Lebanon Selatan – Intensitas pertempuran di wilayah sekitar Tell Ali al-Taher terus meningkat. Berdasarkan data yang beredar hingga Sabtu (20/6) ini, lebih dari 800 serangan yang mencakup serangan udara, tembakan artileri, dan operasi militer lainnya dilaporkan terjadi sejak kemarin pagi di sejumlah kota dan desa di sekitar kawasan tersebut.
Sementara itu, media berbahasa Ibrani melaporkan bahwa satu tentara Israel tewas dan sedikitnya tujuh lainnya terluka akibat serangan yang diklaim dilakukan oleh Hizbullah pada malam hari di kawasan Ali Taher, Lebanon Selatan.
Menurut laporan Reuters dan Al Jazeera, militer Israel masih melakukan serangan udara dan operasi terbatas di Lebanon Selatan dengan alasan menargetkan anggota serta infrastruktur Hizbullah yang dianggap melanggar ketentuan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada akhir 2025.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah serangan drone dan jet tempur Israel dilaporkan menghantam wilayah Nabatieh, Bint Jbeil, dan distrik Tyre. Israel mengklaim serangan tersebut ditujukan kepada komandan lapangan dan gudang persenjataan Hizbullah.
Pejabat Hizbullah dan pemerintah Lebanon menuduh Israel melakukan pelanggaran berulang terhadap kesepakatan gencatan senjata. Menurut laporan Al Jazeera dan The Guardian, Lebanon telah menyampaikan sejumlah pengaduan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait serangan udara dan aktivitas pesawat tanpa awak Israel di wilayahnya.
Hizbullah menyatakan tetap mempertahankan kemampuan militernya dan menegaskan perlawanan terhadap Israel akan terus berlangsung selama pendudukan dan serangan terhadap Lebanon maupun Palestina masih terjadi.
Pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) terus meningkatkan patroli di sepanjang Garis Biru (Blue Line), perbatasan de facto antara Lebanon dan Israel.
Menurut laporan Reuters, UNIFIL menyampaikan kekhawatiran bahwa insiden kecil berpotensi berkembang menjadi konflik yang lebih luas apabila kedua pihak tidak menunjukkan komitmen terhadap deeskalasi.
Laporan The Guardian dan Al Jazeera menyebutkan ribuan warga Lebanon yang sempat mengungsi akibat perang 2024–2025 telah kembali ke desa-desa mereka. Namun banyak wilayah masih mengalami kerusakan berat pada rumah, jaringan listrik, fasilitas kesehatan, dan lahan pertanian.
Organisasi kemanusiaan internasional memperingatkan bahwa proses pemulihan berjalan lambat karena keterbatasan dana serta ketidakpastian keamanan.
Analis yang diwawancarai Reuters dan BBC menilai ketegangan Israel-Hizbullah masih menjadi salah satu titik paling berbahaya di Timur Tengah. Konflik tersebut memiliki potensi melibatkan aktor regional lain, terutama ketika ketegangan Israel dengan Iran meningkat.
Meski belum terjadi perang skala penuh seperti pada 2006 atau eskalasi besar tahun 2024, situasi di Lebanon Selatan dinilai tetap sangat rentan terhadap salah perhitungan militer yang dapat memicu pertempuran lebih luas.

