GAZA CITY — Setelah pasukan Muslim menaklukkan Gaza pada musim panas 637 M, kota ini memasuki periode hampir 330 tahun di bawah kekuasaan berturut-turut dinasti Umayyah, Abbasiyah, Tulun, dan Ikhshidiyah — sebelum akhirnya jatuh ke tangan Dinasti Fatimiyah pada 969–970 M. Periode ini jarang dibahas secara khusus dalam historiografi populer Gaza, kalah pamor dari era penaklukan awal maupun era Tentara Salib yang menyusul lebih dari satu abad kemudian.
Namun tiga abad ini menyimpan catatan penting: penurunan status administratif Gaza, kelahiran salah satu ulama fikih paling berpengaruh dalam Islam Sunni, sebuah perang saudara yang dipicu oleh sebutir semangka, dan pergantian kekuasaan yang silih berganti antara Damaskus, Baghdad, dan Kairo.
Kota di Bawah Bayang Ramla
Berbeda dari era Mesir Kuno—ketika Gaza menjadi pusat administratif Kanaan selama tiga abad—status Gaza pada masa Umayyah justru menurun. Sekitar 715 M, gubernur Umayyah Sulayman ibn Abd al-Malik mendirikan kota baru bernama Ramla sebagai ibu kota Jund Filastin, distrik militer yang mencakup Gaza. Ramla menggantikan Lydda sebagai ibu kota distrik ini dan mempertahankan status tersebut selama sekitar 350 tahun hingga penaklukan Tentara Salib pada 1099. Ramla dibangun di persimpangan jalur Via Maris yang menghubungkan Kairo dengan Damaskus, serta jalur yang menghubungkan pelabuhan Jaffa dengan Yerusalem. Wikipedia
Gaza pada masa ini berfungsi sebagai kota distrik biasa (nawahi) di bawah Jund Filastin, bukan pusat kekuasaan. Statusnya berbeda jauh dari kedudukannya di era Mamluk kelak, ketika Gaza kembali menjadi ibu kota Mamlakat Palestina selatan.
Putra Gaza yang Membentuk Fikih Sunni
Fakta yang jarang diketahui publik Indonesia: salah satu dari empat imam mazhab besar Sunni lahir di Gaza. Muhammad ibn Idris al-Syafi’i lahir di Gaza, Palestina, dari klan Quraisy Bani Muththalib, sekitar tahun 767/768 M (150 H). Ayahnya meninggal di wilayah Syam ketika al-Syafi’i masih kanak-kanak, dan ibunya memutuskan pindah ke Mekah saat ia berusia sekitar dua tahun karena khawatir garis keturunan syarifnya terlantar.
Al-Syafi’i kemudian menempuh pendidikan di Mekah dan Madinah, berguru pada Imam Malik ibn Anas, sebelum mengembangkan metodologi hukum Islam yang independen dan menuliskan Al-Risalah — karya pertama yang membahas ushul fikih secara sistematis. Mazhab Syafi’i yang lahir dari pemikirannya kini dianut oleh mayoritas Muslim di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Catatan biografis awal tentang masa kecilnya di Gaza sendiri sangat terbatas, karena keluarganya pindah saat ia masih balita.
