HomeBeritaMaraton Palestina 2026: Ribuan Pelari Dunia Berlari di Tengah Luka Perang dan...

Maraton Palestina 2026: Ribuan Pelari Dunia Berlari di Tengah Luka Perang dan Pendudukan

PALESTINA – Palestine Marathon 2026 kembali digelar setelah sempat terhenti selama dua tahun akibat genosida di Gaza. Ajang olahraga internasional yang berlangsung pada 8 Mei 2026 itu bukan sekadar perlombaan lari biasa, melainkan simbol perlawanan, solidaritas, dan perjuangan rakyat Palestina untuk memperoleh kebebasan bergerak di tanah mereka sendiri.

Ribuan pelari dari berbagai negara memadati jalanan Kota Bethlehem di Tepi Barat dan wilayah Gaza dalam edisi ke-10 maraton tersebut. Para peserta berlari melewati kamp pengungsi, tembok pemisah Israel, hingga kawasan bersejarah Palestina yang selama bertahun-tahun menjadi saksi konflik berkepanjangan.

Menurut panitia penyelenggara, jumlah peserta tahun ini mencapai lebih dari 13.000 orang. Sebanyak 2.523 peserta berasal dari Gaza, sementara sekitar 1.000 pelari internasional datang dari 75 negara untuk menunjukkan solidaritas kepada rakyat Palestina. Selain lomba utama maraton 42 kilometer, panitia juga menggelar kategori 21 kilometer, 10 kilometer, dan lari keluarga sejauh 5 kilometer.

Namun yang paling menyita perhatian dunia adalah keikutsertaan para penyandang disabilitas dan korban perang dalam ajang tersebut. Di tengah keterbatasan fisik akibat serangan dan konflik berkepanjangan, mereka tetap turun ke lintasan membawa pesan keteguhan dan harapan.

Sejumlah peserta terlihat berlari menggunakan kaki palsu, kursi roda olahraga, hingga alat bantu berjalan. Banyak di antara mereka merupakan korban serangan militer Israel di Gaza yang kehilangan anggota tubuh akibat ledakan bom dan serangan udara. Meski demikian, semangat mereka tidak surut untuk ikut ambil bagian dalam maraton kemanusiaan tersebut.

2026 05 08T110543Z 1342340771 RC2U4LA2KV46 RTRMADP 3 ISRAEL PALESTINIANS GAZA 1778242929
Warga Palestina yang menggunakan tongkat penyangga berpartisipasi dalam Maraton Internasional Palestina di Gaza tengah. (Foto: Mahmoud Issa/Reuters)

Panitia bahkan menggelar kategori khusus bagi peserta amputasi dan penyandang disabilitas. Sedikitnya 15 pelari amputasi mengikuti lomba simbolik sejauh dua kilometer di Gaza. Kehadiran mereka menjadi gambaran nyata tentang penderitaan warga Palestina sekaligus simbol bahwa rakyat Gaza tetap ingin hidup dan bergerak bebas meski perang telah merenggut banyak hal dari kehidupan mereka.

Suasana haru terlihat ketika beberapa peserta disabilitas mendapat tepuk tangan meriah dari ribuan warga yang memadati jalur maraton. Banyak penonton mengibarkan bendera Palestina sambil meneriakkan dukungan kepada para pelari yang dianggap mewakili ketabahan rakyat Palestina di tengah kehancuran.

Maraton dimulai dari kawasan dekat Church of the Nativity atau Gereja Kelahiran di Bethlehem. Jalur lomba dibuat berputar karena pembatasan wilayah dan banyaknya pos pemeriksaan militer Israel yang membatasi mobilitas warga Palestina. Kondisi itu menjadikan Palestine Marathon sebagai salah satu maraton paling unik di dunia karena peserta harus melewati lintasan berulang akibat keterbatasan akses wilayah.

Koordinator maraton, Itidal Abdul Ghani, menyebut tema tahun ini adalah “persatuan tanah air”. Menurutnya, olahraga dijadikan medium untuk menyampaikan pesan kemanusiaan kepada dunia internasional bahwa rakyat Palestina tetap bertahan meski hidup di tengah perang dan blokade berkepanjangan.

Di Gaza, perlombaan digelar secara paralel di kawasan pesisir dekat Nuseirat dan Jembatan Wadi Gaza. Ribuan warga ikut berpartisipasi, termasuk perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas yang menjadi korban perang.

Penyelenggara juga mengadakan maraton virtual di berbagai negara pada 17–21 April 2026. Lebih dari 5.000 orang dari 88 negara ikut berpartisipasi dalam kegiatan virtual tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina.

Maraton Palestina pertama kali digelar pada tahun 2013. Ajang ini lahir dari gagasan aktivis internasional dan komunitas olahraga Palestina untuk menyoroti pembatasan kebebasan bergerak yang dialami warga Palestina akibat pendudukan Israel. Sejak awal, kegiatan tersebut membawa pesan “Right to Movement” atau hak untuk bergerak bebas.

Dalam sejarahnya, Palestine Marathon kerap menjadi perhatian dunia internasional karena tidak hanya menghadirkan olahraga, tetapi juga memperlihatkan realitas kehidupan warga Palestina. Banyak pelari internasional mengaku terkejut melihat langsung tembok pembatas, checkpoint militer, dan kamp pengungsi yang harus dilalui warga Palestina setiap hari.

Edisi 2026 menjadi salah satu yang paling emosional karena berlangsung setelah perang besar di Gaza yang menewaskan puluhan ribu warga Palestina. Banyak peserta membawa bendera Palestina, foto korban perang, dan pesan solidaritas selama perlombaan berlangsung. Beberapa pelari bahkan terlihat berlari di antara reruntuhan bangunan dan kawasan yang hancur akibat serangan udara Israel.

Bagi warga Palestina, maraton ini bukan sekadar kompetisi olahraga. Ajang tersebut telah berubah menjadi panggung global untuk menyuarakan hak hidup, kebebasan bergerak, dan kemerdekaan Palestina di tengah situasi perang dan pendudukan yang terus berlangsung.(CKY)

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler