HomeBeritaPetenis Nomor Satu Turki Dilarang Kenakan Pin Palestina di Wimbledon

Petenis Nomor Satu Turki Dilarang Kenakan Pin Palestina di Wimbledon

Petenis nomor satu Turki mengaku dilarang panitia Wimbledon mengenakan pin Palestina, sementara simbol bendera Ukraina tetap diperbolehkan.

Petenis asal Turki, Zeynep Sonmez, mengungkapkan penyelenggara Wimbledon melarangnya mengenakan pin bergambar Palestina. Sebagai bentuk solidaritas kepada rakyat Palestina, ia kemudian menggunakan peredam getaran (vibration dampener) berbentuk semangka pada raketnya.

Dalam wawancara dengan Anadolu Agency dilansir dari Middle East Eye pada Kamis (3/7), petenis nomor satu Turki itu mengatakan dirinya sebelumnya selalu mengenakan pin Palestina, namun kini pihak penyelenggara turnamen tidak lagi mengizinkannya.

“Saya dulu selalu memakai pin itu, tetapi sekarang turnamen tidak lagi mengizinkan saya memakainya,” ujar Sonmez.

Ia menambahkan  timnya sempat berdiskusi dengan panitia mengenai aturan tersebut karena simbol bendera Ukraina diperbolehkan, sedangkan simbol Palestina tidak.

“Kami berdiskusi dengan penyelenggara karena bendera Ukraina diperbolehkan, tetapi Palestina tidak. Pada akhirnya mereka mengatakan  mereka sama sekali tidak akan mengizinkannya,” katanya.

Petenis berusia 24 tahun itu akhirnya memasang peredam getaran berbentuk semangka pada raketnya.

“Mereka tidak bisa mempermasalahkan itu,” ujarnya.

Semangka sebagai Simbol Perlawanan Palestina

Buah semangka telah lama menjadi simbol perlawanan Palestina sejak Perang 1967, ketika otoritas Israel melarang masyarakat menampilkan bendera Palestina secara terbuka di wilayah Palestina yang diduduki.

Sebagai bentuk perlawanan, warga Palestina mulai membawa potongan semangka—yang memiliki warna merah, hijau, putih, dan hitam seperti bendera Palestina—dalam berbagai aksi protes. Gambar dan ilustrasi semangka kemudian juga digunakan sebagai simbol identitas nasional dan solidaritas terhadap perjuangan Palestina.

Hingga kini, simbol tersebut tetap digunakan sebagai bentuk dukungan kepada rakyat Palestina di berbagai belahan dunia.

Standar Ganda

Ratusan pengguna media sosial memberikan pujian kepada Sonmez atas sikapnya, sekaligus mengkritik penyelenggara Wimbledon karena dianggap menerapkan standar ganda terhadap Ukraina dan Palestina.

Menanggapi keputusan tersebut, Direktur Turnamen Wimbledon, Jamie Baker, mengatakan:

“Kami tidak mengizinkan segala bentuk pesan politik dari para pemain di lapangan. Aturan itu telah berlaku secara konsisten sejak lama.”

Namun, pada awal pekan yang sama, petenis Ukraina Daria Snigur terlihat bertanding dengan mengenakan pin bergambar bendera Ukraina.

Ketika ditanya mengapa Sonmez tidak diizinkan memakai simbol Palestina sementara Snigur diperbolehkan mengenakan simbol Ukraina, Baker menegaskan  situasi Ukraina dianggap berbeda.

“Situasi Ukraina memang sangat unik. Kami mengikuti panduan dari pemerintah kami serta respons internasional, sehingga itu merupakan kasus yang berbeda,” jelasnya.

Reaksi Publik

Keputusan Wimbledon memicu kritik di media sosial.

Seorang pengguna platform X menulis:

“Bendera Ukraina diperbolehkan, tetapi bendera Palestina tidak. Sangat mengecewakan melihat Wimbledon ikut terjebak dalam kemunafikan seperti ini.”

Banyak pengguna lainnya justru memuji kreativitas Sonmez dalam menunjukkan solidaritasnya.

Salah satu pengguna menulis:

“Ini memang tindakan kecil, tetapi kecerdikan dan tekadnya untuk tetap menunjukkan solidaritas sangatlah indah.”

Pengguna lainnya menambahkan:

“Rasa hormat yang besar untuk Zeynep Sonmez karena tidak mau dibungkam mengenai genosida yang dilakukan Israel.”

Hingga berita ini ditulis, Middle East Eye menyatakan telah menghubungi All England Lawn Tennis Club selaku penyelenggara Wimbledon serta Zeynep Sonmez untuk meminta tanggapan resmi, namun belum memperoleh respon.

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler