Gaza – Organisasi kemanusiaan Caritas Jerusalem memperingatkan bahwa krisis air bersih di Jalur Gaza telah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan. Di tengah kehancuran infrastruktur akibat perang yang berkepanjangan, jutaan warga kini kesulitan memperoleh air yang aman untuk dikonsumsi.
Dalam laporannya yang dirilis pada 9 Juni 2026, Caritas Jerusalem menggambarkan kondisi Gaza dengan mengutip penggalan puisi penyair Inggris Samuel Taylor Coleridge, “Air di mana-mana, tetapi tak setetes pun yang layak diminum.”
Meski terletak di pesisir Laut Mediterania, akses terhadap air bersih di Gaza kini menjadi barang langka. Bertahun-tahun kerusakan akibat konflik telah menghancurkan sumur, jaringan pipa, sistem pembuangan limbah, hingga instalasi desalinasi yang sebelumnya menjadi sumber utama penyediaan air bagi masyarakat.
Akibatnya, warga Palestina kini harus berjuang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar. Di berbagai permukiman dan lokasi pengungsian, anak-anak terlihat berjalan jauh sambil membawa jeriken kosong demi mencari air, sementara para orang tua berusaha membagi persediaan air yang sangat terbatas untuk kebutuhan minum, memasak, dan menjaga kebersihan keluarga.
Bagi banyak keluarga, menghitung berapa liter air yang masih dapat digunakan setiap hari telah menjadi bagian dari rutinitas bertahan hidup.
Caritas Jerusalem menjelaskan bahwa kerusakan sistem sanitasi dan instalasi pengolahan limbah telah memperparah pencemaran akuifer pesisir Gaza, yang merupakan sumber utama air tawar di wilayah tersebut. Limbah yang tidak diolah, intrusi air laut, serta puing-puing bangunan membuat kualitas air terus menurun hingga sebagian besar tidak lagi aman untuk dikonsumsi.
Dampak krisis tersebut mulai terlihat dari meningkatnya berbagai penyakit. Tim medis dan organisasi kemanusiaan melaporkan lonjakan kasus diare akut dan hepatitis A, terutama di kalangan keluarga pengungsi yang tinggal di tempat penampungan padat dengan fasilitas sanitasi yang sangat terbatas.
Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan. Penyakit yang disebabkan oleh air tercemar kini bukan lagi kejadian luar biasa, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Selain mengancam kesehatan masyarakat, krisis ini juga berdampak pada sektor pertanian. Banyak lahan pertanian, kebun zaitun, dan kawasan hijau mengalami kerusakan atau hancur akibat perang. Tanah yang sebelumnya mampu menyerap air hujan dan mendukung produksi pangan kini mengalami degradasi, sehingga memperburuk kemampuan alam untuk mengisi kembali cadangan air tanah.
Kondisi tersebut menciptakan lingkaran krisis yang semakin sulit diputus: semakin sedikit air bersih yang tersedia, semakin menurun produksi pangan, dan semakin kecil peluang masyarakat untuk pulih dari dampak perang.
Namun, menurut Caritas Jerusalem, di balik berbagai data dan laporan kemanusiaan terdapat kenyataan yang jauh lebih memilukan. Ribuan keluarga harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan air yang belum tentu tersedia, anak-anak jatuh sakit akibat air yang mereka minum, sementara para orang tua terus berupaya mempertahankan kehidupan yang normal dalam kondisi yang sama sekali tidak normal.
Caritas Jerusalem menegaskan bahwa krisis air di Gaza bukan sekadar persoalan rusaknya infrastruktur. Krisis tersebut juga mencerminkan hilangnya harapan masyarakat bahwa hari esok akan menjadi lebih baik daripada hari ini.
Laporan ini ditulis oleh Harout Bedrossian, Kepala Pengembangan Sumber Daya Caritas Jerusalem, yang menggambarkan kondisi kemanusiaan di Gaza sebagai salah satu tantangan paling mendesak yang membutuhkan perhatian dunia internasional.

