasan sipil dan keagamaan bagi umat Kristen dan Yahudi dengan imbalan pembayaran jizyah. Prinsip yang sama diterapkan di seluruh wilayah taklukan, termasuk Gaza.
Masjid-masjid dibangun — seringkali di atas fondasi gereja-gereja Byzantium atau kuil-kuil kuno yang sudah kosong. Bahasa Arab perlahan menggantikan bahasa Yunani Byzantium dalam urusan pemerintahan. Jalur karavan yang selama berabad-abad membawa rempah dan kemenyan dari Arabia melalui Gaza kini terintegrasi ke dalam jaringan ekonomi kekhalifahan yang membentang dari Spanyol hingga Asia Tengah.
Gaza menjadi bagian dari wilayah administrasi yang disebut Jund Filastin — distrik militer Palestina — dengan pusat pemerintahan di Lod, kemudian pindah ke Ramla yang baru dibangun pada abad ke-8.
Makam yang Selamat — Lalu Tidak
Masjid Sayyid Hashim pernah memiliki perpustakaan besar dan sekolah ilmu keagamaan. Namun bagian-bagian signifikan hancur selama Perang Dunia I. Kemudian pada 1926, Dewan Islam Tertinggi melakukan renovasi, dan pada 2009, Kementerian Wakaf dan Purbakala Palestina melakukan upaya restorasi lebih lanjut — memperkuat menara setelah mengalami kerusakan tambahan.
Masjid yang menyimpan makam Hashim — leluhur Nabi yang meninggal di Gaza lebih dari 1.500 tahun lalu — mengalami kerusakan berat dalam perang 2023–2024. Bangunan yang telah bertahan dari Perang Salib, dari Napolelon, dari Perang Dunia I, dan dari konflik-konflik abad ke-20, kini harus menghadapi ujian terberatnya.
Di sinilah lingkaran sejarah itu terasa paling menyakitkan: kota yang terhubung dengan Islam bahkan sebelum Islam lahir, yang menyimpan makam leluhur Nabi di tanahnya, kini berada di tengah kehancuran yang paling parah dalam sejarah modernnya.
Gaza “Hashim” — kota yang dinamai dari pedagang Mekkah yang tidak pernah sempat pulang — masih berdiri. Tapi hanya dengan susah payah. (IW)

