Thursday, April 3, 2025
HomeBeritaOPINI: Pasang surut hubungan Turki dan Israel sejak 1949 hingga 7 Oktober

OPINI: Pasang surut hubungan Turki dan Israel sejak 1949 hingga 7 Oktober

Oleh: Paul Iddon

Maret 2025 menandai ulang tahun ke-76 hubungan diplomatik antara Turki dan Israel. Selama lebih dari tujuh dekade, hubungan kedua negara ini mengalami pasang surut. Namun, keadaan hubungan yang ada saat ini bisa dikatakan belum pernah terjadi sebelumnya.

Hubungan Turki-Israel, bisa dibilang, sedang berada dalam kondisi yang sangat tegang. Turki sangat marah dengan tindakan Israel dalam perang di Gaza, sementara Israel juga terus merasa frustrasi dengan hubungan Turki dengan Hamas.

Sejak penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assad pada Desember 2024, Turki dan Israel seolah berada di jalur tabrakan, dengan Turki menjalin hubungan erat dengan pemerintah baru di Damaskus yang dianggap Israel sebagai ancaman. Selain itu, Komite Nagel yang dibentuk oleh pemerintah Israel baru-baru ini mengeluarkan peringatan dalam laporannya bahwa militer Israel harus bersiap menghadapi kemungkinan konfrontasi langsung dengan Turki. Laporan tersebut bahkan menyebutkan bahwa ancaman yang didukung Turki dari Suriah bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih berbahaya daripada ancaman Iran.

Pada Juli 2024, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa Turki mungkin akan campur tangan dalam perang Gaza dengan memasuki Israel, membandingkan skenario tersebut dengan intervensi Turki dalam konflik di Libya dan Kaukasus Selatan. Pada bulan September, Erdogan menyerukan kepada negara-negara Islam untuk membentuk aliansi melawan “ancaman ekspansionisme” Israel yang semakin berkembang.

“Kami, sebagai Republik Turki dan pemerintahnya, saat ini telah memutuskan semua hubungan dengan Israel,” kata Erdogan kepada wartawan pada November lalu. Turki juga memblokir kerja sama NATO-Israel dan berjanji akan terus melakukannya hingga perang Gaza berakhir.

Hubungan Turki-Israel memang telah mengalami ketegangan sejak awal, tetapi ketegangan-ketegangan tersebut biasanya bersifat sementara dan akhirnya bisa teratasi. Namun, saat ini belum jelas apakah kedua negara dapat mengatasi keadaan hubungan yang begitu tegang.

Turki menjadi negara mayoritas Muslim pertama yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel pada Maret 1949 dan memberikan visa keluar kepada warga Yahudi Turki yang ingin beremigrasi ke negara baru tersebut. Kedua negara menandatangani perjanjian perdagangan senilai 840.000 dolar pada Juli 1950. Para imigran dari Turki yang pindah ke Israel bahkan menamakan sebuah hutan yang ditanam di selatan Haifa dengan nama Presiden pertama Turki, Kemal Atatürk, pada 1953.

Namun, salah satu tanda pertama masalah dalam hubungan kedua negara terjadi pada 1956, ketika Israel bergabung dengan Inggris dan Prancis dalam serangan terhadap Mesir, yang memicu Krisis Suez yang mengundang kemarahan kawasan dan Amerika Serikat. Turki pun memutuskan untuk mendinginkan hubungan dengan Israel demi meredakan amarah negara-negara Arab, menarik menteri mereka dari negara tersebut, dan mengumumkan adanya “fase dingin” dalam hubungan kedua negara. Namun, Ankara menjelaskan kepada Menteri Israel, Maurice Fisher, bahwa langkah tersebut tidak akan memengaruhi hubungan perdagangan.

Pada 1961, Turki dan Israel sepakat untuk bekerja sama dalam menarik wisatawan ke negara mereka, dengan kampanye bersama yang menyasar warga Amerika dan Eropa untuk mengunjungi Israel dan Turki. Kerja sama ini bertujuan untuk menunjukkan konektivitas kedua negara yang memudahkan wisatawan mengunjungi keduanya.

Namun, konflik yang berlangsung lama antara Israel dan Palestina serta masalah-masalah regional lainnya seringkali menjadi sumber ketegangan dalam hubungan ini. Ketegangan-ketegangan ini semakin meningkat setelah operasi militer Israel di Gaza pada 2008, yang membuat Erdogan marah dan menuntut Israel dimintai pertanggungjawaban. Pada tahun 2010, hubungan kedua negara memburuk tajam setelah serangan Israel terhadap armada bantuan Turki yang mencoba memecahkan blokade Gaza, yang mengakibatkan sembilan aktivis Turki tewas.

Pada 2013, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya meminta maaf atas insiden tersebut, dan hubungan mulai membaik. Namun, ketegangan-ketegangan baru muncul kembali, seperti pada 2014 ketika Erdogan mengutuk operasi militer Israel di Gaza, dan pada 2017 setelah pengakuan AS terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Presiden Trump.

Meskipun hubungan kedua negara sempat membaik dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pertemuan langsung antara Erdogan dan Netanyahu pada Sidang Umum PBB 2023, ketegangan baru meletus setelah serangan 7 Oktober 2023 dan perang yang mengikuti di Gaza, yang memengaruhi hubungan kedua negara secara dramatis.

Penulis adalah jurnalis lepas yang tinggal di Erbil, Kurdistan Irak yang menulis tentang urusan Timur Tengah. Tulisan ini diambil dari opininya di The New Arab berjudul Ups and downs: A brief history of Turkey-Israel relations from 1949 to 7 October

 

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Pengajar HI Universitas Al Azhar Indonesia, Mahasiswa PhD Hubungan Antarbangsa Universitas Sains Malaysia.
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Most Popular