HomeBeritaRibuan Pasien Gaza Terjebak Menunggu Izin Evakuasi Medis, Sebagian Meninggal

Ribuan Pasien Gaza Terjebak Menunggu Izin Evakuasi Medis, Sebagian Meninggal

KHAN YOUNIS — Ribuan warga Palestina di Jalur Gaza yang telah mengantongi rujukan medis resmi tetap tidak dapat keluar untuk berobat, di tengah penutupan lintas Rafah dan pembatasan evakuasi medis oleh Israel. Sebagian pasien meninggal atau mengalami kerusakan permanen pada kondisi mereka sambil menunggu izin, menurut laporan yang dihimpun pada Kamis (18/6), delapan bulan setelah gencatan senjata berlaku.

Rafa al-Qudra, gadis berusia 15 tahun, kehilangan penglihatannya pada Sabtu lalu sebelum izin keluar dari Gaza diberikan kepadanya. Ia menderita kondisi medis yang sebenarnya dapat diobati, tetapi sektor kesehatan Gaza tidak mampu menyediakan perawatan yang dibutuhkan. Rafa kini tinggal di tempat berlindung beratap nilon di kawasan pesisir al-Mawasi, Khan Younis.

Rujukan Bukan Jaminan

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rujukan medis dari dokter di rumah sakit publik Gaza hanyalah langkah pertama dan tidak menjamin evakuasi keluar wilayah. Persetujuan evakuasi juga bergantung pada ketersediaan perawatan di Gaza, persetujuan Komite Rujukan, persetujuan negara penerima, izin keamanan dari otoritas Israel, serta aksesibilitas lintas perbatasan.

Anak di bawah 18 tahun harus didampingi orang tua atau wali. Jika orang tua tidak dapat ikut, kerabat derajat pertama atau kedua dapat mendampingi dengan persetujuan tertulis. WHO menyatakan tidak ada batas waktu yang pasti untuk proses persetujuan, yang bergantung pada kompleksitas kasus, kelengkapan dokumen, koordinasi antarpihak, dan kondisi keamanan.

Angka yang Terus Bertambah

Jumlah pasien yang menunggu izin keluar berbeda-beda menurut sumber dan tanggal pencatatan. Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan pada awal Juni bahwa jumlah rujukan medis terdokumentasi telah mencapai 17.757 orang per 20 Mei. Wakil Menteri Kesehatan sementara Maher Shamiya, dalam konferensi pers di Kompleks Medis Al-Shifa, memperingatkan angka kematian dapat meningkat di antara pasien yang menunggu perawatan.

Pusat Hak Asasi Manusia Palestina (PCHR) menyebut angka yang lebih tinggi, yakni lebih dari 20.000 pasien yang menghadapi risiko kematian akibat ditolaknya akses ke perawatan medis di luar negeri. Adapun WHO sebelumnya mencatat 7.841 pasien telah dievakuasi dari Gaza antara dimulainya perang pada Oktober 2023 hingga 29 September 2025, dengan sekitar dua pertiga di antaranya dievakuasi sebelum Israel menguasai lintas Rafah pada Mei 2024.

Laporan terpisah dari komunitas kesehatan mencatat kasus-kasus pasien kanker yang meninggal dunia karena tidak memperoleh izin keluar, sementara masuknya obat-obatan tertentu ke Gaza juga dibatasi. Dokter di Gaza menyatakan rusaknya sebagian besar fasilitas kesehatan selama perang membuat banyak kondisi medis tidak dapat ditangani di dalam wilayah.

Pembukaan kembali lintas Rafah secara penuh merupakan bagian dari rencana perdamaian yang menjadi dasar gencatan senjata Oktober 2025. Namun, hingga kini pergerakan orang melalui lintas tersebut masih sangat dibatasi, dan evakuasi medis hanya menjangkau sebagian kecil dari mereka yang membutuhkan.

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler