HomeSejarah Indonesia-PalestinaSejarah PalestinaSebelum Hamas: Jejak Kaum Nasionalis dan Kiri Gaza dalam Perlawanan Palestina

Sebelum Hamas: Jejak Kaum Nasionalis dan Kiri Gaza dalam Perlawanan Palestina

GAZA CITY — Sebelum Hamas berdiri pada 1987, perlawanan politik dan bersenjata di Jalur Gaza selama hampir empat dekade didominasi oleh kelompok-kelompok sekuler: partai komunis, front nasionalis sayap kiri, dan gerakan yang kelak menjadi tulang punggung Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Sebagian dari kelompok ini lahir langsung dari tanah Gaza, sebagian lain lahir di pengasingan namun mengakar kuat di kamp-kamp pengungsiannya.

Artikel ini menelusuri empat arus utama gerakan tersebut: gerakan komunis Palestina di Gaza, fedayeen era pemerintahan Mesir, Fatah, serta dua faksi Marxis-Leninis terbesar dalam PLO — PFLP dan DFLP.

Akar Komunis: Dari Liga Pembebasan Nasional ke Partai Komunis Gaza

Partai Komunis Palestina (PCP) awalnya didirikan pada Januari 1922 oleh imigran Yahudi asal Uni Soviet yang kecewa pada Zionisme. Sepanjang 1930-an, atas arahan Komintern, partai ini menjalani proses “Arabisasi” — merekrut dan mendorong kader Arab ke posisi kepemimpinan, meski proses ini diwarnai perpecahan internal pada 1932 dan 1936.

Ketegangan etnis antara anggota Yahudi dan Arab memuncak pada 1943. Setahun kemudian, mayoritas anggota Arab PCP membentuk organisasi terpisah bernama Liga Pembebasan Nasional (National Liberation League/NLL), dipelopori antara lain oleh Bulus Farah.

Nakba 1948 mencerai-beraikan NLL ke berbagai wilayah. Anggota yang tinggal di area yang menjadi Israel bergabung dengan Partai Komunis Israel pada Oktober 1948 di Haifa, dipimpin tokoh seperti Emile Habibi. Anggota di Tepi Barat membentuk Partai Komunis Yordania pada Mei 1951. Adapun anggota yang berada di Jalur Gaza — saat itu di bawah administrasi Mesir — mendirikan Partai Komunis Palestina Gaza (PCP-G) pada Agustus 1953.

PCP-G mendukung pembentukan negara Palestina merdeka sesuai Resolusi Pembagian PBB 181 dan menuntut hak kembali pengungsi berdasarkan Resolusi 194. Partai ini aktif dalam demonstrasi massal Maret 1955 yang menolak rencana pemukiman kembali pengungsi Gaza ke Sinai — aparat Mesir menembaki demonstran dan menahan sejumlah anggota komunis hingga Juli 1957. Rencana pemukiman ke Sinai akhirnya dibatalkan.

Pada musim gugur 1956, kalangan komunis turut membentuk Front Nasional (al-Jabha al-Wataniyya) yang menggagalkan rencana internasionalisasi Jalur Gaza setelah pasukan Israel mundur pada 7 Maret 1957. Represi Mesir kembali terjadi pada 1959 — sejumlah anggota partai ditahan hingga awal 1963.

Fedayeen di Bawah Naungan Mesir (1949–1956)

Setelah Perang 1948, Mesir menguasai Jalur Gaza melalui entitas nominal bernama Pemerintahan Seluruh Palestina (All-Palestine Protectorate). Perjanjian gencatan senjata membatasi penempatan tentara reguler Mesir di Gaza, sehingga Kairo membentuk Kepolisian Perbatasan Palestina pada Desember 1952 dan mulai membina milisi fedayeen sejak 1955 di bawah koordinasi intelijen militer Mesir, dipimpin Kolonel Mustafa Hafez.

Serangan lintas batas fedayeen dari Gaza memicu rangkaian operasi balasan Israel. Pada 28 Februari 1955, pasukan payung Israel pimpinan Ariel Sharon melancarkan Operasi Black Arrow di Gaza — sumber-sumber menyebut sekitar 37–38 tentara Mesir tewas, delapan tentara Israel tewas. Operasi ini justru mempercepat pembentukan jaringan fedayeen yang lebih terorganisasi.

Israel menduduki Gaza pada November 1956 saat Krisis Suez, membubarkan sementara jaringan fedayeen. Mustafa Hafez sendiri tewas dibunuh lewat bom buku pada 11 Juli 1956 sebelum invasi tersebut, salah satu operasi pembunuhan bertarget pertama Israel. Israel menarik diri dari Gaza pada Maret 1957 di bawah tekanan diplomatik internasional, mengembalikan wilayah itu ke administrasi Mesir.

