Badan-badan intelijen Amerika Serikat peringatkan pemerintahan Presiden Donald Trump bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemungkinan akan mengambil langkah-langkah yang dapat menghambat upaya Washington untuk mencapai kesepakatan damai jangka panjang dengan Iran.
Dilansir dari Middle East Monitor, mengutip pejabat AS saat ini dan mantan pejabat yang mengetahui hasil penilaian intelijen, The Washington Post melaporkan pada Jumat (19/6) bahwa Israel tampaknya bertekad melanjutkan operasi militernya terhadap Hizbullah di Lebanon, meskipun nota kesepahaman terbaru antara Amerika Serikat dan Iran menyerukan penghentian operasi militer di seluruh front konflik, termasuk Lebanon.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada The Washington Post bahwa bahkan tanpa eskalasi lebih lanjut, penolakan Israel untuk menarik pasukannya dari wilayah Lebanon selatan berpotensi menggagalkan kesepakatan yang masih rapuh tersebut.
“Terus menduduki sebagian wilayah Lebanon adalah resep menuju bencana,” kata pejabat itu. “Tanpa penarikan penuh pasukan Israel, kemungkinan kembalinya permusuhan antara militer Israel dan Hizbullah hampir pasti terjadi.”
Sebelumnya, Israel dan Hizbullah dilaporkan telah menyepakati gencatan senjata yang mulai berlaku pada Jumat pukul 16.00 waktu setempat (13.00 GMT), menurut seorang pejabat Amerika Serikat yang dikutip Anadolu Agency.
Wakil Presiden AS, JD Vance pada Kamis (18/6) juga memperingatkan Israel agar tidak menjauhkan diri dari “satu-satunya sekutu kuatnya”. Ia menegaskan bahwa Presiden Trump saat ini merupakan satu-satunya pemimpin dunia yang masih menunjukkan simpati terhadap Israel.
“Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang bersimpati kepada negara Israel saat ini,” ujar Vance.
Di tengah upaya diplomasi tersebut, serangan militer Israel di Lebanon masih terus berlanjut. Pada Jumat, sedikitnya 31 orang tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam serangkaian serangan Israel di wilayah Lebanon selatan dan timur, menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (National News Agency).
Berdasarkan data resmi terbaru, ofensif militer Israel di Lebanon yang dimulai pada 2 Maret 2026 telah menyebabkan 3.912 orang tewas, 11.873 orang terluka, serta memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi dari tempat tinggal mereka.
Laporan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran Washington bahwa kebijakan militer Israel di Lebanon dapat merusak upaya diplomatik Amerika Serikat untuk menstabilkan kawasan dan mempertahankan kesepakatan yang baru dicapai dengan Iran.

