BEIRUT – Sedikitnya sembilan orang tewas dalam serangkaian serangan Israel di Lebanon baru-baru ini, termasuk serangan drone yang menghantam wilayah di pintu masuk selatan Beirut. Insiden ini menjadi salah satu serangan terdekat ke ibu kota Lebanon sejak upaya gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat diumumkan beberapa hari sebelumnya.
Menurut laporan media Lebanon, serangan Israel menyasar sejumlah wilayah di Lebanon selatan dan kawasan dekat Beirut. Salah satu serangan drone menghantam sebuah kendaraan di jalan raya Khaldeh, yang terletak di pintu masuk selatan Beirut. Serangan tersebut menandai meluasnya jangkauan operasi militer Israel hingga mendekati ibu kota Lebanon.
Di wilayah Lebanon selatan, serangan udara dan drone Israel dilaporkan menewaskan beberapa warga sipil, petugas medis, serta anggota militer Lebanon. Selain korban jiwa, sejumlah fasilitas sipil juga mengalami kerusakan akibat serangan yang berlangsung di berbagai lokasi.
Ketegangan meningkat setelah kelompok bersenjata Lebanon, Hezbollah, meluncurkan roket ke wilayah Israel utara. Serangan tersebut merupakan yang pertama sejak adanya komitmen tidak resmi untuk menghentikan serangan lintas perbatasan sebagai bagian dari upaya deeskalasi yang dimediasi Amerika Serikat.
Pemerintah Israel menyatakan sedang menyelidiki asal-usul serangan roket tersebut, namun Menteri Pertahanan Israel memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayah Israel akan dibalas dengan tindakan militer. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya juga telah memerintahkan serangan terhadap target-target yang diklaim terkait Hezbollah di Lebanon.
Di sisi lain, pemerintah Lebanon menuduh Israel terus melanggar berbagai kesepakatan gencatan senjata yang telah dicapai sebelumnya. Otoritas Lebanon menilai serangan yang terus berlanjut mengancam upaya diplomatik yang tengah dilakukan untuk menghentikan konflik dan mengembalikan stabilitas di kawasan perbatasan kedua negara.
Konflik antara Israel dan Hezbollah kembali meningkat sejak awal tahun ini dan telah menyebabkan ribuan korban jiwa serta memaksa lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi dari rumah mereka. Berbagai upaya mediasi internasional, termasuk yang dipimpin Amerika Serikat, sejauh ini belum mampu menghentikan sepenuhnya aksi saling serang antara kedua pihak.
Pada saat yang sama, pejabat Amerika Serikat, Israel, dan Lebanon sedang melakukan pembicaraan untuk menghidupkan kembali mekanisme gencatan senjata yang mengharuskan Hezbollah menghentikan serangan terhadap Israel dan menarik pasukannya dari wilayah selatan Sungai Litani, sementara Israel menghentikan operasi militernya di Lebanon. Namun, perkembangan terbaru di lapangan menunjukkan situasi keamanan masih sangat rapuh dan berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas.
Hingga kini, masyarakat internasional terus menyerukan penghentian kekerasan dan perlindungan terhadap warga sipil yang menjadi korban utama dalam konflik berkepanjangan antara Israel dan Lebanon.***