Fatah: Lahir di Diaspora, Berakar di Gaza

Yasser Arafat lahir tahun 1929 — tempat kelahirannya diperdebatkan sejarawan, antara Kairo, Yerusalem, atau Gaza — dari ayah bermarga Qudwa asal Gaza dan Khan Yunis. Arafat sempat ikut bertempur di kawasan Gaza saat Perang 1948, kemudian mendirikan Serikat Mahasiswa Palestina yang berpusat di Gaza sekembalinya dari studi teknik di Kairo.

Setelah Perang Suez 1956, Arafat dan Khalil al-Wazir (kelak dikenal sebagai Abu Jihad) mulai merintis inti pertama gerakan gerilya Palestina di Kuwait. Pada 10 Oktober 1959, sekelompok kecil — kurang dari 20 orang — bertemu di sebuah apartemen di Kuwait dan resmi mendirikan Harakat al-Tahrir al-Watani al-Filastini, disingkat terbalik menjadi Fatah, bersama Salah Khalaf (Abu Iyad).

Fatah memulai aksi gerilya bersenjata pada Januari 1965 lewat sayap militernya, al-‘Asifah. Setelah Perang Enam Hari 1967 dan pendudukan penuh Israel atas Gaza, Fatah menjadi kekuatan dominan dalam PLO — organisasi payung yang telah berdiri sejak 1964 — dan basis pendukungnya di Gaza sebagian besar berasal dari kamp-kamp pengungsi keturunan warga asli jalur pantai tersebut.

PFLP dan DFLP: Marxisme Masuk Gelanggang Perlawanan

Kekalahan Arab dalam Perang 1967 mendorong George Habash, dokter anak kelahiran Lydda dan tokoh Gerakan Nasionalis Arab, membubarkan gerakannya yang lama dan mendirikan Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) pada 11 Desember 1967. PFLP memadukan nasionalisme pan-Arab dengan Marxisme-Leninisme dan menjadikan Gaza serta Tepi Barat sebagai basis sel-sel klandestinnya. Kelompok ini kelak dikenal luas lewat serangkaian pembajakan pesawat pada akhir 1960-an dan awal 1970-an.

Pada 22 Februari 1969, faksi yang menilai PFLP kurang konsisten secara ideologis memisahkan diri di bawah Nayef Hawatmeh, membentuk yang kemudian dikenal sebagai Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina (DFLP). DFLP berideologi Marxis-Leninis lebih tegas dari PFLP, meski belakangan menjadi salah satu faksi PLO pertama yang mendukung solusi dua negara.

Perang Sunyi di Gaza, 1967–1971

Setelah pendudukan Israel 1967, gerakan fedayeen tumbuh kembali di Gaza — kali ini tanpa naungan Mesir. PFLP menjadi kelompok fedayeen paling aktif, memanfaatkan kamp pengungsian dan kebun jeruk milik tuan tanah Gaza sebagai tempat persembunyian. Warga Gaza kerap menyebut diri mereka mempelopori gerakan fedayeen tanpa padanan serupa di Tepi Barat pada masa itu.

Pemerintah Israel menugaskan Ariel Sharon, kepala Komando Selatan, untuk menumpas jaringan ini menyusul serangan granat terhadap keluarga Yahudi di Gaza City pada 2 Januari 1971 yang menewaskan dua anak. Angka korban dari kampanye penumpasan ini bervariasi antarsumber: sejumlah sumber menyebut sekitar 104 orang tewas dan 742 ditahan hingga 1972, sementara sumber lain menyebut angka lebih tinggi, sekitar 180 orang tewas dan 2.000 ditahan pada akhir 1971. Ribuan rumah dihancurkan dan sebagian penduduk kamp pengungsian dipindahkan paksa. Angka pasti korban tewas tidak dapat diverifikasi secara tunggal dari sumber-sumber yang tersedia.

Dari Kiri Sekuler ke Islam Politik

Setelah 1971, perlawanan bersenjata di Gaza relatif surut selama sekitar satu setengah dekade. Partai Komunis Palestina Gaza sendiri kembali menyatukan diri dengan cabang Tepi Barat pada 1982 membentuk Partai Komunis Palestina yang baru, dan salah satu anggotanya terpilih ke Komite Eksekutif PLO pada April 1987 — bulan-bulan menjelang meletusnya Intifada Pertama akhir tahun itu, yang juga menandai lahirnya Hamas.

Sejak saat itu, dominasi politik Gaza berangsur bergeser dari faksi-faksi nasionalis-kiri PLO ke gerakan Islam politik. PFLP dan DFLP tetap eksis sebagai faksi minoritas dalam struktur PLO hingga hari ini, sementara warisan Partai Komunis Palestina berlanjut dalam bentuk Partai Rakyat Palestina (PPP). Kelompok-kelompok ini kini menjadi catatan kaki dalam lanskap politik Gaza yang jauh lebih didominasi Hamas sejak 2007.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini