GAZA CITY — Dinasti Fatimiyah, kekhalifahan Syiah Ismailiyah yang berbasis di Kairo, menguasai Gaza selama hampir dua abad — dari sekitar 909 M hingga jatuhnya kota itu ke tangan Tentara Salib pada 1099. Periode ini ditandai kontradiksi mencolok: kota yang tetap teguh Sunni justru berada di bawah kekhalifahan Syiah, sementara stabilitas politiknya berulang kali terganggu perang saudara, invasi Badui, dan akhirnya serbuan Turki Seljuk.
AWAL EKSPANSI FATIMIYAH KE PALESTINA
Dinasti Fatimiyah didirikan di Tunisia pada 909 M oleh Ubaidillah al-Mahdi, yang mengklaim garis keturunan dari Fatimah, putri Nabi Muhammad. Setelah menaklukkan Mesir pada 969 M dan mendirikan Kairo sebagai ibu kota, Fatimiyah mulai memperluas kekuasaan ke Palestina, menggantikan kendali Dinasti Ikhshidiyah yang sebelumnya menguasai wilayah tersebut.
Kedatangan Fatimiyah menandai awal enam dekade peperangan yang nyaris tanpa henti dan sangat merusak di Palestina, melawan Bizantium, kaum Qarmatian, suku-suku Badui, hingga konflik internal antara faksi Berber dan Turki dalam tubuh militer Fatimiyah sendiri. Gaza, sebagai kota pesisir strategis di jalur antara Mesir dan Syam, tidak lepas dari ketidakstabilan regional ini meski catatan kerusakan spesifik terhadap kota tersebut pada periode awal ini minim. Wikipedia
Salah satu ancaman paling serius datang dari kaum Qarmatian, kelompok Syiah Ismailiyah radikal dari Bahrain yang menolak legitimasi Fatimiyah. Pada 971, pasukan Qarmatian di bawah al-Hasan al-A’sam berhasil menjarah kota Ramla setelah komandan bala bantuan Fatimiyah memilih mundur ke Jaffa, sebelum akhirnya dipukul mundur dari gerbang Kairo. Konflik semacam ini terus berulang hingga akhir abad ke-10, dengan suku Badui Jarrahid turut merebut kendali de facto atas sebagian besar Palestina dalam beberapa periode terpisah. Wikipedia
KOTA SUNNI DI BAWAH KEKHALIFAHAN SYIAH
Meski berada di bawah kekuasaan politik Fatimiyah, Gaza tidak pernah beralih menjadi basis doktrin Syiah Ismailiyah. Menurut sejarawan Jean-Pierre Filiu dalam Gaza: A History, para pejabat Fatimiyah dari Kairo tidak melakukan upaya penyebaran ajaran Syiah di Gaza — kota itu tetap teguh menganut mazhab Sunni sepanjang era ini.
Toleransi relatif ini tercermin dalam kehidupan ekonomi kota. Filiu mencatat bahwa kekuasaan Fatimiyah tidak mengganggu arus reguler kafilah dagang dari Mesir menuju Syam, dan Masjid Umar — yang menurut catatan geografer al-Muqaddasi ramai dikunjungi para pedagang yang terpikat kisah Khalifah Umar, yang disebut telah membangun kekayaannya di Gaza sebelum memeluk Islam.
Pada penghujung abad ke-10, al-Muqaddasi mencatat Gaza sebagai salah satu kota terbesar di Palestina, hanya tertandingi oleh Ramla yang berstatus ibu kota provinsi saat itu. Ibn Hawqal, geografer sezamannya, turut menyebut Gaza sebagai kota yang indah dan sangat makmur — gambaran yang menunjukkan kota ini tetap mempertahankan vitalitas ekonominya di tengah gejolak politik regional.
MASA AL-HAKIM DAN GEMPA BUMI ABAD KE-11
Era kekuasaan Khalifah al-Hakim bi-Amr Allah (996–1021) dikenal sebagai salah satu periode paling keras dalam sejarah Fatimiyah, khususnya terhadap komunitas non-Muslim. Al-Hakim mengaktifkan kembali sejumlah aturan diskriminatif terhadap umat Kristen dan Yahudi, bahkan menambahkan aturan-aturan baru yang lebih keras, termasuk perintah penghancuran gereja dan sinagoge di seluruh wilayah kekhalifahan pada 1009 — kebijakan yang turut menghancurkan Gereja Makam Suci di Yerusalem. Sejauh mana kebijakan ini berdampak langsung pada komunitas Kristen di Gaza sendiri tidak tercatat secara spesifik dalam sumber-sumber yang tersedia. Encyclopedia Britannica
Palestina turut dilanda serangkaian gempa bumi besar sepanjang abad ke-11 — pada 1015, 1033, dan 1068. Gempa 1033 merusak kubah Masjid al-Aqsa di Yerusalem hingga harus diperbaiki atas perintah Khalifah az-Zahir pada 1035, sementara gempa 1068 dilaporkan meluluhlantakkan Ramla dan menewaskan sekitar 15.000 penduduknya. Catatan mengenai dampak spesifik gempa-gempa ini terhadap Gaza belum ditemukan dalam riset ini, sehingga tidak dapat dipastikan seberapa besar kota itu terdampak.
INVASI TURKI SELJUK DAN AKHIR KEKUASAAN FATIMIYAH
Stabilitas Fatimiyah di Palestina runtuh pada 1071, ketika seorang panglima Turkoman bernama Atsiz ibn Uwaq — bekas tentara bayaran Fatimiyah sendiri — merebut Yerusalem dan mendirikan kekuasaan independen di Palestina serta Suriah selatan. Ia melanjutkan penaklukan Damaskus pada 1076, sebelum akhirnya dipukul mundur oleh vizir Fatimiyah, Badr al-Jamali, pada Februari 1077.
Kekalahan Atsiz memicu pemberontakan di Yerusalem, yang ia tumpas dengan kekerasan — termasuk pembantaian penduduk yang sebelumnya telah dijanjikan pengampunan. Sejumlah sumber sekunder turut mencatat kehancuran di Gaza, Ramla, dan Jaffa akibat gejolak militer pada periode ini, meski detail spesifik mengenai skala kerusakan Gaza masih memerlukan verifikasi lebih lanjut dari sumber primer.
Setelah kekalahan Atsiz, Badr al-Jamali melancarkan serangan balasan untuk mengamankan kembali kota-kota pesisir seperti Gaza dan Ashkelon, mengembalikannya ke bawah kendali Fatimiyah — kemenangan yang ternyata hanya bersifat sementara. Pada 1099, Tentara Salib tiba di Gaza dan menemukan kota tersebut kosong, sebagaimana telah diulas dalam kolom sejarah sebelumnya, menandai berakhirnya hampir dua abad kekuasaan Fatimiyah atas kota ini. Wikipedia
WARISAN YANG TERTINGGAL
Era Fatimiyah meninggalkan jejak yang samar secara fisik di Gaza — sebagian besar kehancurannya justru datang dari perang dan gempa bumi, bukan dari kebijakan penguasa Fatimiyah sendiri. Yang bertahan adalah pola yang akan terus berulang dalam sejarah kota ini: Gaza sebagai wilayah pinggiran yang strategis, diperebutkan kekuatan-kekuatan besar demi posisinya di jalur Mesir–Syam, namun tetap mempertahankan identitas keagamaan dan sosialnya sendiri di tengah pergantian kekuasaan di atasnya.