Perang Semangka: Gaza Hancur dalam Konflik Antarsuku
Salah satu episode paling ganjil dalam sejarah Gaza abad ke-8 dikenal sebagai “Perang Semangka” (Harb al-Bittikh). Antara 792/793 hingga 796 M, terjadi perang antara konfederasi suku Arab utara Mudhar (Qays) dan konfederasi suku selatan Yaman beserta sekutu Abbasiyah mereka, di wilayah Palestina dan Transyordania. Gubernur Bilad al-Sham saat itu, Ibrahim ibn Salih, sepupu Khalifah al-Mahdi, cenderung memihak suku Yaman dalam perselisihan mereka dengan Mudhar. WikipediaFandom
Menurut riwayat, pemicunya bermula dari insiden kecil: seorang anggota suku Qays yang mencuri semangka dalam perjalanan menuju Jund al-Urdunn. Insiden itu memicu eskalasi kekerasan berskala luas. Biara-biara Kristen di Padang Gurun Yudea turut menjadi sasaran penjarahan, termasuk Biara St. Chariton dan Mar Saba, sebelum Khalifah Harun al-Rasyid mengirim wazirnya, Ja’far al-Barmaki, untuk memulihkan ketertiban. Konflik yang dikenal juga sebagai Perang Qays–Yaman ini menewaskan sekitar 600 hingga 800 orang, di luar korban dari pihak tentara Abbasiyah. Sumber Kristen sezaman mencatat Gaza, bersama Bayt Jibrin dan Askalon, mengalami kehancuran akibat konflik ini — meski penanggalan persisnya, antara 788 dan 796, masih diperdebatkan sejarawan. SubstackWikipedia
Silih Berganti Kekuasaan: Tulun, Abbasiyah, Ikhshidiyah
Memasuki abad ke-9, kendali pusat Abbasiyah atas provinsi-provinsi baratnya melemah. Pada 868 M, seorang perwira Turki bernama Ahmad ibn Tulun tiba di Mesir sebagai wakil gubernur dan secara bertahap membangun kekuasaan yang independen dari Baghdad, mendirikan Dinasti Tulun yang berkuasa atas Mesir dan Suriah hingga 905 M, termasuk Gaza. Di bawah Tulun, wilayah ini mengalami periode stabilitas relatif dengan perbaikan infrastruktur dan toleransi terhadap komunitas Kristen. Encyclopedia Britannica
Kekuasaan Tulun runtuh pada 905 M ketika Abbasiyah merebut kembali kendali langsung. Namun kendali ini kembali melemah, dan sekitar 935–939 M, Muhammad ibn Tughj al-Ikhshid — gubernur Mesir dan Palestina — memperoleh otonomi penuh dan mendirikan Dinasti Ikhshidiyah. Masa ini turut diwarnai ketegangan antaragama; sejumlah sumber mencatat pembakaran Gereja Kebangkitan di Yerusalem pada 937 dan kerusuhan anti-Kristen pada 966.
Kekacauan politik meningkat setelah kematian bupati Ikhshidiyah, Abu al-Misk Kafur, pada 968 M. Memanfaatkan kekosongan kekuasaan ini, panglima Fatimiyah, Jawhar al-Siqilli, menaklukkan Mesir pada 969 M atas nama Khalifah al-Mu’izz, dan pasukan Fatimiyah di bawah Ja’far ibn Fallah segera bergerak menguasai Palestina, termasuk Gaza, pada akhir 969 hingga awal 970 M — mengalahkan penguasa Ikhshidiyah terakhir di Palestina pada Maret 970. WikipediaWikipedia
Gaza di Ambang Era Baru
Potret Gaza tak lama setelah transisi kekuasaan ini terekam dalam catatan geografer Yerusalem, al-Muqaddasi, yang menulis kitab Ahsan al-Taqasim pada 985 M — belasan tahun setelah Fatimiyah berkuasa. Ia menggambarkan Gaza sebagai kota besar di jalan utama menuju Mesir, di tepi gurun, dengan sebuah masjid indah serta monumen untuk mengenang Khalifah Umar. Deskripsi ini menjadi salah satu bukti tertulis tertua tentang wujud fisik kota pada penghujung periode yang dibahas dalam artikel ini. Kiddle
Tiga abad antara penaklukan awal dan kedatangan Fatimiyah bukanlah era kegemilangan bagi Gaza — kota ini kehilangan status administratifnya kepada Ramla, sempat hancur dalam perang saudara antarsuku, dan berpindah tangan setidaknya empat kali antara kekuasaan pusat dan dinasti-dinasti otonom. Namun dari kondisi itu pula lahir salah satu tokoh intelektual paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Pola silih berganti kekuasaan dan kehancuran-pembangunan-kembali ini akan terus berulang dalam sejarah Gaza selanjutnya, dari era Tentara Salib hingga masa kini.


