HomeBaitul MaqdisIsrael Lanjutkan Rencana Penjara Berparit Buaya bagi Tahanan Palestina

Israel Lanjutkan Rencana Penjara Berparit Buaya bagi Tahanan Palestina

AL-QUDS – Pemerintahan fasis Israel mencabut status perlindungan buaya Nil saat Ben Gvir mendorong pembangunan kompleks tahanan yang dikelilingi reptil tersebut.

Beberapa pemangku kebijakan di Israel mencabut status perlindungan buaya Nil, membuka jalan bagi usulan pembangunan fasilitas penahanan bagi warga Palestina yang dikelilingi oleh reptil tersebut, demikian dilaporkan media Israel pada Kamis (16/7).

Menteri Perlindungan Lingkungan Israel, Idit Silman, pada Rabu menandatangani sebuah dekret yang mengklasifikasikan kembali buaya Nil sebagai satwa liar yang dikelola secara khusus, sebuah kategori hukum baru yang memungkinkan negara memelihara hewan tersebut untuk kepentingan keamanan, menurut situs berita Israel, Ynet.

Dalam dekret tersebut, Silman mengatakan bahwa aparat keamanan Israel kini dapat memelihara buaya dalam kondisi-kondisi tertentu.

Menurut Ynet, langkah tersebut bertentangan dengan saran penasihat hukum Kementerian Perlindungan Lingkungan serta kelompok-kelompok lingkungan.

Keputusan ini mengikuti tekanan selama berbulan-bulan dari Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, yang pada Desember lalu mengusulkan pembangunan sebuah penjara yang dikelilingi oleh buaya.

Ben Gvir, yang membawahi Dinas Penjara Israel (Israel Prison Service/IPS), mengatakan ia terinspirasi oleh pusat penahanan imigrasi kontroversial di Florida yang dijuluki “Alligator Alcatraz”.

Sebelumnya, para pejabat di Otoritas Alam dan Taman Nasional Israel (Israel Nature and Parks Authority/INPA) berpendapat buaya seharusnya hanya dipelihara untuk tujuan pendidikan dan penelitian.

Penasihat hukum Kementerian Perlindungan Lingkungan, Neta Drori, juga menentang rencana tersebut dengan alasan usulan itu tidak memiliki dasar hukum dan profesional yang memadai.

IPS berpendapat bahwa para petugasnya mampu menangani buaya karena memiliki pengalaman bekerja dengan anjing penyerang, sebuah argumen yang ditolak oleh Drori.

“IPS tampaknya tidak memiliki keahlian dalam memelihara satwa liar berbahaya seperti buaya,” tulisnya, seraya menyimpulkan persyaratan hukum untuk penetapan status tersebut belum terpenuhi.

Meski demikian, Silman tetap menyetujui kebijakan tersebut pada pekan ini.

Ben Gvir merayakan keputusan itu melalui Facebook pada Kamis dengan mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang memperlihatkan dirinya sedang memegang seekor buaya dengan tali penuntun.

“Sialan teroris, berpikir ingin melarikan diri? Pikirkan lagi,” tulis sang menteri.

Sejak genosida di Gaza dimulai pada Oktober 2023, Ben Gvir mengawasi memburuknya kondisi warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel secara tajam, termasuk penyiksaan, kelaparan, dan perlakuan yang merendahkan martabat.

Organisasi-organisasi hak asasi manusia menuduh Israel melakukan pelanggaran secara luas dan menggambarkan sejumlah fasilitas penahanan sebagai “kamp penyiksaan”.

‘Risiko yang signifikan’

Keputusan Silman mendapat penolakan dari Otoritas Alam dan Taman Nasional Israel (INPA) serta kelompok-kelompok lingkungan, yang berpendapat bahwa langkah tersebut melanggar hukum dan membahayakan baik buaya maupun masyarakat.

INPA menyatakan bahwa “tidak ada dasar profesional yang memadai” untuk mengizinkan buaya dipelihara di fasilitas-fasilitas keamanan.

Lembaga yang bertanggung jawab melindungi satwa liar Israel itu memperingatkan memasukkan buaya ke fasilitas IPS akan menciptakan “risiko yang signifikan”, seraya menambahkan bahwa mereka meragukan dinas penjara mampu memberikan perawatan yang layak bagi hewan-hewan tersebut.

Dalam pernyataan bersama, sejumlah organisasi lingkungan mengatakan mereka dengan tegas menolak penggunaan hewan sebagai sarana penjagaan dan pencegahan.

“Buaya adalah makhluk hidup yang memiliki kesadaran, dengan kebutuhan yang kompleks terhadap ruang, air, suhu, dan perilaku alaminya,” kata kelompok-kelompok tersebut, seraya berpendapat penjara seharusnya mengandalkan langkah-langkah keamanan yang konvensional.

Mereka juga mempertanyakan efektivitas usulan tersebut, dengan mencatat, buaya memperlambat laju metabolisme mereka, menjadi sangat lamban, dan berhenti makan selama musim dingin.

“Keamanan harus dicapai melalui cara-cara yang nyata, bukan melalui hewan,” demikian bunyi penutup pernyataan tersebut.

Buaya Nil telah menjadi spesies yang dilindungi di Israel sejak 2013. Sebelumnya, peternakan buaya beroperasi sebagai objek wisata, namun banyak yang kemudian beralih membiakkan buaya untuk diambil kulitnya seiring menurunnya jumlah pengunjung.

Tahun lalu, militer Israel membunuh lebih dari 250 ekor buaya Nil di sebuah peternakan yang berada di permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki, memicu kecaman dari kelompok-kelompok pemerhati kesejahteraan hewan yang menuduh militer telah membantai satwa yang dilindungi.

 

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler